Pariwara
Kolom

Phubbing: Merusak Etika Ketimuran, Oleh: Oleh Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Indonesian is friendly people and non individualized. Kalimat itu saya dengar dari seorang warga Perancis yang duduk di sebelahku saat naik pesawat menuju Paris. Kala itu, pesawat yang kami tumpangi berada diketinggian 45.000 kaki di atas permukaan laut. Pernyataan orang ini memang tidak salah. Sebab, Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang ramah. Tapi, itu berlaku untuk beberapa tahun lalu. Sekarang, kondisinya berbeda. Bahkan, sudah mulai bergeser dengan hadirnya teknologi. Bahkan, bisa mengakibatkan munculnya masyarakat modern yang dikenal dengan istilah phubbing.

Secara sederhana, Phubbing diistilahkan sebagai sibuk main seluler atau HP dan mengabaikan orang lain yang berada di sekelilingnya. Dalam istilah lain, Phubbing diartikan sebagai perilaku sesorang dalam berkomunikasi yang tidak mengindahkan orang lain di sekelilingnya. Orang yang kena penyakit perilaku ini, yakni hanya sibuk dengan gadget. Bahkan bisa dikatakan kecanduan gadget, ia dapat disebut Phubbers, artinya orang yang terus menerus berhubungan dengan media sosial, seperti cek email, sosial media tanpa memperhatikan orang lain saat sedang bersamanya.

Istilah phubbing, berasal dari kata phone dan snubbing. Diciptakan oleh Alex Haigh, mahasiswa Australia yang magang di perusahaan periklanan terkenal McCann di Australia. Kata ini mulai diperkenalkan pada Mei 2012. Kala itu, McCann Melbourne bersama Macquarie Dictionary, sengaja mengundang para lexicographers (editor/penyusun kamus), penulis buku dan puisi untuk memperkenalkan kata phubbing di media dan melakukan kampanye “Stop Phubbing”.

1 of 2

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top