Space Iklan
Pariwara
Kolom Arham

Belajar dari Gempa Palu, Oleh: Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Sejak dihantam gempa dan tsunami 28 September lalu, Kota Palu, Donggala dan sebagian wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), menjadi pusat pemberitaan. Baik media cetak maupun elektronik. Mulai media nasional, hingga lokal. Semua ikut merasakan duka mendalam. Semua sepakat, kalau gempa dengan skala 7,7 SR itu sangat dahsyat. Mampu meluluhlantahkan alam, menghancurkan infrastrukutr dan menghilangkan nyawa ribuan manusia. Kalau dicermati, ada empat “pembunuh” dalam peristiwa itu. Yakni gempa, tsunami, longsor dan lumpur. Banyak orang berspekulasi tentang penyebab bencana alam itu. Salah satu yang berkembang di masyarakat adalah karena maraknya LGBT.

Saya pernah dua kali ke Palu. Saya melihat, kota ini sangat pesat pembangunan infrastruktur dan pengembangan budayanya. Apakah LGBT ada hubungannya dengan kejaian alam ini? Allahu alam bissawab. Terlepas dari semua pertanyaan, rasa simpati, rasa empati terhadap warga Palu, persitiwa itu telah berlalu dan manjadi pelajaran bagi semua.

Sebenarnya gempa Palu ini bukan pertama kali terjadi. Dalam buku Sawerigading pun dikisahkan. Bahwa ketika Sawerigading jatuh cinta pada gadis cantik bernama ratu Ngilinayo dari kerajaan Sigi. Sebelum melaksanakan persyaratan yang diajukan ratu Ngilinayo yakni sabung ayam, tiba-tiba bumi bergetar hebat. Bangunan istana berguncang-guncang dan mulai runtuh. Pertemuan itu sontak kacau tanpa komando. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Rencana bubar sebelum pesta diselenggarakan, dan perkawinan itu dibatalkan. Seperti yang dikisahkan, Jamrin Abubakar dalam Tadulako dari Sulawesi Tengah (2013), gempa yang terjadi jelang pernikahan Sawerigading dan Ratu Ngilinayo, itu memporakporandakan negeri Sigi dan sekitarnya. Kapal-kapal Sawerigading hancur diterpa banjir bandang dan menimbulkan tanah longsor yang akhirnya membentuk teluk.

Dalam beberapa litetarur sejarah juga didapatkan kalau Palu sudah menjadi langganalan gempa. Misalnya terjadi Desember 1927, 30 Januari 1930, kemudian 14 Agustus 1938, gempa dan tsunami kembali mengguncang Teluk Tambu Balaesang Donggala. Selanjutnya, 1 Januari 1996, terus terjadi lagi 11 Oktober 1998. Gempa kembali mengguncang Donggala 25 Januari 2015. Setelah itu, terjadi lagi 10 Agustus 2012.

Apa pun ceritanya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) harus menjadikan hal ini pelajaran. Minimal harus menjauhi segala perbuatan yang dilarang dalam agama. Bahwa, sesungguhnya Allah menurunkan Alquran utuk dipelajari, diyakini dan dipedomani dalam menjalankan roda pemerintahan. Sebab, Alquran merupakan petujuk bagi orang yang muttaqin. Demikian juga dalam rencana pengembangan pembangunan atau RTRW, aspek amdal perlu mendapatkan perhatian tentang jalur-jalur yang akan dilalui lempeng-lempeng api atau liufaksi. Hal ini untuk menghindari adanya peristiwa serupa di masa mendatang. (b/*)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top