Pariwara
Nasional

Bos First Travel Divonis 20 Tahun Penjara

VONIS BERSALAH: Bos First Travel Andika Surachman bersama istrinya, Anniesa Desvitasari Hasibuan divonis bersalah majelis hakim Pengadilan Negeri Depok, rabu (30/5). Keduanya dinilai terbukti melakukan penipuan perjalanan umrah dan pencucian uang dari duit setoran jemaah umrah. Foto: Jpnn

KENDARIPOS.CO.ID — Bos First Travel Andika Surachman divonis 20 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Depok, rabu (30/5). Sementara istrinya, Anniesa Desvitasari Hasibuan divonis 18 tahun penjara. Pasangan suami istri ini dinilai terbukti melakukan penipuan perjalanan umrah dan pencucian uang dari duit setoran jemaah umrah.

“Terdakwa Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana berupa penipuan dan pencucian uang secara bersama-sama,” ungkap hakim ketua membacakan amar putusan di Pengadilan Negeri Depok, rabu (30/5).

Andika dan Anniesa terbukti bersalah melakukan tindak pidana yang hukumannya diatur dalam Pasal 378 KUHP serta Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. Sedangkan dalam perkara pencucian uang, Andika dan Anniesa terbukti melakukan pidana yang ancaman hukumannya diatur pada Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPU jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Korban penipuan yang dilakukan oleh PT First Travel kecewa dengan vonis yang dijatuhkan kepada bos travel umrah tersebut. Sebagaimana diketahui, Direktur Utama First Travel Andika Surachman divonis 20 tahun penjara. Adapun istrinya, Anniesa Hasibuan dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Sedangkan Siti Nuraida Hasibuan alias Kiki divonis 15 tahun penjara. Korban First Travel bukan hanya calon jamaah, melainkan juga agen. Ruspitasari, 43, misalnya, salah satu agen asal Jakarta yang kecewa dengan vonis hakim. Meski mengaku menerima putusan majelis hakim, namun dia yakin sebetulnya hukuman untuk bos travel umrah tersebut bisa diperberat.

“Kalau untuk saya pribadi kecewa, tidak puas. Namun apapun keputusan dari hakim kami tetap menghormati, menghargai juga sebagai warga negara yang baik,” ujar Ruspitasari di Pengadilan Negeri Depok, Rabu (30/5).

“Harusnya (hukuman) sesuai dengan perlakuan mereka yang telah mendzolimi jamaah dan kami para agen,” lanjutnya. Kekecewaan mendalam dirasa Ruspitasari terkait aset First Travel. Jumlah aset yang awalnya diinfokan mencapai Rp 200 miliar, berubah menjadi hanya Rp 20-30 miliar.

Atas dasar inilah, pengurus korban First Travel melayangkan surat ke Pengadilan Negeri Depok. Intinya, mereka tidak mau mendapat pelimpahan aset First Travel tersebut. Penolakan itu dikarenakan aset yang dikembalikan terlalu kecil. Sehingga sulit dibagi secara rata kepada korban yang mencapai 63.000 orang.

“Terutama pada aset kami merasa sangat kecewa sekali. Sebagaimana yang tadi disampaikan kawan kami, kami menolak menerima pelimpahan aset karena sebelum keputusan ini, aset itu sekitar Rp 200 miliar. Namun ketika mau putusan (vonis) ini kami diberitahu aset hanya Rp 20 miliar sampai Rp 30 miliar,” tegas Ruspitasari.

Ruspitasari mengaku belum mengetahui langkah ke depan yang akan diambil guna mengembalikan uang jamaah. Dia bersama korban lain akan terlebih dahulu berkoordinasi untuk mencari perlindungan hukum. “Kami belum tahu langkahnya bagaimana. Yang pasti kami akan berusaha untuk mendapat hak jamaah kami. Sampai di mana kami akan tempuh proses untuk bertindak mengajukan perlindungan hukum,” pungkasnya. (sat/JPC)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top