Pariwara
HEADLINE NEWS

Atlet Tuna Netra Berprestasi Nasional asal Bombana, Dipuji Ketika Berjaya, Dilupakan Saat Menderita Sakit

TERBARING SAKIT: Hajra L Johan, atlet tuna netra berprestasi asal Kelurahan Rahampu’u, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana kini hanya bisa terbaring lemas di pembaringan. Dia terkena penyakit TBC dan diabetes militus. Ingin berobat, namun terkendala biaya. Foto: Kamaruddin/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Hajra L Johan masih ingat ketika berhasil ‘memborong” tiga medali emas sekaligus dalam ajang Pekan Olahraga Cabang Nasional (Porcanas) tahun 2008 di Kalimantan Timur (Kaltim) lalu. Kemudian di ajang Asian Games 2011 di Solo, dia juga sukses mempersembahkan medali perak dan perunggu. Kesuksesannya menuai pujian kala itu, eskipun imbalan yang diperoleh tidak sebanding dengan prestasinya. Kini, dia tergolek lemah di rumahnya karena menderita penyakit TBC dan Diabetes Militus (DM). Pemerintah tak peduli padanya.

Hajra kini hanya bisa tergoleh lemah di ranjang berukuran 1 x 2 meter. Berat badannya terus menurun akibat penyakit TBC dan Diabetes Militus (DM) yang menggerogotinya. Niat hati ingin berobat, namun tak punya biaya. Dia dan keluarga pasrah menjalani nasib, meskipun tetap terbesit harapan agar pemerintah dan para dermawan mau berbaik hati membantu.

Mungkin masyarakat dan pemerintah lupa, kalau anak kedua dari empat bersaudara ini pernah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Tahun 2011 lalu, dalam ajang Asean Games yang dipusatkan di Solo, dia berhasil mempersembahkan medali perak dan perunggu dalam lomba lari 200 meter dan 400 meter.

Namun cerita itu hanya menjadi kenangan manis Hajra bersama keluarga. Sebab, apresiasi pemerintah pusat maun daerah sangat minim. Saat juara, imbalan yang didapat tidak seperti yang dijanjikan. Kini, dia tergolek lemas melawan penyakitnya, pemerintah juga seolah tutup mata. “Mungkin ini sudah takdir. Hanya saya berharap ada dukungan dari pemerintah,” kata Hajra, Senin (6/8).

Hajra adalah warga Kelurahan Rahampu’u, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana. Sebelum menjadi atlet tuna netra, Hajrah sebenarnya anak normal yang mempunyai segudang prestasi khususnya dalam bidang olahraga lari. Dimana, dirinya sering menjadi juara dalam pekan olahraga Kabupaten Bombana, yang digelar setiap hari ulang tahun (HUT) Kabupaten Bombana. Namun, saat perlombaan terakhir, 2007 lalu di Poleang mengubah 180 derajat kehidupannya.

“Saya dulu normal, melihat sama seperti orang-orang biasa. Namun setelah pertandingan di Bombana, tiba-tiba mata saya selalu mengeluarkan air. Kepala juga pusing-pusing dan lambat laun saya tidak bisa melihat sama sekali,” jelasnya.

Perempuan murah senyum ini tidak tahu, kenapa tiba-tiba terjadi seperti itu. Sebagian temannya bilang, karena dia kurang pemanasan. Ada juga warga kampung menilai, karena terlalu sering juara, sehingga banyak yang iri dan mengirimkan guna-guna (sihir). “Sampai saat ini, saya tidak tahu juga penyebabnya (jadi buta,red),” ujarnya.

Menghadapi “dunia” baru, membuat Hajra sempat frustasi. Namun berkat dukungan keluarga dan sahabatnya, dia bisa move on. Gairah untuk berprestasi kembali menggelora saat mendapat tawaran untuk mengikuti Porcanas mewakili Sultra di Kaltim. “Kesempatan itu saya ambil, karena yakin bisa mengubah hidupku,” ucapnya.

Saat itulah dia menapaki karir barunya sebagai atlet tuna netra pada Pekan Olahraga Cabang Nasional (Porcanas) tahun 2008 di Kalimantan Timur (Kaltim). Kala itu, dirinya berhasil memboyong tiga medali emas pada tiga cabang olahraga (cabor) yaitu lari 100 meter, Tolak Peluru dan Lempar Cakram. Namun sayang, prestasinya itu tidak dihargai pemerinta daerah. “Bonus yang dijanjikan tidak pernah terealisasi,” katanya.

Sebenarnya Pemprov Sultra menjanjikan uang pembinaan sebanyak Rp 75 juta untuk atlet yang meraih satu medali emas. Hajra berhasil membawa pulang tiga medali emas, sehingga harusnya dapat bonus Rp 225 juta. Tapi itu hanya janji saja, setelah ditagih hanya dikasih Rp 5 juta saja. “Itu jauh dari harapan kami,” sesalnya.

Namun, kekecewaan itu tak membuah anak kedua dari empat bersaudara berhenti menjadi atlet untuk mengharumkan daerah tanah kelahirannya. Di tahun yang sama, dia mendapatkan undangan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk menjadi salah satu atlet mewakili Indonesia dalam ajang Asian Games di Solo.

“Allhamdulillah, saya dipercayakan untuk mewakili Indonesia. Kala itu saya berhasil membawa pulang medali perak dan perunggu di dua cabor yaitu lari 200 meter dan lari 400 meter. Kemenpora memberi saya uang pembinaan Rp 50 juta, dan juga selama latihan setahun sebelum pertandingan saya digaji Rp 5 juta perbulannya. Ini sangat jauh berbeda kalau kita wakili Sultra,”paparnya.

Di tahun 2012, wanita kelahiran Bombana, 19 September 1988 itu kembali mewakili Sultra dalam event Nasional di Peparnas Riau. Di momen ini, dia kurang beruntung, sehingga tak bisa dapat juara. Hanya yang bikin dia kecewa, Pemprov hanya memberi uang saku Rp 750 ribu saja. Dua kali dikecewakan daerah, Hajra tak patah semangat untuk menjadi atlet dengan keterbatasannya. Di mana dirinya kembali diundang Kemenpora untuk mewakili Indonesia pada Asiean Games 2015 di Siangapura. Berkat kegigihannya, putri pasangan Letnan (Purn) Johan dan Rostina kembali mendapatkan medali perak pada cabor estafet.

“Allhamdulillah, saya selalu dipercayakan mewakili Indonesia di Asian Games khusus penyandang tuna netra. Dan selalu berhasil mendapatkan juara meskipun bukan medali emas, dan itu dihargai dengan baik oleh Presiden melalui Kemenpora,” terangnya. Setelah mengikuti Asian Games di tahun 2015, Hajra harus menjalani hidup seperti biasa. Dalam kesehariannya dengan keterbatasan dimiliki, dirinya hanya bisa membantu orang tuanya mengupas kelapa yang kemudian dijadikan kopra. Dengan penghasilan serba terbatas, Hajra tergolong salah satu keluarga tidak mampu di Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana.

Singkat cerita, awal 2017, Hajra mulai sakit-sakitan. Hidup di bawah garis kemiskinan, atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa hanya bisa pasrah dengan penyakit yang dideritanya. Jangankan untuk berobat, kebutuhan sehari-hari saja serba terbatas. “Saya ingin cepat sembuh supaya bisa kembali seperti semula, berjuang atas nama bangsa dan negara,” harapnya.

Kondisi Hajra yang sangat memprihatinkan langsung mendapatkan respon cepat oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bombana melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Bombana. Hajra kini mendapatkan pengobatan intensif. Dimana kondisi terakhir Dinkes Bombana telah menjemput Hajra di kediamannya, kemudian diberikan perawatan intensif di RSUD Kabupaten Bombana.

“Pasien (Hajra,red) sudah mendapatkan penanganan dari Puskesmas setempat selama tiga bulan terakhir. Sebelumnya, hanya terbaring lemas selama enam bulan. Nanti setelah dilakukan pendataan tentang masyarakat sehat baru diketahui. Keluarganyah memang tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan ekonomi,” ungkap dr. Sunandar, Kadis Kesehatan Bombana. Dia memang sudah pernah dirujuk beberapa kali tapi keluarganya tidak mau bawa karena tidak punya uang. Memang pengobatan gratis, tapi biaya hari-harinya di rumah sakit yang mereka pikirkan. (b/*)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top