Pariwara
Konawe

FPIK UHO Gandeng Warga Tapulaga Konawe Budidayakan Lobster

Suasana pertemuan warga bersama Tim FPIK UHO membaham budidaya lobster.

KENDARIPOS.CO.ID — Budidaya udang karang atau lobster yang dilakukan Tim Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo (UHO) bersama warga Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe, menjadi harapan baru pasca adanya pelarangan penangkapan lobster, kepiting dan rajungan dari alam oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Komoditas ini mempunyai peminat yang cukup banyak. Apalagi pada momen tertentu seperti perayaan menyambut tahun baru imlek. Harga lobster mutiara ukuran super (500 gr/ekor) cukup menjanjikan, mulai dari harga Rp 900 ribu/kg sampai 1,2 juta/kg.

Yusnaini, Ketua Tim FPIK UHO bersama kelompok warga Desa Tapulaga, mengembangkan lobster mutiara dengan cara budidaya karamba jaring apung ukuran mini. Menurutnya, selama ini lobster hanya dapat diambil dari alam lalu dijual ke pedagang pengumpul. Pola seperti itu perlu dirubah dengan cara budidaya. Lobster dari alam berukuran panjang diatas 8 cm atau berat diatas 200 gr/ekor dipelihara pada karamba sampai ukuran super, dengan budidaya bobot produksi dan nilai jual lobster bisa ditingkatkan.

“Budidaya pembesaran lobster guna meningkatkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat,” kata Koordinator Program Studi Pasca Ilmu Perikanan PPs UHO ini.

Lebih jauh ia menjelaskan, sistem budidaya seperti ini hampir sama yang umum digunakan budidaya lobster, seperti pemberian pakan menggunakan ikan rucah, karamba dikontrol, dibersihkan dan sistem panen secara selektif. Namun yang berbeda adalah ukuran karamba yang digunakan dan jumlah individu lobster yang dipelihara dalam setiap petak karamba. Untuk karamba kantong jaring mini berbentuk segi empat berukuran 90-120 cm dan tinggi 120-150 cm, berbahan jaring nilon atau waring, setiap kotak karamba ditebari 1-5 ekor/kotak, makin besar lobster yang dipelihara, maka jumlah individu setiap karamba semakin sedikit.

Berdasarkan hasil pemantauan, pertumbuhan lobster mutiara dapat meningkat bobotnya sekitar 45 g/ekor/bulan dan tingkat kematian kurang dari 10%. Lama pemeliharaan lobster sampai mencapai ukuran super memerlukan waktu 7-9 bulan. “Hasil tersebut mengindikasikan bahwa sistem budidaya mengunakan karamba ukuran mini dapat menjadi alternatif pada pengembangan budidaya lobster,” sambung Yusnaini.

Lebih lanjut dijelaskan, budidaya dengan mengandeng warga setempat adalah cara yang efektif untuk mengembangkan potensi perikanan di Sultra. Kendati begitu, program pengabdian masyarakat yang digagas FPIK-LPMP UHO efektif untuk dijadikan sebagai wujud pengabdian perguruan tinggi pada warga bumi anoa ini. Kegiatan pengadian ini didanai dari Skim PKM Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti. Program ini direalisasikan oleh Yusnaini dibantu anggota Muhammad Ramli dan Irdam Riani bekerjasama dengan kelompok warga yang diketuai oleh Marhabang dan Bakring (kus)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top