Pariwara
Kolom

Pemimpin Baru, Membangun Berbasis Pendekatan Fortifikasi, Oleh: Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.IDSulawesi Tenggara (Sultra) sudah punya pemimpin baru. Ali Mazi dan Lukman Abunawas, awal bulan ini dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra periode 2018-2023. Tentu saja, kehadiran pemimpin baru dengan visi baru, tidak bisa maksimal tanpa dukungan masyarakat.

Dalam headline koran ini, 6 September 2018, Gubernur Sultra, Ali Mazi telah membuat suatu pernyataan seperti ini: Kami segera percepat bangun daerah”. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemimpin baru sudah siap bersama rakyat untuk mempercepat pembangunan Sultra.

Membangun bukanlah sesuatu hal yang sulit untuk dilaksanakan. Tapi yang sulit adalah melalui pendekatan akuntabilitas dan validitas dari masyarakat. Fortifikasi adalah istilah baru yang pertama kali saya gunakan dalam media ini. Istilah ini pernah digunakan PBB dalam melakukan fortifikasi bahasa-bahasa daerah, sama dengan penguatan bahasa daerah. Dalam kamus Bahasa Indonesia, istilah fortifikasi diartikan sebagai pekerjaan memperkuat dengan benteng; pembentengan.

Istilah ini digunakan banyak orang untuk melakukan penguatan pada bidang masing-masing. Dari definisi ini, kita dapat melakukan identifikasi terhadap fenomena yang perlu pembenahan. Di bidang pendidikan misalnya, salah satu subjek yang perlu difortifikasi adalah aspek akreditasi untuk melakukan standarisasi pendidikan di Sultra.

Standar nasional pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar ini bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sultra dalam laporan tahun 2017, menemukan bahwa pendidikan di Sultra, jika dilihat dari konsep pemetaan mutu berbasis visitasi maka secara admistratif pendidikan dasar dan menengah sudah dikategorikan sangat layak. Namun jika melihat dari konsep SNP dengan criteria kategorisasi, maka belum masuk dalam kategori SNP dengan nilai 6.67-7. Tetapi baru masuk pada kategori menuju SNP 1 dengan nilai kategori masih bearada pada kisaran 0 – 2,04. Namun, Badan Akreditasi Provinsi ( BAP) Sultra melaporkan bahwa pendidikan di Sultra, jika dibandingkan dengan jumlah usia sekolah bisa dikatakan layak. Dari jumlah tersebut, sekolah yang sudah terakreditasi adalah 184 berkategori A, 1446 berkategori B, dan 144 berkategori C, dan hanya 22 sekolah yang belum terakreditasi.

Demikian juga foortifikasi di bidang tenaga kerja lokal, perlu dilakukan melalui peningkatan sekolah kejuruan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai fenomena pekerja asing di Sultra yang sudah ribuan. Sedangkan pekerja lokal masih banyak yang menganggur. Kalau kondisi ini tidak diberikan fortifikasi maka akan terjadi masalah dikemudian hari.

Fortifikasi lain yang dapat dilakukan adalah penataan tata ruang provinsi. Artinya, perlu melakukan redesain perbatasan antara Sultra dan Sulteng. Ada yang berpendapat bahwa perbatasan ada di Wiwirano. Namun ada juga yang menilai batas antara Sulawesi Tengah dan Tenggara ada di Porehu. Bahasa Cia-Cia juga perlu dilakukan fortifikasi. Hal ini disebabkan, Pemerintah Soul Korea Selatan mengklaim bahwa Bahasa Cia-Cia berkerabat dengan Bahasa Korea, walaupun beberapa teori dialektologi dan sejarah Buton tidak berhubungan. (*)

Oleh: Prof Hanna

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top