Pariwara
HEADLINE NEWS

Menengok Motivasi Anak-anak Petani di Pelosok Kolut, Tetap Semangat Belajar Meski Gedung Sekolah Nyaris Roboh

SERBA TERBATAS: Beginilah kondisi ruangan belajar di SDN 3 Batuganda. Guru menulis di papan tulis yang disambung. Meja belajar siswa sudah puluhan tahun tak diganti. Lebih miris lagi, dinding kelas dari papan dan tiang nyaris lapuk sehingga rawan roboh. Sekolah ini terletak di Dusun VI Tobau, Desa Batu Ganda, Kecamatan Lasusua, Kolaka Utara. Foto: Muh. Rusli/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — SDN 3 Batuganda, satu-satunya sekolah yang bisa diakses anak-anak petani di dataran tinggi Dusun VI Tobau, Desa Batu Ganda, Kecamatan Lasusua, Kolaka Utara (Kolut). Kondisi fisik sekolah belum sepenuhnya layak. Dindingnya papan, lantainya tanah. Kendati begitu, tidak mengurangi semangat belajar 72 siswa yang belajar disitu.

KENDARIPOS.CO.ID — Cuaca dingin berselimut kabut tak membuat Nur Alam (11) telat bangun lebih dini, Jumat lalu. Dirinya menuangkan air berulang kali lebih cepat ke tubuhnya untuk mandi. Rahangnya tak bisa diam bergetar, menahan dingin yang coba diimbangi dengan bersedekap dada.Ia harus bergegas untuk mengenakan seragam sekolah putih-merah. Sebab, pukul 06.00 wita, rekan dekatnya, Ardiansyah dan Jusri bakal menyambanginya untuk barengan menelusuri jalan setapak menuju sekolahnya. Nur Alam merupakan salah satu murid yang tekun bersekolah. Dia tercatat sebagai kelas VI SDN 3 Batubangga.

Meski harus berjalan kurang lebih empat kilo meter jauhnya, dirinya selalu hadir tepat waktu sebelum suara lonceng sekolahnya berbunyi pukul 08.00 wita. Maklum, saat hujan jalan tanah yang dilaluinya licin. “Kalau hujan pakai payung. Pelan-pelan (hati-hati) jalannya karena kalau jatuh, baju kotor kena lumpur sampai ke sekolah,” ucap bocah yang bercita-cita lanjut pesantren itu.

Jangan heran jika berkunjung ke sekolah tersebut pakaian anak-anak itu ternodai tanah merah. Belum sepatu atau alas sandalnya yang menebal dari tempelan tanah jalanan. Pasalnya, sekolah itu satu-satunya tempat menuntut ilmu yang dibanggakan para murid ada di sana.

Pemandangan di sekitar lembaga pendidikan tempat Nur Alam menuntut ilmu (SDN 3 Batuganda) cukup indah di ketinggian. Angin sepoi-sepoi bahkan sangat mudah dirasakan masuk ke ruangan kelas melalui sela-sela dinding papan ruangan yang saling merenggang. Karena berlantai tanah, bangunan itu juga menjadi menu favorit rayap ramai menggerogoti. Kondisi sekolah yang terkesan seadanya tidak membuat semangat mereka turun. “Tak ada alasan buat kami untuk malas belajar. Kami ingin belajar keras supaya bisa meraih cita-cita,” ungkapnya.

Sekolah Nur Alam tersebut sudah berdiri sejak 2007 silam. Gedung itu awalnya berupa kelas jauh SDN 1 Batu Ganda yang sebelum memiliki lokasi tetap hanya beroperasi dari satu kolom rumah ke kolom rumah warga lainnya. Kepala Sekolah (Kasek) SDN 3 Batu Ganda sekarang bernama Kirman. Ia memimpin sudah tiga tahun, pergi pulang dari rumahnya di Desa Rante Limbong ke sekolah juga dengan menempuh kurang lebih sembilan kilometer. Tantangannya hanya satu, dengan motor Honda Revo orangenya ia harus melalui jalan-jalan berlumpur saat hujan. Tapi, di pendakian tersulit agak terbantu dengan cor semen setapak agar kendaraan mampu mendaki.

Awalnya, ia mengabdi disitu sebenarnya kurang srek, lantaran jarak dan kondisi wilayah yang sulit ditempuh kendaraan. Namun, karena wajah-wajah polos anak didiknya yang penuh impian dan cita-cita masa depan membuatnya perlahan betah. Jalan sulit pun sudah terbiasa menjadi santapan hari-harinya.

Di sekolah yang ia pimpin, bangunannya hanya berdinding papan dan sebagian ditambal seng atap rumah menutupi yang telah lapuk termakan rayap. Ukurannya hanya 7 X 15 meter dengan total murid sekarang 72 siswa. Kelas I – VI hanya menggunakan satu ruangan saja yang dipilah menjadi tiga sekat bagian. “Dibatasi papan tulis saja. Jadi dalam satu ruangan itu ada dua kelas. Meski terlihat hanya tiga kelompok saja tetapi itu masing-masing dua kelas dan ada papan tulisnya juga per kelas hingga setiap guru menerapkan metode ganda mengajar,” jelasnya.

Bisa dilihat sendiri, tidak hanya sekolah yang tampak tidak layak, papan tulisnya saja harus disambung agar tampak lebih luas bagi guru untuk meluncurkan spidolnya dipermukaan media yang sebagian terkelupas. Belum lagi soal bangku sekolah, sebagian masih produk lama yang dibuat ala kadarnya.

Itu masih dipakai untuk menutupi kekurangan sarana yang dibutuhkan setidaknya perlu tambahan 40 bangku dan meja lagi. Kata Kirman, guru di sekolahnya lima orang termasuk dirinya. Mereka bernama Takdir, pengajar berstatus PNS sebagai yang guru kelas VI, Hanifa untuk kelas I dan II, Usman kelas III dan Hasbullah untuk kelas V. Tiga orang terakhir itu merupakan guru honorer.

Saat sekolah mulai tertutup, tidak akan dijumpai buku-buku tersimpan di sana. Soalnya, rayap akan mengintai. Jangankan kertas, bangku sekolahnya saja ada yang nyaris tidak berbentuk lagi dimakan hewan tanah itu. “Buku-buku ada tetapi saat pulang sekolah juga kami bawa pulang karena banyak rayab,” ujarnya.

Pihaknya sudah mengusulkan bantuan rehab ke dinas terkait agar bisa mendapatkan bantuan pembangunan dan dijanji Dikbud Kolut 2017 lalu saat OPD itu masih dipimpin Mukrim. Hanya saja, saat itu hanya bantuan rehab yang diturunkan pusat hingga batal dibangun baru lagi. “Tahap ke II tahun ini dijanji lagi waktu itu mudah-mudahan terealisasi,” harapnya.

Kadus Dusun VI Desa Batu Ganda, Sarma menambahkan, tercatat ada 400-an kepala keluarga (KK) di wilayah itu. Untuk sekolah, anak-anak desa setempat tidak punya dua pilihan selain menempuh studi studi di SDN 3 Batuganda. “Kalau tamat di sana (SDN Batuganda) harus tinggalkan kampung karena SMP-sederajat ada di pusat kota.

“Tinggal di rumah keluarga jika ada, diantar pergi pulang orang tua atau terpaksa disewakan kos. Hanya itu cara agar bisa lanjut sekolah lagi atau harus putus sekolah jika tidak mampu, atau cukup membantu orang tua berkebun,” katanya.

Pj. Kadis Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kolut, Idrus Baso Malluru, mengaku telah mengecek data dapodik SDN tersebut. Hanya saja, data itu tidak ada dan menganggap pihak sekolah kurang memperhatikan hal itu. “Tidak ada laporan dan data dapodiknya. Itu yang penting harus mereka selalu perhatikan termasuk sekolah lain agar bisa diberi bantuan. Kalau tidak ada bagaimana akan dibantu,” tegasnya.

Sekadar diketahui, Tahun ini sebanyak 30 sekolah di Kolut mendapat bantuan rehab dan pembangunan baru dengan anggaran seluruhnya kurang lebih Rp 30 miliar. SDN setempat tak tercover dalam rencana itu karena Dikbud menganggap laporan data dapodiknya tak update. (b/*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top