Pariwara
Buton

Festival Budaya Tua Buton Diapresiasi, Ali Mazi: Ke Depan Harus Lebih Meriah Lagi

Semarak Festival Pesona Budaya Tua Buton tahun 2018 tak hanya menyedot perhatian wisatawan lokal. Rombongan turis mancanegara juga tak ingin melewatkan event tahunan tersebut. Sepekan terakhir puluhan kapal yacth yang digunakan wisatawan asing sudah berlabuh di teluk Pasarwajo dan berkunjung di Puncak Takawa untuk menyaksikan sejumlah pagelaran warisan Kebudayaan Buton.

Pengunjung dapat menikmati pesona Pekande-kandea, ritual makan bersama dengan duduk bersila menghadap nampan (talang) yang dilayani gadis-gadis anggun yang mengenakan pakaian adat. Tahun ini Pemkab Buton menyediakan sedikitnya 2018 talang dalam festival tersebut. “Jumlah talang yang kita siapkan disesuaikan dengan tahun pelaksanaan kegiatan ini,” ungkap La Bakry.

Pesona Podhole-dhole yang dikenal sebagai imunisasi alam bagi masyarakat Buton cukup menyedot perhatian. Ternyata sebelum menjadi program nasional, masyarakat Buton telah menerepkan terlebih dahulu. Ini membuktikan peradaban masyarakat Buton tidak kalah dengan kerajaan lain yang ada di nusantara.

Khasanah tenun yang beragam jenis dan warnanya juga ditampilkan dalam festival tersebut. Terdapat 200 penenun tradisional yang mengenakan pakaian adat melakukan kegiatan tenunnya di pelataran halaman kantor Bupati Buton. “Ini juga biasa menggunakan pewarna alami,” tambah La Bakry.

Festival tersebut juga menampilkan pesona Tandaki. Bagi masyarakat Buton yang telah menjalani proses sunatan secara medis akan disempurnakan dalam ritual kebudayaan yang disebut Tandaki.

Untuk pagelaran posuo, tahun ini diikuti 200 orang. Ritual ini merupakan penguatan terhadap gadis remaja yang siap memasuki fase dalam membina rumah tangga. Dalam ritual tersebut mereka akan mengalami masa pengasingan dengan cara dikurung dalam waktu 3 hingga delapan hari.

Selama masa pengurungan gadis-gadis yang mengikuti Posuo akan fokus menghadapi bimbingan spiritual, petuah, dan pesan moral termasuk pengetahuan tentang pernikahan dan cara membina bahtera rumah tangga yang baik. Orang yang ditugaskan sebagai pembimbing gadis remaja ini dikenal dengan sebutan bhisa.

“Tadi puncaknya mereka sudah dibolehkan keluar dari rumah. Sejak lebaran idul adha lalu mereka sudah menjalani ritual Posuo,” ungkap Sekretaris Dinas Kebudayaan Buton, La Ode Zainal Abidin.

Puncak acara festival Pesona Budaya Tua Buton dilangsungkan di Alun-alun Takawa, Pemkab Buton, Minggu (26/8). Sebagai acara penutup, lima ribu penari kolosal tampil menunjukan atraksi yang memukau. Ada lima jenis tarian yang ditampilkan. Lima tarian tersebut yaitu, tari Lawati sebagai tarian menjamu tamu istimewa di zaman Kesultanan Buton. Selanjutnya tari Kalegoa, tari Bhosu, Tari Ngibi dan Tari Linda, serta Tari Potimbe. Di puncak acara, para penari menampilkan konfigurasi Pesona Buton Indonesia. Penari juga menampilkan konfigurasi Nanas dan Naga yang memiliki erat kaitan dengan Kesultanan Buton pada massa lampau. (b/mel)

2 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top