Pariwara
Kolaka Utara

Sejarah Patowonua di Kolut Mulai Dikaji

MUHAMMAD RUSLI/KENDARI POS
KAJI SEJARAH : Para peneliti dan unsur pemangku adat Tolaki di Kolut usai melakukan kajian terhadap eksistensi Patowonua di daerah itu.

KENDARIPOS.CO.ID — Secara historis, Patowonua yang saat ini dikenal dengan sebutan Patampanua, dalam bahasa Tolaki bermakna empat kampung yang mengikat satu rumpun dan berpusat di Rahambauu pada abad ke XI Masehi. Di era kerajaan hingga memasuki pascakemerdekaan, keberadaannya perlahan terus tergerus dengan minimnya bukti-bukti peninggalan masa lampau. Hanya sedikit saja catatan dari berbagai sumber yang kini coba dihimpun kembali untuk mewujudkan kembali eksistensinya di era modern saat ini di Kolaka Utara (Kolut).

Eksistensi sejarah Patowonua itu mulai dikaji dan diprakarsai Balitbangda Kolut bekerja sama dengan LPPM Universitas Halu Oleo (UHO), Kamis (12/6). Dari sumber yang akan dikumpulkan tersebut akan dikaji dan dibukukan sebagai bacaan paten histori di wilayah tersebut. Akademisi UHO, Prof. Anwar, menjelaskan, Rahambuu terbagi empat cakupan dan mendiami daerah Lelewawo, Majapahit, Mala-mala dan Watunohu. Bukti-bukti peninggalan jejak kerajaan yang mendiami Kolut perlahan tergerus sejak masuknya penjajahan Belanda dan Jepang.

Masuknya Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dalam komando Kahar Muzakkar, merupakan masa paling berat karena dipandang bertentangan dengan syariat. Akhirnya banyak bukti sejarah yang hilang, terkecuali disimpan orang-orang tertentu. “Patowonua itu semacam konfederasi kerajaan masyarakat Tolaki yang terpecah empat kelompok membentuk struktur pemerintahan sendiri yang disebut Mokole,” ujarnya, kamis (12/7).

Kapan sebutan Patampanua itu muncul, Prof. Anwar mengutarakan jika sebutan itu memiliki makna yang sama dengan Patowonua. Patampanua merupakan sebutan versi Kerajaan Luwu yang tidak dimungkiri memiliki pengaruh besar terhadap kerajaan-kerajaan di sekitarnya meskipun tidak mengintervensi terlalu jauh keberadaan empat kerajaan yang berada dibawah Patowonua. “Tolaki menyebut Patowonua tapi versi Kerajaan Luwu, Patampanua sesuai bahasanya. Jadi sama saja, tetapi penyebutan yang beda,” bebernya.

Hasil rangkuman sejarah kerajaan di Kolut masih akan dibakukan dengan mengumpulkan bukti-bukti dari berbagai sumber untuk dikaji. Plt. Kepala Balitbangda Kolut, Masmur, mengutarakan sejarah Patowonua itu mulai sekarang sudah harus dihadirkan sebelum benar-benar hilang. “Semua dokumen dan bukti silahkan kumpul ke Litbangda. Karena kami ingin sejarah ini bisa tertuang secara otentik dan akurat penjabarannya. Selanjutnya, penyelamatan artefak,” ujarnya.

Keberagaman bukti yang diterima tentu akan lebih menghidupkan dan bisa mengkaji lebih jauh tentang eksistensi Patowonua itu. Dalam penulisan juga jangan ada egoisme namun harus semata-mata meluruskan sejarah. “Kalau ada perbedaan itu baik. Kita harus mulai dari sekarang atau tidak sama sekali,” pungkasnya. Sekadar diketahui, kegiatan yang digelar selama dua hari itu menghadirkan sejumlah doktor dan guru besar, termasuk Prof. Nurwati, Prof. Ruslim Hadanu serta Prof. Nasruddin Suyuti yang membawakan materi berbeda-beda sesuai penelitian masing-masing. (b/rus)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top