Pariwara
Konawe Selatan

Kekurangan Air Bersih, Makan Seadanya, Begini Kondisi Korban Banjir di Konsel

BERBAGI : Ketua TP-PKK Konsel, Hj. Nurlin Surunuddin (kedua dari kiri) menyerahkan sejumlah bantuan pada perwakilan warga korban banjir di Moramo Utara beberapa waktu lalu. FOTO: KAMALUDDIN/KENDARI POS

KENDARIPOS.CO.ID — Sejumlah warga desa Lamokula Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konsel, hingga kini masih dirundung derita pasca dilanda banjir sejak tiga hari lalu. Tercatat ada 367 warga dari 96 KK masih mengungsikan diri di SD 1 Lamokula Kecamatan Moramo. Kondisi air memang sudah surut, namun beberapa warga yang tertimpa musibah masih trauma akan datangnya banjir susulan. Pasalnya, kondisi hujan yang masih terus menerus melanda wilayah itu.

Disisi lain, beberapa warga lainnya masih sibuk membersihkan rumah mereka yang masih digenangi lumpur. Pemandangan di sepanjang jalan poros memang cukup memilukan. Pasalnya, tak hanya kehilangan tempat tinggal, mereka juga kekurangan air bersih. Begitu juga soal makanan, meski selalu tersedia, namun hanya seadanya saja.

Derita mereka semakin bertambah. Sebab, aliran listrik terputus sejak banjir melanda. Di malam hari mereka hanya bisa mengandalkan lampu tembol atau lilin untuk penerangan. Begitu juga siang hari, akses komunikasi seperti handphone tidak bisa gunakan. Saat ini, mereka hanya bisa mengungsi di SD terdekat. Beruntung karena posisi sekolah itu di ketinggian sehingga tidak terlalu terdampak banjir.

Cerita itu disampaikan Kepala Desa Lamokula, Rita yang ditemui di sela mendampingi warganya yang terdampak banjir itu. Dia mengaku prihatin dengan kondisi warganya. “Saya lagi jalan memantau rumah warga yang terendam. Jujur, saya tidak tahan lihat wargaku kasian. Mudah-mudahan banjir tidak terjadi lagi,” harapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dirinya berharap pemerintah cepat ambil langkah dan solusi.
“Karena tahun depan drainase dan pembuangan air mungkin sudah bisa selesai,” gumamnya penuh harap.

Wanita paruh baya ini menambahkan, penyebab utama banjir dipicu oleh debit air Kali Pundedao yang meluap. Dan tidak ada penbuangan saluran air yang cukup. “Jadi satu-satunya jalan harus ada tanggul besar saluran pembuangan. Sekitar 2 kilometer saluran yabg harus dibangun,” jelasnya.

Adapun untuk soal bantuan kata dia memang ada beberapa seperti bantuan logistik makanan. “Kalau soal bantuan lumayan. Hanya memang yang paling dibutuhkan saat ini adalah air bersih. Untuk makanan, meski seadanya saya pikir tidak masalah dulu. Terpenting adalah air bersih,” terangnya.

Kalau dari segi bantuan kesehatan, kata dia semua terlayani dengan baik. Beberapa petugas Puskesmas Lalowaru, Kecamatan Morut masih intens menyalurkan obat-obatan. “Ada dari PMII dan petugas Puskesmas Lalowaru Konsel. Paling dibutuhkan sekarang obat gatal, karena rata-rata masyarakat mengalaminya pasca banjir,” ujarnya.

Linartin (45) warga dusun 3 mengaku sudah tiga hari tiga malam mengungsi di sekolah SD tersebut. Dia juga menganggap yang dibutuhkan warga saat ini adalah kecukupan air bersih. “Kalau makanan dari pemerintah cukup. Hanya tidak ada pembeli ikan kasian. Kalau obat adaji, karena banyak disini yang sudah demam, ada juga yang gatal-gatal,” akunya.

Senada dikeluhkan, Sudarmin (47) saat ditemui di pengungsian. Ia berharap pemerintah harus memberikan bantuan rumah dengan merata. Manakala ada program rumah layak huni. “Kerena kita lebih merasakan di sini. Jadi harusnya tolong pemerintah bisa lebih prioritaskan kita ini,” harapnya.

Kondisi serupa juga dialami warga Kota Kendari yang harus tinggal di tenda-tenda darurat. Meski memiliki stok makanan yang cukup mereka mengaku tak bisa tidur nyenyak. Sebab anomali cuaca akhir-akhir ini membuat mereka tak bisa menebak kapan bisa kembali ke rumah.

Pantauan koran ini, Kamis pagi hingga siang kemarin (28/6), para pengungsi sibuk mengatur barang-barang mereka yang masih berada dibahu jalan. Sebagian lainnya masih membersihkan rumah. Sebab ketinggian air sudah surut signifikan. Hanya saja bisa naik cepat bila hujan turun lagi.

“Tadi malam (kemarin) hujannya tidak deras, jadi sudah kering pagi ini. Ada yang sudah bersih-bersih, tapi barangnya belum dimasukkan kembali. Karena kalau hujan lagi sore atau malam pasti airnya naik lagi,” Ani, salah seorang korban banjir di bantaran Kali Wanggu.

Sementara itu, bala bantuan aparat keamanan keamanan tampak masih aktif membatu warga di lokasi. Tidak terkecuali para pagawai kesehatan dan dinas sosial. Bantuan makanan yang datang dari berbagai pihak terlihat cukup di dapur umum.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, Suhardin mengatakan kondisi para pengungsi di bantaran Kali Wanggu baik-baik saja. “Kita pantau terus, warga memang masih bertahan di tenda. Tapi ada yang sudah mulai bersih-bersih rumah juga,” katanya.

Sejauh ini kata dia cuaca belum menjanjikan untuk kembali ke rumah. Olehnya itu warga jangan gegabah untuk mengembalikan barang-barangnya ke dalam rumah. “Jangan dulu balik, kita koordinasi terus dengan berbagai pihak, kelihatannya cuaca masih akan terus hujan, ” lanjut mantan Kasat Pol PP Kendari itu.

Selain di Wanggu, sejumlah titik banjir lainnya seperti Nangananga dan Lepolepo juga belum bisa kembali ke rumah. Dari catatan BPBD ada 2 ribu jiwa atau 500 lebih KK yang mengungsi. “Kebutuhan mereka kita cek terus, beras, telur, air dan lain-lain itu tersedia,” imbuhnya. (b/ely/kam)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top