Pariwara
Nasional

Presiden Dorong Petani Jual Beras Kemasan, Pengamat: Masih Sulit Diterapkan

Ilustrasi Petani

KENDARIPOS.CO.ID — Presiden Joko Widodo mencetuskan ide agar para petani mulai menjual beras kemasan daripada sekedar menjual gabah. Tujuannya agar keuntungan petani bertambah. Namun ide ini dianggap masih sulit selama pemerintah menerapkan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Pengamat Kebijakan Publik dan Mantan Sekretaris BUMN Said Didu mengapresiasi ide presiden tersebut. Namun ia mengingatkan, untuk mewujudkannya, dibutuhkan kerja keras yang tidak main-main. “(Ide Presiden,Red) berarti harus menerapkan perubahan besar di semua struktur pangan. Baik produksinya, maupun perdagangannya,” kata Said jumat (29/6)

Pasalnya, untuk menerapkan ide tersebut, otomatis petani harus mengeluarkan ongkos tambahan (cost) untuk melakukan pengeringan, penggilingan, pengemasan sampai distribusi paska panen. Hal ini tentu tidak bisa diterapkan pada semua petani. Ada beberapa petani yang modalnya kuat. Yakni mereka yang mampu berproduksi sekitar 8 ton sekali panen dengan luas lahan 3 hingga 5 hektar. Patani kategori ini adalah produsen pangan.

Disisi lain, ada petani yang lemah dalam permodalan, dengan resiko tinggi dan hanya memiliki 2 ribu meter persegi sampai setengah hektar lahan. “Itu struktur pertanian kita saat ini. Artinya ada petani yang punya akses ada yang tidak punya,” kata Said. Dirinya khawatir, dengan penjualan beras kemasan ini, yang diuntungkan justru produsen kemasan dan para distributor. Selain itu, walaupun petani-petani bermodal besar mampu memproduksi beras kemasan dan tetap untung, tetap akan berdampak pada petani kecil. Beras dengan sekala produksi besar milik mereka akan semakin murah, sebaliknya beras skala produksi kecil yang dihasilkan petani kecil akan semakin mahal.

“Ide presiden ini bagus, hanya saja para petani harus diproteksi dari persaingan macam ini. Jangan pakai mekanisme pasar murni,” kata Said.
Sementara itu, Kementerian Pertanian optimis ide presiden bisa diwujudkan. Menurut Dirjen Tanaman Pangan Kementan Sumardjo Gatot Irianto mengatakan bahwa Kementan sudah lama memberlakukan ide tersebut. “Hanya saja baru disebut presiden sekarang. Ya kami bersyukur kan ada dukungan,” kata Gatot.

Untuk mendukung ide tersebut, Gatot mengatakan sudah ada 1000 fasilitas pengeringan padi yang tersebar di seluruh indonesia pada tahun 2018. Kemudian, ditambah 159 fasiltas penggilingan padi. “Jadi setelah dikeringkan bisa langsung digiling,” ujarnya.
Ditambah lagi ada 50 lokasi Sentra Pengolahan Padi Terpadu (SP3T). Sentra ini menyediakan semua fasilitas mulai dari pengeringan, penggilingan hingga packaging. Gatot menyebut sudah banyak sekali petani-petani di daerah yang memproduksi beras kemasan sendiri. “Jadi kedepan tinggal kita perbanyak dan perluas,” jelasnya.

Gatot mengakui memang petani-petani kecil belum mampu untuk memproduksi beras kemasan sendiri. namun, hal tersebut bisa diatasi dengan cara berserikat dan berkumpul melalui kelompok-kelompok tani maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan).”Jadi posisi tawar petani nya meningkat,” imbuhnya. (tau/jpg)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top