Sudah Banyak Contoh, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Sudah Banyak Contoh, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Dia marah dengan para anggota PPS, PPK, dan KPU. Percuma banyak teman di lembaga itu, tapi tak satupun yang bisa membantu mendongkrak suara. Dia gagal jadi anggota legislatif. Pada saat itu, ia berkesimpulan: teman-teman di KPU gagal merebut kesempatan emas untuk dirinya. Saat itu, dia marah. Dia kecewa.

Tak lama berselang, waktu kegagalannya ternyata menjadi waktu penting bagi orang lain dalam penyusunan skenario buat kamu dalam merebut jabatan yang lebih terhormat dari sekadar jabatan di legislatif. Alhasil: dia jadi kepala daerah. Artinya, tempo dimana peluang emas untuk merebut posisi anggota DPRD gagal diwujudkan. Ternyata Allah berkehendak lain ke posisi yang lebih terhormat lagi: kepala daerah. Artinya bahwa, jika kamu masih memiliki waktu untuk berkarier, masih diberi umur, maka kesimpulanmu belum sekarang. Jangan simpulkan sekarang. Ini contoh satu.

Mohon maaf jika mengena Anda, karena yang saya maksud bukan Anda. Kira-kira dia marah besar dengan para anggota KPU yang mengganjalnya di acara lotere bola pimpong pencabutan nomor urut calon kepala daerah. Dia gagal jadi calon kepala daerah. Anggapanmu, kamu digagalkan oleh anggota dan Ketua KPU serta Sekretaris KPU. Walau terlihat tenang, tapi ketika itu kamu tak bisa menyembunyikan muka marah, berang, kecewa. Pada saat itu, kamu berkesimpulan: begitu jahatnya anggota dan ketua KPU tidak meloloskan saya sebagai calon kepala daerah.

Saat itu, dia kecewa. Satu periode berselang, waktu kegagalannya ternyata menjadi waktu penting bagi kamu untuk menyusun strategi simple dan murah dalam merebut jabatan yang lebih terhormat dari sekadar jabatan lain di daerah. Alhasil: dia jadi kepala daerah. Artinya, tempo dimana peluang emas untuk merebut posisi terhormat gagal diwujudkan, ternyata Allah berkehendak lain. Tempo itu kamu tak diberi peluang untuk menjadi kepala daerah. Bahkan Allah mempertontonkan kegagalanmu. Tapi jangan lupa, di saat yang sama, Allah juga menskenario agar kamu bisa terpilih dengan mudah di Pilkada berikutnya.

Artinya bahwa, jika kamu masih memiliki waktu untuk berkarier, masih diberi umur, maka kesimpulanmu bukan saat itu. Jangan simpulkan saat kegagalanmu dulu. Dan, jangan juga kamu memberi kesimpulan sekarang karena siapa mungkin Allah masih memiliki rencana lanjutan. Ini contoh dua. Mohon maaf jika mengena Anda, karena yang saya maksud bukan Anda.

Dua contoh yang saya sebutkan di atas, mudah-mudahan merasuki alam berpikir pada kontestan Pemilu serentak, khususnya para Caleg. Maksud saya begini: Yang terpilih jangan larut dalam kesenangan jabatan. Yang gagal, jangan larut dalam kekecawaan. Ndak perlu kecewa, apalagi depresi, lebih-lebih stress. Jangan. Kenapa? Dengar ndak berita penjual galon yang jadi anggota dewan? Dulu kamu jelatakan dia, sekarang ia posisi terhormat. Dengar ndak berita Menteri, Ketua DPR-RI, gubernur masuk penjara? Dulu mereka terhormat, sekarang perasaan mereka terpenjara. Dua contoh ini pun jangan memberi kesimpulan sekarang.

Kenapa? Pernah ndak baca biografi Xanana Gusmao? Ditangkap dan dipenjarakan karena kasus pemberontakan Timor Timur. Tidak lama kemudian ia terpilih sebagai Perdana Menteri, Timor Leste. Artinya, gagal dan terpenjara sekalipun, jangan divonis sebagai kesimpulan akhir, karena skerio Allah tak ada yang tahu. Bisa jadi, Allah akan menghinakan kamu, lalu terhormat, terhina lagi dan terhormat lagi. Ya, bisa jadi jika ahlak dan perangai kepemimpinanmu baik.

Tapi, manakala model kepemimpinanmu ternyata melahirkan penderitaan tidak langsung bagi masyarakat maka boleh jadi Allah akan membuat kamu begini: dikasi jabatan terhormat, setelah itu dibuat ngkahona-hona (keliling dari timur ke barat, pulang lagi ke timur tanpa tujuan, kadang-kadang juga belok ke utara).

Demikianlah cerita yang bisa mengingatkan anggota dewan terpilih sekaligus menyemangat anggota dewan incumbent yang gagal. Bahwa, kesimpulan belum sekarang. Yakinlah, rencana Allah yang terbaik. Dengan catatan, kamu juga ingat dan harus dekat dengan Allah. Jika kamu jauh dari Allah, maka yakinlah, jin dan syetan yang menskenariomu. Sengaja dikait-kaitkan cerita Pemilu, Caleg dikaitkan dengan menyebut nama Allah karena ini suasana puasa. (nebansi@yahoo.com)

Penulis: La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top