Pariwara
Kolom

Mendidik Bukan Memaksa, Oleh: Prof. Hanna

Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Tulisan ini diilhami kondisi riil masyarakat. Mereka menganggap bahwa mendidik anak sama halnya dengan memasukkan air ke botol sampai penuh. Kebanyakan orang tua tidak ingin anaknya mendapatkan nilai jelek di sekolah. Konsekuensinya, berbagai cara mendidik pun ditempuh agar semua nilai tetap bagus, tanpa memahami potensi anak mereka.

Satuan pendidikan juga tidak melihat potensi anak didik yang akan masuk ke sekolah, kecuali nilai yang tertera dalam rapor. Padahal, perlu dipahami, pendidikan itu merupakan proses bukan hasil. Seperti membangun hari ini, besok jadi. Mendidik anak tidak seperti itu.

Kita mendidik hari ini, tunggu sekian tahun kemudian hasilnya baru tampak. Untuk memahami ini, GADIS mengetengahkan real story tentang kehidupan keluarga kapitalis. Sang suami bekerja di sebuah perusahaan. Awalnya hidup serba kekurangan. Namun, dia pantang menyerah. Berkat kerja keras dan keterampilan dimiliki, sehingga mendapatkan posisi strategis di perusahaan besar tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan mereka semakin membaik. Anak mereka juga terus bertambah. Ketika anak-anaknya sudah memasuki usia sekolah, ternyata tidak semua bisa mengikuti sosok sang ayah yang secara akademis hebat. Dari tiga anaknya, ada satu yang kurang punya potensi di bidang akademik. Sehingga, saat musim penerimaan rapor, ayahnya begitu murka. Bahkan, tak segan dia mengusir si anak.

Tiba di rumah ia mengomel kepada istrinya. Dianggapnya tidak beres mendidik anak. Singkat cerita, sang anak langsung meninggalkan rumah. Beberapa tahun kemudian, suami istri ini mengunjungi sebuah panti asuhan. Sang suami sempat memberikan sambutan, dengan bangga dia menyampaikan kalau pernah mengusir anaknya yang “bodoh” karena nilai rapornya mengecewakan. Oleh karena itu, ia mengharapkan kepada para santri untuk belajar keras agar tidak mengalami kejadian serupa.

Masih dalam kegiatan itu, acara selanjutnya diisi tausiah dari seorang pemuda. Caranya menyampaikan begitu luar biasa, sampai membuat orang yang hadir terpukau. Dalam salah satu ceramahnya yang menyentuh dia menyampaikan kalau pernah diusir orang tuanya dan kini menjadi pembina panti asuhan (mendirikan panti asuhan).

Air mata si ibu tidak bisa dibendung lagi. Sebab, ternyata pemuda itu adalah anaknya yang “hilang” beberapa waktu lalu. Cerita ini membawa kita kepada beberapa hal bahwa dalam mendidik jangan meksakan kehendak orangtua. Karena tuntutan untuk menguasai semuanya, terutama dalam hal akademik, menjadi beban bagi si anak.

Orang tua tidak boleh merendahkan kemampuan anaknya. Hal ini perlu pahami karena setiap anak memiliki potensi dan keunggulan masing-masing. Contohnya saja para ilmuan seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Isaac Newton, Charles Darwin, atau ilmuan lainnya. Para ilmuan tersebut ternyata tidak menjadi brillian di semua bidang. Namun, mereka mampu menjadikan kegemaran dan potensi mereka menjadi penutup di kekurangan lainnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top