Pariwara
Nasional

Menteri PPPA Larangan Anak di Bawah Umur Menikah

Yohana Yembise

KENDARIPOS.CO.ID — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Yohana Yembise kembali menyerukan agar seluruh pihak menghentikan pernikahan dini. Pernikahan di bawah umur meningkatkan risiko kematian ibu dan anak. Kualitas anak yang dilahirkan pun rendah.

“Perkawinan dini hanya memperpanjang rantai kemiskinan, jadi tolong setop perkawinan di bawah umur,” tegas Menteri Yohana dalam diskusi memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2018, Senin (6/8).

Dia mengungkapkan, KemenPPPA bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 telah mengumpulkan informasi mengenai jenjang pendidikan yang ditempuh perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah atau di atas 18 tahun. Hasilnya cukup memprihatinkan, sebesar 94,72% perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah usia 18 tahun atau usia anak tidak bersekolah lagi, sementara yang masih bersekolah hanya sebesar 4,38%.

Perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan pada usia anak pun cenderung memiliki pendidikan yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang kawin di atas usia 18 tahun. Perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin yang kawin pada usia anak paling tinggi hanya menyelesaikan pendidikan dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), yakni sebesar 42,11%, dan yang menyelesaikan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) hanya 11,54%.

Sedangkan yang melakukan perkawinan di atas usia 18 tahun mayoritas menyelesaikan pendidikannya hingga ke jenjang SMA, yakni sebesar 45,89 %. “Anak-anak yang menikah pada usia dini, tidak lagi memperoleh hak atas pendidikan. Padahal, selain bisa menjadi tangga bagi masyarakat untuk mengubah status sosial mereka, pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian, mendapatkan pengalaman, dan membentuk generasi bangsa yang cemerlang,” beber Mama Yo, sapaan karib Yohana.

Dia menambahkan, pihaknya tengah mendorong revisi Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, terutama pasal yang mengatur batas usia perkawinan. Dalam undang-undang tersebut disebutkan perkawinan hanya diizinkan jika laki-laki sudah mencapai usia 19 tahun dan perempuan sudah mencapai umur 16 tahun, serta memenuhi syarat – syarat perkawinan. “Batas minimal usia perkawinan tersebut justru mendorong praktik perkawinan anak. Sebaiknya batas minimal perkawinan dinaikkan, terutama bagi perempuan, karena usia 16 tahun masih tergolong usia anak atau belum dewasa,” ungkapnya. Selain mendorong revisi UU Perkawinan, KemenPPPA juga aktif melakukan kampanye “Setop Perkawinan Anak” yang telah dilakukan di tujuh Provinsi sejak 2016. (esy/jpnn)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top