Konawe Utara

Kondisi Daerah Terisolasi Akibat Banjir di Konut : Listrik Putus, Warga Kekurangan Logistik

KENDARIPOS.CO.ID — Banjir bandang susulan meluluhlantahkan akses transportasi darat di lima kecamatan di Konawe Utara (Konut). Yakni di Kecamatan Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, Wiwirano, dan Andowia. Akses darat terputus. Masyarakat terisolasi. Bantuan logistik hanya bisa disalurkan lewat udara dan sungai.

Kecamatan Asera

Helmin, Konawe Utara

Deru baling-baling Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meraung-raung di atas Kecamatan Oheo, kemarin. Ada Bupati Konut, Ruksamin dan Reporter Kendari Pos, Helmin di dalamnya. Saat mendarat, Ruksamin langsung bergegas. Dia membantu petugas menurunkan logistik. Orang nomor satu di Konut ini turun tangan langsung. Dia tidak ingin ada warganya kelaparan akibat banjir. Sebab, daerah itu sudah terisolasi. Tidak bisa didatangi lewat jalur darat. Bahkan, untuk jalur sungai juga masih sulit diakses. Sebab, arus sungai Lasolo masih sangat deras dan berbahaya jika dipaksakan.

Kontributor Kendari Pos Konut, Helmin berkesempatan mengikuti penyaluran logistik di Kecamatan Oheo bersama dengan Bupati Konut, Ruksamin. Perjalan udara dari ibu kota kabupaten, Wanggudu menuju Desa Mopute, Kecamatan Oheo hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Helikopter yang membawa muatan logistik berupa mie instan, beras, air mineral dan bahan sembako lainnya mendarat di lapangan sepakbola Desa Mopute, Kecamatan Oheo.

Warga yang sudah stay di lokasi pengungsian langsung berebut logistik yang diserahkan langsung Bupati Konut, Ruksamin. “Saya terus memikirkan kalian semua. Masalah harta, rumah dan lainnya nanti kita pikirkan. Jadi tolong sabar, yang penting selamat dulu,” kata Ruksamin saat memberikan semangat pada warga Kecamatan Oheo. Ruksamin turun tangan mendistribusikan logistik di Kecamatan Oheo. Akses menuju daerah ini terputus. Sehingga, transportasi darat menuju Kecamatan Asera, Oheo, Langgikima, Landawe dan Wiwirano tak bisa dilalui. Ruksamin bergerak cepat dibantu TNI/Polri, Basarnas, BNPB, BPBD Konut. Satu unit helikopter milik BNPB standby di halaman kantor Bupati Konut. Penyaluran logistik menuju kecamatan yang terisolasi itu mulai dilakukan sejak Senin (10/6) sampai sekarang.

Sementara itu, Warga Desa Mopute Kecamatan Oheo, Abd Rasyid sangat bersyukur dengan adanya logistik yang diturunkan pemerintah daerah. “Terima kasih pak bupati, pemimpin seperti ini yang kita inginkan, selalu melihat warganya yang kena musibah,”ujarnya dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk Bupati Konut, Ruksamin.

Warga Desa Mopute dan desa lainnya di Kecamatan Oheo yang terkena dampak banjir, memilih mengungsi di rumah keluarga yang kediamannya tak direndam air. Sementara warga lainya tinggal ditenda pengungsian maupun mengisi sekolah dan masjid yang tak ikut terendam banjir. “Ada 10 KK di sini yang mengungsi di masjid. Kalau warga saya yang terkena banjir rumahnya ada 30 KK. Tapi sebagian warga yang rumahnya sudah surut airnya sudah melakukan pembersihan,” kata Kepala Desa Horoe Kecamatan Oheo, Israjudin yang ditemui di lokasi pengungsian.

Rumah sang Kades juga menjadi korban banjir. Ketinggian air yang merendam rumah Kades Horoe setinggi 3 meter. Begitupun dengan warga lainnya. Kini kendala yang dihadapi korban banjir di lima kecamatan yang sulit diakses lewat darat yakni minimnya pasokan Gas LPG 3 kg dan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dan pertalite.

Warga Kecamatan Oheo yang menjadi korban banjir meminta agar pemerintah daerah menyalurkan BBM dan LPG.
“Kebutuhan gas dan bensin sudah mulai menipis. Sejak empat hari banjir, pasokan gas dan bensin di sini sudah tidak ada,” ungkap Rasyid, warga Desa Mopute, Kecamatan Oheo yang ditemui diposko SD 4 Oheo Kecamatan Oheo. Sementara itu, Kepala Desa Mopute, Tari Ahmad menuturkan pasokan Gas dan BBM sangat penting bagi warganya. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan memasak warga harus menggunakan gas. Sementara untuk kayu bakar semua kondisinya sudah terbawa banjir dan kayu yang akan digunakan masih basah.

Warga yang terisolasi di Konawe Utara.

“Bensin ini untuk membangkitkan penerangan menggunakan genset. Karena lampu dari PLN sudah lima hari terputus,” ujar Kepala Desa Mopute, Tari Ahmad. Penerangan listrik di Kecamatan Oheo sejak Minggu terputus hingga saat ini. Suasana kesunyian dan gelap gulita sangat dirasakan. Bahkan stok bensin yang dimiliki harus diiritkan untuk memenuhi daya genset dimasjid yang menjadi lokasi pengungsian.

Untuk ketersediaan pasokan makanan, warga hanya mengandalkan mie instan untuk kebutuhan makanan. Disepanjang jalan trans Sulawesi di Kecamatan Oheo pemandangan pincara akan terlihat. Mulai dari Kecamatan Wiwirano, Langgikima, Landawe dan Oheo terdapat 18 titik lokasi pincara (penyebrangan) yang harus dilalui. Warga luar Konutpun yang melintas disepanjang ruas jalan trans Sulawesi harus membayar jasa penyebrangan. Sekali menyeberang variatif. Mulai dari Rp 50 ribu sampai 150 ribu. Semua tergantung panjang dan ketinggian air. “Kita lihat sendiri kondisinya, aktivitas warga hanya sibuk membersihkan rumah dari lumpur. Sebagian warga sibuk urus pincara penyeberangan,” kata Arifin warga Desa Wiwirano Kecamatan Oheo. (b/*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy