Pariwara
Kolom

Negara Kacong, Oleh: Prof Hanna

Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Saya pernah dibuat pusing oleh diskusi singkat penumpang Kereta Api Eksekutif dari Jakarta ke Surabaya. Mereka duduk di belakang kursi yang saya tumpangi. Kurang tahu persis inti pembicaraan mereka. Tapi samar-samar, sepertinya terkait pembakaran Bendera Tauhid. Hal yang menjadi pemikiran saya, ketika salah seorang menyebut Negara Kacong. Saya sempat berpikir, negara mana yang mereka maksudkan.

Saya lalu teringat ketika masih kecil. Sering menjadi Kacong setiap sore untuk membantu para pemain tenis lapangan, memungut bola dan diberikan imbalan Rp 10 rupiah. Saya mencoba beranalogi, mungkin mereka pemain tenis. Dalam istilah permainan tenis lapangan, Kacong diartikan sebagai anak-anak yang kerjanya membantu pemain tenis untuk memungut bola yang keluar dari garis lapangan. Lalu diberikan lagi kepada pemain. Selanjutnya bola itu dimainkan lagi pemain tenis. Jika bola itu tak ditemukan, Kacong dapat marah. Meskipun yang memukul bola adalah pemain tenis.

Namun, saya kembali berpikir. Pakai logika nalar. Tidak ada hubungannya. Lalu kembali mengingat bahasa yang biasa diucapkan orang tua saya dalam nasihatnya. Jangan terlalu banyak berharap pada seseorang karena kamu akan Kacong. Kacong disini artinya kecewa. Jadi, dalam bahasa saya, istilah Kacong tersebut berarti kecewa yang diakibatkan ketidaksingkronan antara harapan dan kenyataan. Orang ilmiah berkata, antara Das Zolen dan Dazzein. Lalu saya coba beranalogi lagi, hubungannya apa? Saya belum puas. Kemudian, mencoba mengingat teman saya dari Madura. Dia pernah mengucapkan kata ini kepada anaknya. Ternyata, bagi mereka kata Kacong biasa digunakan untuk memanggil anak laki-laki. Setelah saya telusuri, memang kata Kacong ada dalam kamus Bahasa Madura.

Jadi, dari tiga istilah Kacong itu, maka bisa menginterpretasi wacana yang dibicarakan dua orang di kereta tersebut. Saya melihat, salah satu diantara mereka mencoba menggiring lawan bicaranya agar pemerintah dapat mengelola pemerintahan dengan baik (good governance). Pertama, agar pelayanan masyarakat dimaksimalkan (prima). Kedua, jika beranalogi, kata Kacong seperti yang ditafsirkan dalam bahasa saya, maka antara pemerintah dan rakyat seharusnya bergandeng tangan melaksanakan proses good govenace itu.

Tetapi, di beberapa negara, termasuk Indonesia, tidak bisa banyak berharap dari proses itu. Sebab, memiliki pandangan berbeda. Ketiga, jika Kacong itu dimaknai seperti Bahasa Madura, maka seharusnya pemerintah dan rakyat harus bermesraan. Tidak saling menyalahkan. Tapi duduk bersama untuk menyatukan persepsi, jika menemukan sebuah masalah. Jadi, sangat jelas pengelolaan negara yang baik adalah sejauhmana masyarakat dan pemerintah dapat bergandengan tangan untuk memanusiakan manusia. Pemerintah harus mampu memberikan pelayanan prima dari semua aspek. (*)

Oleh: Prof Hanna

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top