Pariwara
Konawe Utara

Nasib Honorer K2 di Konut, 13 Tahun Mengabdi Rp 250 Ribu per Bulan

ARSIP: Jusman, honorer K2 di lingkup Pemkab Konut membuka dokumen SK-nya sebagai tenaga honorer sejak tahun 2005. Foto: Helmin Tosuki/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Jusman, pegawai honorer di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe Utara (Konut) manaruh harapan besar menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui formasi Kategori-2. Ia memulai pengabdiannya di pemerintahan sejak tahun 2005. Selama 13 tahun mengabdi, ia diberi honor sebesar Rp 250 ribu per bulan.

Jusman bersama honorer lain, Muh Irwan dan Firmus masih menyimpan rapi dokumen Surat Keterangan (SK) honorer yang diterbitkan sejak mulai menjadi tenaga honrer hingga saat ini. Mereka tak pernah putus asa, berharap dokumen itu akan dibutuhkan kelak ada pengangkatan honrer untuk menjadi ASN.

Jusman terus membuka arsip sebagai bukti bahwa ia benar-benar tenaga honorer. Dokumennya mulai usang. Ia ketar-ketir, ada kabar pengangkatan honorer K2 menjadi abdi negara. Warga Desa Tokowuta, Kecamatan Wawolesea mulai mempersiapkan kelengkapan berkas administrasi bukti pengabdiannya sebagai honorer sejak Kabupaten Konut belum memisahkan diri dari Kabupaten Konawe.

Ia pertama kali tercatat menjadi honorer sebagai staf Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe saat itu. “Saya mengabdi sejak tahun 2005 sebagai staf Kecamatan Sawa sebelum Konut mekar. SK saya masih tersimpan rapi dalam map,” ujar Jusman yang ditemui di kediamannya, Jumat, (27/7). Pasca Konut terbentuk menjadi daerah otonomi baru (DOB) tahun 2007, Jusman ditempatkan sebagai staf bagian Administrasi Pemerintahan Umum Pemkab Konut hingga sekarang. Rutinitas sebagai honorer ia lakoni setiap saat. Meski tak setiap hari berkantor. “Dalam seminggu minimal tiga kali kita masuk berkantor,” jelasnya.

Keinginan Jusman menjadi ASN sangatlah tinggi. Makanya SK dari tahun ke tahun masih ia simpan dengan sangat rapi. Walaupun ia diberi honor Rp 250 ribu perbulan, ia tetap teguh dengan pendirian untuk mengabdi pada pemerintah. Sekalipun upah yang ia peroleh sebagai honorer tak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. “Iya, kita simpan-simpan saja ini SK. Siapa tahu rezeki, jadi kita bisa diangkat jadi PNS,” asa pria kelahiran Belalo, 1982 itu.

Menjadi honorer ia sudah lakoni selama 13 tahun, kondisi itu tak membuatnya patah arang. Ia terus memanjatkan doa dan berikhtiar diangkat menjadi ASN. Saat perekrutan CPNS K2 beberapa tahun yang lalu, Jusman bersama dengan sejumlah rekannya ikut mendaftar. Namun ia belum terakomodir menjadi ASN. “Pernah ikut tes sekali melalui K2, tapi tidak lolos,” kenang Jusman.

Pegawai Honorer lain, Muh Irwan mengaku masuk sebagai honorer sejak Konut mekar pada tahun 2007. Warga Kecamatan Lembo ditempatkan sebagai staf pada Kesbangpol Konut. Keinginannya menjadi ASN h untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga. Ia sangat berharap pemerintah mengangkat CPNS melalui formasi K2. “Semoga pemerintah pusat membuat kebijakan pengangkatan PNS bagi honorer K2″pinta lelaki kelahiran Pudonggala 10 Februari 1983 itu.

Nasib yang sama juga dirasakan, Firmus Wuwur Efendi. Tenaga honorer pada Puskesmas Langgikima mengabdi sejak tahun 2009 silam. Aktivitas sebagai honorer ia terus melakoninya. Ia tak pernah berhenti berdoa agar diangkat menjadi SAN. Meski upah sebagai tenaga honor yang tidak besar namun ia tetap bersyukur. Ia tak bisa berbuat banyak, hanya pasrah dengan keadaan dan terus berdoa. “Iya mau diapa, kita berdoa saja supaya ada kebijakan pemerintah yang berpihak pada honorer supaya diangkat jadi PNS,” kata pria kelahiran Wuwur 7 Agustus 1979 itu.

Jusman, Muh Irwan dan Firmus Wuwur Efendi merupakan deretan honorer yang senasib dengan honorer lain di Konut yang masih setia menunggu untuk menjadi abdi negara. Program pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) yang dihembuskan pemerintah untuk mengcover para honorer ternyata hingga kini belum direalisasikan pemerintah. Alasan anggaran masih menjadi kendala P3K belum bisa diterapkan di Konut.

Pengangkatan honorer K2 menjadi PNS hingga kini masih simpang siur tanpa kejelasan yang pasti dari pemerintah. “Belum ada petunjukya. Berdasarkan pengalaman nanti terbit peraturannya baru ada penerimaan. Seperti K1 kemarin, nanti ada payung hukum baru dipanggil semua BKD ke pusat. Bagaimana modelnya ini penerimaan,” ujar Sekdis BKPSDM Konut, Alfian. Terkait dengan P3K memang belum diterapkan di Konut. Sebab sangat berkaitan dengan sistem penggajian. Apalagi ketika mengangkat P3K, anggarannya dibebankan pada APBD kabupaten/kota.

“P3K ini kan terkait dengan penggajian mereka (Honorer). Karena P3K ini sama dengan sistem penggajian PNS. Hanya saja tidak ada tunjangan hari tua. Kendalanya memang pada sisi anggaran saja sehingga ini tidak diberlakukan,”ujarnya. Terkait jumlah K2 Konut secara keseluruhan, Alfian belum memastikan.

Terpisah, Ketua DPRD Konut, Jefri Prananda menuturkan jika Asosiasi Ketua DPRD se Indonesia kini tengah memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tergabung dalam honorer kategori dua (K2) untuk diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN).

“Dalam pertemuan dengan asosiasi Ketua DPRD se-Indonesia yang digelar beberapa waktu lalu di Jakarta. Salah satu agenda pembahasan adalah memperjuangkan honorer K2 untuk jadi PNS,”ujarnya.

Pertemuan itu, para pimpinan Ketua DPRD se Indonesia menyepakati dan mendesak presiden Joko Widodo untuk melakukan pengangkatan honorer K2 sebagai PNS. Isu itupun direspon positif seluruh ketua DPRD untuk memperjuangkan secara bersama-sama.

“Keberdaan honorer K2 ini sangat membantu tugas-tugas pemerintahan yang ada didaerah. Makanya sudah sewajarnya pemerintah pusat untuk mengangkat mereka menjadi ASN. Karena keberadaan mereka tidak bisa dipandang seblah mata,” pinta Ketua DPC Partai Demokrat itu.

Jefri Prananda menuturkan khusus di Konut, honorer K2 memiliki komunitas yang tergabung dalam forum honorer K2 se Konut. Pihaknya sudah melayangkan surat pada Presiden agar surat dari forum K2 Konut untuk diakomodir guna diangkat menjadi PNS.

“Untuk jumlah honorer K2 saya tidak tau pastinya. Tetapi untuk surat mereka kita sudah sampaikan pada presiden. Apalagi para honorer K2 yang ada di Konut sudah ada puluhan tahun yang menjadi honorer namun belum diangkat. Besar harapan kita honorer K2 ini direspon baik oleh presiden,”pungkasnya. (***)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top