Pariwara
Kolom

Partai Gagal Siapkan Kader, Oleh : Irwan Zainuddin

Irwan Zainuddin

KENDARIPOS.CO.ID — Kursi legislatif memang menggiurkan. Bakal calon legislatif (bacaleg) berasal dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda-beda. Bahkan, ada yang rela melepas seragam korps-nya dan memilih berebut kursi di parlemen. Namun, ada yang janggal dengan partai politik. Mereka gagal menyiapkan kader. Buktinya, ada teman yang setahu saya tidak terlibat di partai. Dia bukan kader partai. Tapi terdaftar sebagai bacaleg juga.

Padahal, salah satu tujuan didirikannya partai politik yakni melakukan rekrutmen politik secara luas untuk mencari generasi muda potensial yang disiapkan menjadi kader. Artinya, kader itu disiapkan oleh partai. Dididik oleh partai untuk dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan. Tapi mengherankan. Kok Partai membuka pendaftaran bakal calon legislatif? Memang tidak ada yang salah. Bukan pelanggaran. Saya hanya melihat, mungkin ada kegagalan partai dalam menyiapkan kader yang bisa dicalonkan.

Banyak orang-orang yang selama ini tidak bekerja dalam membesarkan partai tapi, bisa duduk jadi anggota legislatif. Meskipun akhirnya direkrut menjadi anggota partai setelah menduduki posisi wakil rakyat. Berbanding terbalik dengan kader tulen. Banyak kader partai yang bekerja dalam membangun partai tapi tidak ikut bursa bacaleg. Partai terkadang lebih menerima orang luar. Dan konon juga (ini hanya desas desus yang masih sulit dibuktikan), katanya ada juga mahar jika ingin memilih nomor urut. Walaupun nomor urut bukan lagi penentu keterpilihan. Kalau begini pola yang dilakukan partai, jangan salahkan kalau ada tokoh-tokoh yang bisa jadi kutu loncat. Ada orang-orang yang hanya menikmati dan duduk manis di nomor urut 1 karena ada embel-embel fulusnya banyak.

Hampir mirip klub sepak bola. Bisa transfer pemain. Cuma yang membedakan: kalau klub bola, ada nilai transfer yang harus dibayar oleh klub penerima, tapi partai politik tidak ada ji yang transfer dan bebas biaya. Mungkin harus ada undang-undang yang mengatur berapa besaran nilai transfer jika tokoh pindah partai. Jika begini kondisinya, kita tidak usah menghabiskan waktu urus partai atau menjadi kader partai. Tunggu saja lima tahun lagi saat pileg atau pilkada. Kita mendaftar di partai untuk jadi caleg. Karena jadi CALEG tidak harus jadi KADER PARTAI.

Kekuatan Tokoh

Berlanjut menyoal nomor urut. Undang-undang telah menetapkan, peraih suara terbanyak-lah nanti yang akan terpilih menjadi anggota legislatif, bukan dengan nomor urut. Ini keadilan kerja politik. Orang yang memiliki kemampuan dipilih jadi anggota dewan, tidak lagi ditentukan oleh partai.

Partai menjadi jembatan menuju lembaga dewan yang terhormat. Hanya syarat administratis saja. Kalau sudah memenuhi secara formal, maka partai tidak lagi menentukan nasib bapak ibu sekalian. Kalau ada partai mengatakan partai besar, mungkin karena partainya hebat memilih nama untuk didaftar di KPU. Tapi sesi ini, nanti kita bahas lagi yach (edisi selanjutnya, red).

Saat nama bapak-ibu disahkan KPU sebagai calon anggota dewan, maka kekuatan partai tidak lagi menentukan, tapi ketokohan bapak-ibu sendiri. Pertaruhan anggota dewan adalah pertaruhan ketokohan. Bukan pertaruhan partai. Faktanya, ada ketua partai tidak terpilih jadi anggota legislatif. Namun, ada pula bukan tokoh partai malah terpilih. Dan ingat, kita ini tidak lagi memilih partai, tapi kita memilih orang yang ada dipartai. Itu kedaulatan kita yang tak bisa terbeli. Selamat bertarung bapak ibu calon dewan yang terhormat dan jadikan dewan itu lebih terhormat. (*)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top