Konawe Kepulauan

Wa Hila, Wanita 52 Tahun asal Wawonii Barat, Demi Sesuap Nasi, Bertaruh Nyawa di Laut Lepas

KENDARIPOS.CO.ID — Usianya tidak muda lagi. Sekira 52 tahun. Namun, semangat Kartini mengalir dalam darahnya. Dialah Wa Hilla, wanita tangguh asal Wawonii, Konawe Kepulauan (Konkep). Demi sesuap nasi dan membiayai sekolah enam anaknya, dia rela bertaruh nyawa mencari nafkah di lautan. Dera kemiskinan yang melanda, tak membuat pemerintah setempat tersentuh untuk membantu.

Wa Hila (duduk, dua dari kanan) didampingi suami dan tetangganya berbincang dengan reporter Kendari Pos, Mursalin (kanan) di kediamannya.

Mursalin, Langara

Jarum jam di dinding rumah Wa Hila menunjukkan pukul 15.00 Wita. Dia mulai bergegas. Menyiapkan peralatan tangkapnya. Pukat. panjangnya 150 meter. Begitu telaten. Dia membersihkan kotoran yang melengket di jaring. Sambil menunggu matahari terbenam. Setelah itu pergi melaut. Sendirian. Lambaian tangan anak-anaknya menjadi penyemangat wanita asal Desa Pasir Putih, Kecamatan Wawonii Barat. Di malam yang gelap di tengah laut, dia hanya ditemani sebuah lentera, ember hitam, jaring, dan seutas tali. Dengan perasaan was-was, dia mengayung perahunya masuk jauh ke tengah laut. “Kalau saya tidak melaut, kami mau makan apa? Siapa yang mau bayar sekolah anak-anak? Suami juga cari nafkah lewat pengobatan tradisional. Tapi tidak mungkin hanya mengharapkan dari suami,” cerita Wa Hilla saat ditemui di kediamannya sesaat sebelum pergi melaut.

Dalam sehari, wanita berambut panjang itu, bisa meraup Rp 70-100 ribu dari hasil tangkapannya. Kalau cuaca sedang bagus, hasil tangkapan Wa Hila bisa mencapai harga Rp 100 ribu, jika cuaca kurang bersahabat hanya bisa sampai Rp 70 ribu. “Begitulah perjuangan hidup,” ucapnya. Wa Hila terpaksa bekerja, bertaruh nyawa di lautan karena hanya itu yang bisa dilakukannya. Bagi Wa Hila, tidak ada jalan lain untuk mencari sesuap nasi dan membiayai sekolah anak-anaknya, selain bertaruh nyawa di laut. Apalagi, tahun ini anaknya yang nomor 5 sudah masuk perguruan tinggi. Ditambah lagi, suaminya sering ke luar daerah, sehingga tanggung jawab untuk dapat makan ada pada dirinya. “Kalau tidak melaut, bagaimana bisa dapat makan,” ujarnya.

Wa Hila berkisah tentang bagaimana dia bertaruh nyawa saat melaut. Di suatu malam yang pekat, saat memasang pukat di perairan Wawonii, tidak jauh dari Desa Tumbu-Tumbu, Kecamatan Wawonii Tengah, perahu yang dia gunakan terseret arus. Parahnya kala itu, dia sempat terlelap sehingga tidak sadar perahunya terseret arus. Untungnya, dia cepat sadar sehingga tidak sempat terbalik perahunya. “Sudah sering saya terbawa arus, saat tidur di perahu. Ketika bangun, saya baru sadar sudah jauh dari lokasi tempat pasang pukat,” katanya. Sejauh ini, Wa Hila mengaku belum tersentuh batuan pemerintah kabupaten maupun pemerintah desa. Ia hanya mengandalkan perahu milik tetangganya yang sedang terparkir di tepi pantai. “Saya tidak pernah juga terima bantuan perikanan. Itu hari ada bantuan, tapi lewat-lewat saja,” cerita Wa Hila dengan nada sedih.

Memang sudah beberapa tahun ini aktivitas itu dilakoninya. Petang pergi melaut. Nanti pulang saat fajar menyingsing. Itupun juga bukan perahunya. Wanita asal Desa Pasir Putih, Kecamatan Wawonii Barat, Konkep ini hanya bermodalkan sampan (perahu kayu) milik tetangganya.
Suaminya Abdul Hafid sebenarnya tidak tega melihat istrinya bekerja keras bertaruh nyawa seperti itu. Namun apalah daya, kondisi perekonomian keluarga tidak memungkinkan. Dirinya juga hanya bisa mencari nafkah lewat pengobatan tradisional. Itupun juga hasilnya tak seberapa. Dia hanya mendoakan supaya istrinya selalu dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Kalau istri saya mimpi buruk, keesokan harinya dia tidak turun melaut. Jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,” kata Abdul Hafid, suami Wa Hila saat ditemui di kediamannya. Rasa cemas dan was-was sudah pasti dialami keluarga yang mulai merajut kasih 1983 itu. Perasaan mereka tenang, saat istrinya mulai mengetok pintu rumah semi permanen itu, dengan menenteng ikan hasil tangkapannya. “Istri saya kalau malam dia ada di laut pasang pukat. Nanti sudah masuk fajar baru pulang. Kadang ada hasil tangkapan untuk dijual. Kadang juga hanya untuk makan,” imbuhnya. Dia tidak meratapi nasib yang menimpa keluarganya. Hanya berharap semoga deraan kemiskinan bisa cepat berlalu. Dan inginkan ank-anaknya sukses semua. (b/*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy