Pariwara
Kolom

Omku Sekda, Kepala BKD Tanteku, Oleh: La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Dimulai dari cerita di pinggir kampus. Seorang laki-laki berumur, kelihatannya mahasiswa program magister, tiba-tiba menggumam. “Hm hm hm. Ck ck ck”. Saya tanya: kenapa? “Lebih tinggi pangkat daripada otaknya,” begitu dia menjawab. “Mestinya kan otak lebih tinggi daripada pangkat. Makanya, pangkat itu hanya sampai di bahu. Sedangkan otak ada di kepala”. Saya nyeletuk : mungkin saat di kantor selalu ia menunduk agar otaknya sejajar dada, lebih rendah dari bahunya. “Haaa ha ha ha,” saya ketawa.

Cerita terus berlanjut. Diskusinya semakin alot ketika menyinggung rekruitmen calon pegawai negeri sipil (CPNS). Selama ini dimanjakan dengan kekuatan keluarga yang jadi pejabat sebagai bek (back), dimanjakan dengan kekuatan duit, sehingga kemampuan intelektual dikesampingkan. Ndilalah, pemerintah pusat menerapkan tes berbasis online. Itupun baru tes kemampuan dasar. Online artinya, otakmu andalanmu. Online artinya, jangan koandalkan uangmu. Online artinya, biar Kepala BKD tantemu, Sekda ommu, kalau kobodoh tetap tidak lulus.

Ya, itulah. Ketidaksanggupan mayoritas peserta tes CPNSD menembus kuota adalah fakta. Bukan hoax. Bukan karang-karang. Dan karena itu, harus dicarikan solusi. Apa solusinya? Satu, kamu belajar. Dua, kamu juga belajar. Tiga, dia juga harus belajar. Empat, mereka harus introspeksi diri bahwa, merekalah biangnya ketidakmampuan ini. Lima, para pengambil kebijakan harus orang yang memiliki otak di atas bahu, bukan mereka yang bahunya di atas jidat. Enam? Sudahmi. Sacapemi. Lima saja.

Tapi bahwa, fakta ketidaksanggupan menembus kuota CPNS tak boleh ditumpahkan seluruh kesalahan kepada peserta. Banyak pihak yang terlibat di dalam “kebodohan” ini dan karena itu, harus pula dicarikan solusi komprehensif. Misalnya, kenapa nilai rapor siswa SD, SMP, SMA sekarang ini harus diisi dengan kata-kata? Kenapa nilai rapor tidak diisi dengan angka-angka agar diketahui kualitas kecerdasannya? Kalaupun juga ada angka di dalam lembaran-lembaran rapor itu, apakah angka benaran atau angka “kasihan” dari guru. Akibatnya mirip La Uping. Lima kurang tiga berapa Uping. Lama tak dijawab. Karena La Uping lama berpikir, diberikan ilustrasi. Misalnya, lima buah pisangmu kokasi La Danang tiga buah. Tinggal berapa? Tunggu dulu. Dia masak kah itu pisang? Ya, masak. Oooh, samakan semua to.

Di tingkat perguruan tinggi. Kurang lebih sama. Apakah nilai indeks prestasi (IP) mahasiswa benar-benar IP asli atau hoax? Hoax karena sesungguhnya IP itu adalah hasil perbaikan di bagian akademik dalam rangka menghadang pemilik lapangan kerja yang menerapkan batasan IP di atas tiga koma. Dibuatlah nilai-nilai IP di atas tiga koma. Dan karena itu, tak jarang kita menyaksikan tampang bloon tapi IPnya selangit. Ya, itulah. IP welas asih.

Mau diapa. Anak SD, SMP dan SMA jika tak dinaikkan kelas dan atau tak diluluskan ujian maka, guru dan kepala sekolah dalam bayang-bayang mutasi. Pilih mana, meluluskan orang yang mestinya tak lulus atau dimutasi di Purirano untuk Kota Kendari, dimutasi di Pulau Maginti Muna Barat, dimutasi di Laonti Konawe Selatan, dimutasi di Kapontori atau dimutasi di Batu Atas Buton. Akibatnya, kualitas lulusan tak sanggup bersaing di jenjang berikutnya. Oleh karena kasus ini sudah katagori massal menjadikan sekolah atau perguruan tinggi “terpaksa” menerima dan melanjutkan proses pendidikan berkualitas rendah. Kalaupun ada satu dua siswa yang menonjol prestasi akademiknya, bisa jadi, dicapai karena gemblengan luar sekolah.

Mau diapa. Mahasiswa berlama-lama di kampus juga menjadi kerugian bagi kampus. Kenapa? Ya, SPPnya subsidi. Biaya kuliah subsidi. Artinya, untuk mengurangi subsidi maka mahasiswa tak boleh lebih dari lima tahun. Kalau perlu, dibuatkan ekstensi agar cepat kamu keluar dari kampus. Trus, kalau dia bodoh bagaimana? Sudahlah tutup mata.

Jangankan pendidikan dasar, menengah atas, pendidikan jenjang doktoral pun, aromanya sudah kurang sedap. Untuk ini, panjang ceritanya. Karena terbatas kolom koran, saya tuliskan saja komentar dari kampung begini: “Kerjanya mengajar di kampung tiba-tiba wisuda doktor. Dikasi undangan pernikahan, dia kasi kembali gara-gara tidak ditulis titel doktornya. Jengkelku salia om eee”.(nebansi@yahoo.com)

 

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top