Space Iklan
Pariwara
Opini

IMF, Tari Kecak dan Sharing Economy, Oleh: Syamsul Anam

Tarian Sinergi

Persaingan telah lama diyakini sebagai elan gerak dari pasar terutama dalam mencapai keseimbangan demi keseimbangan, meski demikian saat ini sulit untuk menyandarkan persaingan semata sebagai energi untuk bertumbuh dibidang ekonomi. Bahkan ditengah sengitnya persaingan sektor manufaktur dan perdagangan, tetap saja terlihat dengan telanjang betapa kerjasama (cooperation) adalah tulang punggung ragam kegiatan ekonomi.

Resi Walmiki penulis Wiracarita Ramayana tentu tak akan pernah membayangkan betapa penggalan-penggalan hikayat dan kisahnya dalam epos Ramayana telah menjadi mesin uang paling atraktif (revenue generator) bagi empat banjar pada Pada Desa Adat Pecatu Kabupaten Badung Provinsi Bali.

Tak tanggung-tanggung, dalam sekali perform, Tari Kecak yang memainkan penggalan dari babakan Ramayana di Pura Uluwatu tersebut bisa menghimpun penonton hingga 500 orang setiap harinya, dengan HTM sebesar 100.000 rupiah, itu berarti setiap hari desa tersebut memperoleh aliran pendapatan paling sedikit 50 Juta Rupiah atau 1 Miliar Rupiah Sebulan atau berkisar 12 Miliar Rupiah pertahun, hanya dari sebuah tarian indah berdurasi 60 menit.

Tanpa kerjasama, sulit membayangkan tarian ini bisa menjadi mesin uang bagi Desa Uluwatu sekaligus menghidupkan sanggar tari dan kesenian yang ada didesa tersebut, tak berhenti sampai disitu, aliran manfaat atas Tari Kecak ini mengalir jauh hingga ke-para penari, pendukung pentas hingga penyedia dupa, kostum dan kembang, aliran manfaat ini akan berjejalin dengan sektor lainnya dalam perekonomian domestik Bali dan menjadi pendorong perekonomian Indonesia.

Tak banyak yang melihat, sinergi indah antara Gerak Tangan Resi Walmiki di India ribuan tahun lalu yang menulis wiracarita Ramayana terhubung secara imajiner dengan Tari Kecak di Pura Uluwatu Bali dan hasrat melancong warga dunia yang menyaksikan dari dekat tari kecak tersebut, sinergi tersebut telah ikut mencipta harmoni dipalagan ekonomi tidak saja bagi dunia, namun juga bagi Indonesia, Bali, dan Desa Adat Pecatu.

Perihal semangat sinergi inilah kita melihat banyak lembaga lokal, nasional, internasional baik disektor publik maupun korporasi yang membangun nilai-nilai kelembagaanya dengan menanamkan semangat untuk saling bersinergi, sebut saja IMF yang setiap tiga tahun menghelat pertemuan tahunannya tidak dikantor pusat mereka di Washington D.C, namun dihelat di salah satu dari 189 negara anggota.

Hasrat IMF untuk bersinergi tidak saja secara simbolik terlihat pada diberikannya kehormatan pada negara anggota untuk menghelat pertemuan tahunan-nya (Annual Meetings) namun juga dapat dibaca pada forum-forum seminar, diskusi hingga regional briefing yang melibatkan kelompok masyarakat sipil dan akademisi, dengan topik-topik yang unik mengikuti konteks dan tempat penyelenggaraan pertemuan tahunan dilaksanakan.

Setidaknya penanda ini dapat kita cecap sebagai semangat IMF-Bank Dunia untuk terus terbuka bersinergi, bahu-membahu untuk saling bekerjasama dengan seluruh negara dan warga dunia untuk perekonomian yang lebih baik, inilah makna kedua perihal kolaborasi dalam sebuah tarian sinergi.

2 of 3

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top