Space Iklan
Pariwara
Kolaka Utara

Majelis Dirosa, Wadah Belajar Tajwid Orang Dewasa di Kolut

KENDARIPOS.CO.ID — Di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), terdapat majelis (kelompok) khusus belajar pengenalan huruf dasar membaca Alquran (tajwid) dengan baik dan benar. Tapi peserta bukan dari kalangan anak-anak, tapi khusus orang dewasa. Mereka berusia minimal 25 tahun dan paling tua 45 tahun. Menariknya, mereka juga berasal dari lintas profesi.

Usia boleh tak remaja lagi, namun untuk menuntut ilmu tak ada kata terlambat. Lalai di masa lalu bisa dibenahi saat ini. Karena jika bukan sekarang, maka akan merugi di masa depan. Kata-kata inilah yang menjadi dorongan kaum pria dan wanita muslim dewasa di Kolut belajar mengenal tajwid dengan harapan mahir dan fasih membaca kitab suci Alquran.

Bagi seusia mereka, lidahnya tidaklah muda dilenturkan untuk melafalkan huruf-huruf hijaiyah. Berbeda kalangan, status sosial hingga dialek suku masing-masing membuat penyebutannya terkadang beragam. Tetapi tak usah diragukan, semangat belajar yang tinggi melunturkan tantangan itu.

Majelis ini tidak jauh beda dengan murid yang belajar buku Iqra pada umumnya. Mereka menyebutnya Pendidikan Alquran orang dewasa yang disingkat Dirosa. Bedanya hanya terletak pada metode belajarnya saja yang nadanya bersenandung atau biasa disebut murottal, metode membaca yang memfokuskan pada penerapan tajwid sekaligus melagu.

Abd. Rahman, salah satu guru mereka yang menjabat Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Al quran (LP3Q) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Wahda Islamiyah Kolut. Dirosa ini memang dicetuskan oleh Ustaz Komari, S. Pd yang menjabat LP3Q Wahda Islamiyah pusat yang dipimpin Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin itu.

Dengan pakaian jubah coklat bercelana puntung, ia menjadi pengajar dihadapan puluhan pria dewasa, malam akhir pekan lalu di masjid lembaga tersebut. Murid-murid cukup bermodal buku panduan berisi 28 huruf hijaiyah. Di dalamnya juga terdapat penggalan-penggalan bacaan yang akan memenjadi patokan pertemuan.

Abdul Rahman mengungkapkan, Dirosa sebagai metode sistem klasikal 20 pertemuan. Gaya berbicara yang selalu sumringah itulah yang ia selaku nampakkan saat membimbing murid-muridnya. “Sukanya ya ketika mereka mau belajar saya bahagia. Dukanya itu hanya saat hujan terkadang pertemuan molor karena rata-rata naik motor,” ucap pria kelahiran Bone, 12, April 1977 itu.

1 of 2

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top