Pariwara
Nasional

Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan, PT MBS di Konawe Dilapor di Polda Sultra

TUNTUT HAK: Pemilik lahan, Rustam (kanan) bersama pemilik lahan lainnya (kiri) didampingi Penasehat Hukum, Sultan Arnas Abas bertandang ke Grana Pena Kendari Pos, Kamis (6/9). Foto: Arifuddin/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — PT Multi Bumi Sejahtera (MBS) yang beroperasi di Desa Dunggua Kecamatan Amonggedo, Kabupaten Konawe, mendapat perlawanan dari warga. Perusahaan tambang nikel tersebut dinilai melakukan wanprestasi dengan tidak membayar kompensasi atas penggunaan lahan milik masyarakat. Bahkan, sertifikat dan surat keterangan tanah (SKT) milik warga disinyalir telah disalahgunakan.

Salah seorang pemilik Rustam mengungkapkan, jumlah warga yang memiliki hak mendapatkan kompensasi sebanyak 166 orang dari 242 SKT. Mereka belum pernah mendapatkan haknya sejak PT MBS melakukan eksploitasi di Desa Dunggua. Bahkan, SKT dan sertifikat tanah milik warga hingga kini tidak diketahui keberadaannya. “SKT dan sertifikat tanah kami, itu dijaminkan ke koperasi. Setelah kami mencoba mencarinya di koperasi, katanya sudah diambil sama Saut Sitorus (Dirut PT MBS, red),” ungkap Rustam saat berkunjung ke Kendari Pos, Kamis (6/9).

Warga Desa Dunggua itu bercerita, kesepakatan yang terbangun dengan PT MBS saat baru memulai penambangan, warga pemilik alas hak tanah berhak mendapatkan kompensasi sebesar USD 3 setiap metrik ton tanah yang diangkut. Operasi dimulai sejak tahun 2012. Namun, PT MBS belum sempat melakukan ekspor, larangan pengiriman tanah gelondongan ke luar negeri sudah berlaku. Ore nikel PT MBS tertampung di Kelurahan Mata Kota Kendari.

“PT MBS telah menjual ore nikel tersebut. Ada sekitar 30 metrik ton. Dikirim ke pabrik smelter dalam negeri. Tapi PT MBS tidak melaksanakan kewajibannya membayar kompensasi atau lebih dikenal di masyarakat istilah royalti. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar Rp 1,3 miliar kompensasi yang harus dibayar kepada kami,” jelasnya.

Rustam menambahkan, masyarakat pemilik lahan saat ini sudah tak ingin lagi bekerja sama dengan PT MBS. Kata dia, masih ada sekira 200 metrik ton ore nikel yang belum diangkut di Desa Dunggua. “Kami menilai, telah terjadi penipuan dan penggelapan. Kami sudah melaporkan persoalan ini ke Polda Sultra,” jelasnya.

Pemilik lahan lainnya, Napoleon mengatakan, selama perusahaan tersebut beroperasi belum ada pembayaran royalti kepada masyarakat. “Tanah itu milik masyarakat. Tidak ada proses pembebasan lahan. Warga tidak menjualnya. Kesepakatannya yakni warga akan mendapatkan 3 dolar setiap metrik ton. Tapi tidak ditepati oleh PT MBS,”kata Napoleon saat ditemui di Polda Sultra, Kamis (6/9).

1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top