Pariwara
Opini

IMF, Tari Kecak dan Sharing Economy, Oleh: Syamsul Anam

Ekosistem Ekonomi Berbagi

Saat ini kita tengah menikmati platform anyar kegiatan bisnis yang semakin ringkas, sederhana namun berdampak masif, meski situasi ini ditopang oleh perkembangan teknologi namun semangat berbagi ini sebenarnya sejak lama jamak kita temui dalam kehidupan sehari-hari warga kita mulai dari pelosok hingga perkotaan, meski demikian kegiatan berbagi tersebut tidak komersil dan skalanya masih terbatas.

Ekonomi berbagi ini secara samar-samar mulai merambat melampaui batas dan sekat budaya hingga negara, sebut saja mobilisasi bantuan skala besar berbasis media sosial untuk pengungsi Rohingya, meski masih sebatas donasi namun melihat mode pengumpulan-nya yang berbasis media daring bukan tidak mungkin warga dunia akan memperoleh skim baru dalam mobilisasi dibidang keuangan untuk saling membantu namun tetap menguntungkan.

Oktober nanti kemampuan berbagi Indonesia akan diuji, menerima kehormatan sebagai host kegiatan pertemuan tahunan bagi 189 negara yang berhimpun didalam Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, akan berlangsung 2.000 pertemuan paralel selama acara berlangsung, dengan Bali khususnya Nusa Dua sebagai palagan utamanya.

Momentum ini benar-benar menjadi titik kisar bagi kemampuan pelaku ekonomi lokal-nasional untuk memperdalam kesaling hubungan, memper-erat kolaborasi dan sinergi serta mengembangkan platform ekonomi berbagi.

Saya membayangkan tidak saja para penari Kecak di Pura Suci Uluwatu yang akan menghirup wangi manfaat atas forum ini, namun juga oleh petani mente di Pulau Muna yang mente-nya dijadikan penganan penghantar minum teh pada 2.000 forum paralel pada Annual Meetings IMF-WB begitu juga nelayan tangkap di Pulau Buton yang sejenak sumringah atas permintaan daging tuna segar, rajungan, cumi dan udang oleh ratusan chef yang tengah berjibaku menyiapkan kudapan lezat bagi 12.500 orang delegasi pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali.

Kita menyambut pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali pada bulan oktober 2018, seraya terus menanti-nanti gerangan makna baru atas kenyataan tentang kesaling-hubungan antar tiap warga dunia (Globalisasi) yang niscaya baik dibidang ekonomi maupun pembangunan, seperti juga keniscayaan tentang dunia baru yang lebih adil dan sejahtera (*)

Penulis adalah Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari, dan Pengajar pada Jurusan Ilmu Ekonomi FEB Universitas Halu Oleo Kendari.

3 of 3

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top