Kolom

Memaknai Good Judgment, Oleh: Prof Hanna

Prof Hanna


KENDARIPOS.CO.ID — Thomas Alfa Edison pernah berkata: “Di dunia ini hanya lima persen manusia yang benar-benar pemikir (pemikir sejati). Sepuluh persen lainnya sadar dirinya harus berpikir. Sedang sisanya, merasa lebih baik mati dari pada disuruh berpikir”. Artinya, mayoritas manusia (85%) menjadi tanggung jawab minoritas (15%), dan tanggung jawab terbesar adalah pemikir sejati (5%).

Untuk saat ini, mungkin presentase pemikir sejati lebih tinggi lagi. Bisa 20% atau lebih bisa dilihat dari perkembangan pemikiran dan peradaban bangsa Amerika. Ada lima golongan orang di dunia ini. Pertama, orang yang selalu menyalahkan orang lain. Ini termasuk golongan orang yang belum belajar. Kedua, orang menyalahkan dirinya sendiri. Ini termasuk golongan orang yang sedang belajar.

Ketiga, orang tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini termasuk golongan orang terpelajar. Keempat, orang yang selalu menyalahkan tanpa memberi solusi. Ini tipe orang kurang ajar, dan terakhir suka menyalahkan dan memberi solusi. Merekalah orang pembelajar (guru).
Manusia dengan berbagai karakternya, terkadang selalu ingin benar, walaupun salah. Tidak mengenal dirinya sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi satu sama lain. Pertanyaannya, mengapa manusia selalu ingin benar walaupun salah?

Sebagai ilustrasi. Mari cermati kisah berikut. Di suatu perkebunan kopi yang luas milik seorang juragan ternama, ditemukan sebuah jebakan. Ditanam salah seorang pekerja kopi. Ini dibuat agar kalau ada pencuri bisa ketangkap. Suatu waktu, sang juragan (pemilik perkebunan kopi) datang memeriksa kebun kopi itu. Lalu, terkena jebakan. Maka gemparlah perkampungan tersebut. Dilakukanlah investigasi besar-besaran. Untuk mengetahui siapa pelaku yang menjerat sang juragan. Setelah diselidiki, kecurigaan mengarah pada anak si juragan kopi.

Untuk mencari bukti, penyidik menggeledah kamar si anak juragan. Namun, mereka tidak menemukan apa pun. Tapi tidak ditemukannya bukti, malah dianggap sebagai bukti betapa liciknya si anak juragan. Tidak hanya dianggap berkhianat, dia juga dengan sengaja menghilangkan semua bukti.

Bukan hanya menggeledah kamarnya, penyidik juga melakukan wawancara kepada teman-temannya. Dari informasi temannya, ternyata dia memang sangat piawai dalam bergaul dan bersosialisasi. Kebaikan sosial itu menambah kecurigaan penyidik padanya. Bahwa dia sangat terampil bergaul untuk mengumpul massa. Sehingga, nanti bisa melakukan kejahatan terhadap orang tuanya.

Dengan bukti yang terkesan dipaksakan, si anak juragan diajukan ke pengadilan. Dia dinyatakan bersalah. Kemudian, dipermalukan dihadapan masyarakat, dan teman-temannya. Seluruh fasilitas yang diberikan ayahnya juga diambil. Sehingga, terjadilah apa yang dimaksud dengan “Degradation “. Saat dinyatakan bersalah itu, si anak juragan bersumpah kalau dirinya tak pernah melakukan perbuatan itu. Tapi semua orang sudah tidak peduli dengannya. Masyarakat sudah mencibir dan hilanglah kepercayaan padanya.

Pertanyaanya, mengapa hakim dan penguasa waktu itu, begitu yakin dia bersalah? Dugaan jebakan terhadap anak juragan muncul dari beberapa kelompok masyarakat. Namun di lain pihak ada juga yang menolaknya. Anak juragan ini masuk dalam kategori korban dari sebuah fenomena yang disebut “Motivated Reasoning”. Yakni suatu perilaku judgmen penalaran yang tampak sangat logis dan rasional. Padahal semua itu hanyalah upaya mencari “Pembenaran” atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya.

Tentu saja perlu dipahami, kalau sudah yakin berada pada posisi pro orang tertentu, atau sudah telanjur tidak menyukai, maka orang itu mengalami “motivated reasoning”. Dengan dalil papaun, dengan teori apapun yang masuk dalam pikirannya adalah musuh atau ketidaksukaan pada orang itu. Sehingga perilaku kebenaran tetap disalahkan. Mengapa terjadi? Ini disebabkan, otak yang selalu menemukan alasan rasional terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan kita. Demikian juga jika sepaham dan segaris maka otakpun mampu menemukan alasan rasional atas kesepahaman itu. Kata orang bijak, kalau hati sudah dikuasai cinta atau benci, maka akan cenderung meyakini kebenaran segala pendapat yang mendukung opininya. Para psikolog menyebut fenomena ini “kesesatan pikir”.

Good judgment tidak dapat diukur dengan gelar apapun, atau IQ berapapun. Tapi dapat diukur dari seberapa kita merasakan getaran jiwa kebenaran dalam menyikapi seusatu. Tentu melalui beberapa cara, antara lain, Curiosity, Open-Mind dan Open-Heart, grounded, dan Humbleness. Lihatlah dunia dengan mata hati, bukan subjektivitas. Kebenaranlah yang harus diikuti dalam hidup. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy