Politik

Quick Count Bukan untuk Penggiringan Suara

Terkait Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) Komisi Pemilihan Umum (KPU), mantan anggota KPU ini menjelaskan, konsep Situng KPU adalah konsep yang dibuat tahun 2004. “Saat itu pada hari pertama pencoblosan, saat saya meninggalkan kantor pada pukul 02.00 WIB, data yang sudah masuk ada 260.000-an TPS. Kemudian hari kedua 500.000 TPS. Sehingga pada saat itu ada lembaga survei yang melakukan quick count dengan sample 1.619 TPS, mereka tidak bisa apa-apa,” kata Chusnul.

Menurut dia, KPU saat itu menyampaikan juga data tersebut ke kantor berita Antara, RRI, dan TVRI. Saat itu KPU agak berantem sedikit dengan TV-TV swasta. Kenapa? Karena KPU kasih data itu ke mereka, tapi oleh TV-TV swasta dijual. “Saya tidak mau. Makanya harus membuat pernyataan bahwa rakyat bebas untuk mendapatkan data itu. Saat itu kami berpusat di hotel Borobudur, yakni pusat Tabulasi Nasional Pemilu (TNP). Semua, siapa pun rakyat bisa datang dan melihat ke sana,” terang Chusnul.

Kata dosen FISIP UI ini, ada contoh lain yakni, di Prancis. Dimana quick count dilaksanakan oleh KPU di setiap TPS. Jadi setiap 200 pemilih pertama yang memilih di TPS, hasilnya dikirimkan ke KPU. Selanjutnya, pada pukul 8 pagi, ketika 200 pemilih di tiap TPS selesai memilih maka hasilnya diumumkan oleh KPU. Itupun hasilnya diumumkan cukup sekali saja bukan berlarut-larut seperti yang ditayangkan di sejumlah TV kemarin. “Jadi kalau yang dilakukan quick count dengan maksud penggiringan suara, pada pemilu 2004 dulu tidak laku,” kata Chusnul.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy