Pariwara
Kolom

Lain Cerita, Oleh: La Ode Diada Nebansi

Direktur Kendari Pos, La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Bukan Ustaz. Tapi, pakai sorban, berjenggot. Dia bercerita seperti ini: di pinggir pantai Kota Palu ada masjid dan menjelang salat Ashar, ada taklim: membahas Surah Az-Zalzalah. Jelang Magrib, terjadi gempa dahsyat. Terjadi gempa dan tsunami bukan karena membahas Az-Zalah di taklim itu. Bukan. Itu hanya cerita yang berkenaan saja. Kebetulan.

Ayat pertama surah itu : “Izaa zulzilatil ardhu zilzaalaha”. Artinya: Apabila bumi diguncang dengan guncangan yang dahsyat. Saking dahsyatnya, jalan raya banyak yang patah. Lautan mengeluarkan ombaknya setinggi pohon kelapa. Hotel Roa Roa yang konstruksi besinya didesain khusus anti gempa, tak ada ampun. Rontok. Rakitan besinya memang utuh tapi temboknya hancur. Yang lebih soe lagi, tanah dan rumah-rumah bergeser, ibarat tikar pandan yang digelar di atas air, terapung beberapa saat lalu hanyut.

Kebanyakan orang melihat peristiwa ini sebagai keajaiban alam. Kebanyakan orang mengartikan peristiwa ini tak lebih sebagai bahan berita yang bisa diupload di medsos, bahan diskusi pengisi waktu lowong, pengantar kata ketika menghadap pejabat cuek yang kita butuhkan bantuannya. Padahal, ayat ke 4 Surat Az-Zalzalah begitu jelas. “Yaumaizin tuhaddisyu ahbaaraha” (pada hari itu, bumi menyampaikan beritanya).

Kok berita. Ya, kata Alquran, pada hari itu, bumi menyampaikan beritanya. Jadi, bukan keajaiban alam. Itu perintah. Perintah Allah kepada bumi dan lautan untuk beraksi. Ini juga kata Allah di dalam Alquran. Mau tau ayatnya? Ini dia. “Bianna Rabbaka Auhaa Lahaa” (Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah Memerintahkan Padanya–tanah dan lautan). Saya membayangkan, dari ayat ke 5 Az-Zalzalah ini, kira-kira perintahnya seperti ini: Wahai tanah, salia di atasmu itu sudah banyak maksiat. Orang yang jualan di atasmu sudah banyak yang pakai formalin, karaoke lebih ramai ketimbang masjid di waktu Magrib, manusia yang berjalan di atasmu lebih takut pada juragannya, pada atasannya, pada komandannya ketimbang takut kepada Rabbnya. Karena itu wahai bumi, coba kokasi satu jurus dulu untuk penduduk negeri ini. “Ciaaaattt”. Umpamanya begitu bumi dia tare silatnya. Tanah terbelah. Ombak setinggi pohon kelapa menggulung. Apasaja yang ada, lululantak. Jika manusia belum juga taat, belum juga sadar dengan tsunami dan hilangnya perkampungan, saya kira tidak ada kesulitan bagi Allah untuk mencuci buminya seperti juga cucian di zaman Nuh, Lut, Firaun, Qarun, Namruz dan lain-lain.

Itu cerita orang yang berjenggot tapi bukan ustaz. Muhammad Amin, punya lain cerita. Pasca gempa dan tsunami, ia memutar orientasi berpikirnya. Di balik reruntuhan bangunan, pasti banyak besi beton yang bisa dikumpul. Muhammad Amin yang punya panggilan akrab La Mpedo memang punya pekerjaan sampingan, mengumpulkan besi dan kabel-kabel tembaga di sela rongsokan sampah di atas mobil sampah milik Pemerintah Kota Kendari, tempat ia bekerja. Nampak, La Mpedo terus menelan air liur ketika menyaksikan di televisi logam-logam yang bernilai uang termasuk botol dan gelas plastik yang terseret tsunami. Orang lain sedih karena bencana, La Mpedo sedih karena menyaksikan barang-barang bekas yang terseret ombak tak ada pemulung yang mengumpul. “Kalau saya pergi memulung di Palu, pasti banyak saya dapat uang,” begitu jalan pikiran La Mpedo.

Lain lagi cerita bagi yang berwatak korup. Bencana Palu Donggala dianggapnya sebagai ladang keuntungan. Dengan alasan kesulitan hidup, atau ancaman kelaparan dan kehausan, mereka dengan suka cita menjarah. Kalau hanya menjarah air mineral, kol buncis dan ubi gandu sih masuk akal. Tapi, kalau mengambil ban-ban motor yang masih terbungkus plastik bukankah ini penjarahan untuk menambah kekayaan? Tidak puas menggondol ban-ban motor, masih juga menggondol beberapa lusin piring. Kenapa tidak sekalian menggondol pete-pete yang terjungkal di atas rumah penduduk? Di atas duka orang lain mereka panen raya. Kira-kira, dosanya berkali-kali lipat. Saya membayangkan, orang yang menjarah ban motor ini kira-kira sekarang sudah pakai perban di mata kirinya. Tangan kirinya juga dia tenteng pakai perban. Kenapa? Ketika dia ganti ban baru, ia menjalankan motor agak kencang hingga terperosok kedalam rumpun bambu. Tangan kirinya tertindis knalpot panas dan mata kirinya tertusuk ranting bambu. Dalam hatiku: rasako!.

Cerita keajaiban juga ada. La Ode Apriadi, seorang anggota Polisi di Polda Sulteng tak sanggup melawan gulungan ombak tsunami. Ia berlari cukup jauh karena diburu tsunami. Berhenti di ketinggian yang aman dari ombak tsunami, ternyata juga tidak aman karena tanah bergoyang pun ikut memburunya. “Saat itu mereka masih rapat dengan Wadir Krimum tiba-tiba tembok Polda runtuh. Tsunami sudah dekat. Anak saya lari sejauh-jauhnya karena diburu tsunami dan tanah. Tanah juga ikut memburu dan membentuk seperti ombak. Tanah bergerak membentuk gelombang. Pada waktu berlari, perasaan anak saya seperti dipanggil untuk ikut neneknya. Alhamdulillah, anak selamat. Kabarakatino witeno Wuna,” begitu penjelasan Purnawirawan TNI La Ode Rimu.(nebansi@yahoo.com)

Catatan: La Ode Diada Nebansi/Direktur Kendari Pos

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top