Pariwara
Ekonomi & Bisnis

Empat Komoditas di Kolut Turun Harga

Harga Terus Menurun: Seorang petani lada diKolut, tengah panen, beberapa waktu lalu. Foto: Rusli/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Empat komoditas ekspor bidang perkebunan di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) yakni cengkeh, kakao, lada dan kopra mengalami penurunan harga. Petani hanya memperoleh keuntungan yang tipis dari setiap penjualan hasil buminya.

Rusni, warga Desa Lambai Kecamatan Lambai mengutarakan rata-rata hasil bumi mengalami penurunan dan bahkan berlangsung setiap bulannya. Contoh, kopra kategori putih semula dibaderol Rp 1,2 juta perkilogram. Seiring waktu, harganya terus menyusut hingga saat ini bertahan pada angka Rp 450 ribu perkilogram.

Untungnya dianggap tipis karena hal itu belum setara dengan biaya pemanjat, pengangkut serta pengupas, utamanya petani yang tidak bisa membuang kulit kelapanya sendiri. “Kopra bisa juga begitu, sebelumnya Rp 1 juta dan sekarang sisa Rp 300 ribu perkilogram. Murah, turun terus dan tidak pernah naik,” ujarnya.

Adapun cengkeh pada awal musim panen ini, masih sempat diberondol Rp 100 ribu perkilogram. Namun, banyak hasil panen petani membuat harganya pun mulai susut menjadi Rp 85 ribu. Meski demikian, kondisi ini dianggap Rusni musiman karena setiap hasil panen petani melimpah harganya juga diturunkan. “Keluarkan biaya pembeli tangga juga dan ongkos pemanjatnya dihitung perliter sesuai banyaknya yang dipetik,” tuturnya.

Hal yang sama juga dialami komoditas lada. Salag seorang petani asal Desa Kaluku-luku Kecamatan Kodeoha, Bahar, menuturkan bahwa lada saat ini hanya dihargai Rp 45 ribu perkilogram. Bila jumlahnya banyak harga jualnya bisa mencapai Rp 50 ribu perkwintal. “Murah, turun terus harganya. Padahal pernah mencapai Rp 100 ribu per kg,” keluhnya.

Kasi Pengendalian Arus Barang dan Jasa Bidang Perdagangan Perindag Kolut, Syainal tidak menapik hal itu. Kata dia, ada dua komuditi yang berpengaruh terhadap penurunan nilai mata uang saat ini yakni kakao dan cengkeh. Nilai jual kakao petani sekarang dihargai Rp 27 ribu perkilogram dari angka sebelumnya seharga Rp 33 ribu. “Untuk kakao dan cengkeh hampir setiap hari turun harga,” bebernya.

Adapun yang sementara bertahan nilai jualnya, lanjut Syainal yakni kopra putih. Hal itu dinilainya ada kemungkinan kontrak pembelian oleh PT. Rubi sebagai satu-satunya perusahaan pembeli kakao yang ada di Kolut. Meski begitu, untuk semua jenis komoditas tetap mengalami peningkatan produksi pertahunnya meskipun harga di pasaran pasang-surut. “Selain mengikut penurunan nilai mata uang juga dipengaruhi kualitas komoditas itu sendiri karena musim saat ini tidak menentu,” pungkasnya. (rus/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top