Kolom

Pemilu Mengancam Pesta Nikah, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Satu, keluarga berantakan gara-gara Pemilu. Dua, kebersamaan berhamburan gara-gara Pemilu. Tiga, tetangga tak lagi bertegur sapa, gara-gara Pemilu. Empat, fitnah di mana-mana, gara-gara Pemilu. Lima, kepercayaan dikorbankan, gara-gara Pemilu. Enam, pintu kesejahteraanmu kotutup, gara-gara Pemilu. Tujuh, pintu kesusahanmu kobuka, gara-gara Pemilu. Delapan, kotempuh jalan neraka, gara-gara Pemilu. Sembilan, kopilih jalan ke Surga, gara-gara Pemilu.

Sepuluh, uang receh kau ambil, uang besar kau buang, gara-gara Pemilu. Sebelas, dulu kamu berdayakan si miskin, sekarang kamu abaikan, gara-gara Pemilu. Duabelas, dulu kamu carikan lapangan kerja, sekarang kamu tutup lapangan kerja itu, gara-gara Pemilu. Tiga belas, dulu kamu terketuk hati untuk membantunya, sekarang, kaya ular wambeleu kolihat, gara-gara Pemilu. Sudah. Sampai tigabelas saja dulu, agar ada alasan untuk menyebut angka keramat.

Ekstrimnya bisa disebut begini: kira-kira, satu kali Pemilu lagi, Indonesia ini sudah benar-benar hidup individualis. Kekeluargaan hilang. Gotong royong, bubar. Pemberdayaan antar personal, hilang. Orang yang minta bantuan akan banyak, tapi orang yang membantu pada sinis. Kenapa? Tidak percaya lagi. Apa sebab? Penjelasan satu sampai tigabelas di atas penyebabnya. Siapapun kamu, pastilah akan terkena dengan salah satu dari tigabelas item yang saya tuliskan. Kalau tidak, ya, saya mohon maaf. Biasa: salah input.

Memang, sistem Pemilu telah membuka kran kepada pemilih dan peserta Pemilu untuk melakukan transaksi. Memang, ada badan pengawas. Tetapi, risiko hukumnya tak merangsang untuk dijalankan. Kenapa? Wwuih, terlampau amat banyak yang menerima bayaran. Dan, teramat banyak pula peserta Pemilu yang menyiapkan alat transaksi. Transaksi suara tak bisa dielakkan. Jenis transaksinya juga macam-macam. Ada uang, ada gula, ada rokok, ada sarung, ada payung, ada jilbab, ada sertifikat, ada barter jabatan. Saya lobikan eselon 4 kocarikan suara, saya lobikan anakmu dapat beasiswa bidik misi kocarikan suara, dll, dll.

Kisarannya juga macam-macam. Jika melihat anekdot di media sosial, menerima serangan fajar apapun bentuknya, asal jangan langsat.
Sistem Pemilu mendesak untuk dikaji ulang. Jika Pemilih tak bisa disadarkan agar memilih Caleg yang baik visi misinya, maka mutlak dibuatkan sistem lain agar ruang transaksi benar-benar nol. Misalnya, yang dikenakan hukuman kurungan hanya pemberi uang dan Caleg yang menyuplai duit harus dicoret. Sebab, jika yang menerima juga diancam kurungan, praktis tidak akan ada yang berani buka mulut. Ini, umpamanya. Tanpa itu, transaksi akan semakin subur. Ini yang pertama.

Kedua, jika sistemnya tak berubah, sedapat mungkin Caleg yang tak punya apa-apa, sebaiknya tak mencalegkan diri. Ketimbang merusak hubungan keluarga dan kerabat, lebih baik urungkan niat. Kenapa? Mengandalkan ketokohan tanpa duit, tidak cukup. Mengandalkan duit tanpa ketokohan juga tak sempurna. Tapi, jika anda memiliki duit dan punya nilai ketokohan, naaah, maju. Tokoh apapun jika punya duit banyak, monggo. Jadilah Caleg.

Tapi ingat, duitmu yang bisa digunakan untuk pembiayaan Caleg maksimal 75 persen dari tabunganmu termasuk hartamu yang tak bergerak. Artinya, jikapun tak terpilih, jiwa tetap tenang dan teduh. Tapi jika seluruh tabungan dan harta tak bergerakmu digadai dan dijual untuk membiayai Caleg, ada kekhawatiran, jangan sampai tak terpilih
, anda berpeluang besar untuk berjalan di trotoar sambil tendang-tendang kaleng. Atau, ke taman kota lalu menceramahi pohon-pohon.

Mengandalkan silaturahmi juga tidak cukup. Setiap pesta nikah dihadiri, amplop undangan tak pernah kosong. Dalam hati, sesungguhnya niatnya bukan menghadiri pesta tapi ingin dikenal karena kelak, akan masuk caleg. Dan terbukti, suara di Pemilu ternyata masih lebih banyak jumlah amplop yang disebar di pesta nikah, kurun waktu lima tahun terakhir. Caleg itu bilang begini: amanda (saya tobat).


Ada lagi, yang namanya Caleg pastilah memiliki kemampuan. Keluarganya dari kampung acap kali berkunjung. Setiap kali pamitan untuk kembali ke kampung, tak luput dari pemberian uang pete-pete, diberi sewa mobil ke Amolengo, di antar ke Torobulu, dijemput di Wamengkoli, dijamu makan di Wolasi, dibungkuskan udang dari Bombana, ada juga udang dari Samaturu, musim durian diajak makan durian di Besulutu, diberikan sewa kapal, dikasi uang saku, giliran Pemilu, disuruh nyoblos.

Alee, yang dia pilih ternyata yang berikan dia amplop malam itu. Sekarang, kodatang lagi di rumahnya keluargamu yang Caleg itu: Sapu ijuk yang sudah gundul lampuganya kodapat. Kepada istrinya, Caleg itu bilang begini: Bu, diteras ada keluarga dari kampung. Kasikan dia duit. Sambil melotot, istrinya menjawab : duit gundulle? (nebansi@yahoo.com)

Penulis: La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy