Pariwara
Konawe Utara

Warga Konut Minta Tambang dan Perkebunan Sawit Dievaluasi

Ilustrasi Tambang

KENDARIPOS.CO.ID — Aktivitas perusahaan tambang dan perkebunan kelapa sawit di Konawe Utara (Konut) ikut menyumbang terjadinya banjir bandang, sepekan terakhir. Pendangkalan sungai akibat material tambang, minimnya daerah resapan air akibat aktivitas clean land dari perusahaan sawit, sehingga ketika hujan turun dalam intentias tinggi, langsung banjir. Kondisi ini diakui masyarakat Konut, terutama yang merasakan langsung dampak bencana alam tersebut.

Untuk itu, warga Konut minta supaya keberadaan perusahaan tambang dan perkebunan kelapa sawit dievaluasi ulang. Sebab, sumbangan PAD yang mereka berikan, tidak sebanding dengan kerusakan akibat banjir bandang. “Kami minta Pemkab Konut melalui instansi terkait meninjau ulang aktivitas perusahaan tambang dan perkebunan kelapa sawit. Sebab, kerusakan yang mereka timbulkan sangat merugikan masyarakat,” ungkap Wawan, warga Langgikima, Konut, kamis (24/5).

Sepengetahuannya, ada tiga perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Konut. Yakni berbendera PT Damai Jaya Lestari (DJL), Sultra Prima Lestari (SPL), Perkebunan Sawit PTPN. Sementara untuk perusahaan tambang, malah lebih banyak. Meskipun belum semua kembali beraktivitas lagi. “Kami tidak ingin banjir serupa kembali terulang ke depannya. Makanya, kalau Pemkab Konut sayang warganya, harus lakukan evaluasi, sekaligus mencari solusi komprehensif dengan melibatkan banyak pihak,” jelasnya.

Kecamatan Langgikima dan Landawe memang paling parah terkena banjir bandang. Catatan Dinsos Konut, sebanyak 395 jiwa dari 96 KK harus mengungsi dengan mendirikan tenda darurat dan puluhan rumah luluh lantak. Makanya, Wawan dan warga lainnya sangat berharap, kejadian alam itu tidak terulang lagi.

Senada diungkapkan tokoh pemuda Konut, Rahmatullah. Dia menilai bencana banjir yang melanda daratan Langgikima, merupakan bias dari daerah serapan air yang telah beralih fungsi menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Meski tidak secara langsung, namun ikut berkontribusi mendukung terjadinya banjir. “Daerah aliran sungai yang berada di Desa Polora Indah juga sudah mengalami pendangkalan. Sehingga debit air yang besar tak bisa lagi ditampung,” kata Rahmatullah, kamis (24/5).

Normalisasi sungai, relokasi warga dan pengerukan sedimentasi lumpur di daerah aliran sungai, kata dia merupakan solusi jangka panjang yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Sehingga dikemudian hari banjir bandang tak terjadi lagi. “Harus ada normalisasi dan mencegah munculnya material tambang atau lainnya yang bisa menyebabkan pendangkalan,” harapnya.

Kepala Desa Landawe Utama Kecamatan Landawe, Basrun saat ditemui mengaku banjir bandang yang menerjang desanya tidak berlangsung lama. Dimulai dari pagi hari, air kembali surut pada pukul 16.00 wita. Kendati begitu, dampak yang ditimbulkan sangat luar biasa.

Dia mengakui, kalau kampung yang dinakhodainya seringkali menjadi langganan banjir. Terutama saat intensitas curah hujan tinggi. “Sebelum kehadiran perkebunan dan pertambangan memang seringkali banjir. Tapi banjirnya tidak sebesar kejadian pekan lalu. Kehadiran perusahaan perkebunan dan pertambangan ikut menjadi faktor penyebab semakin besarnya banjir melanda wilayah kami,” terangnya.

Dia berharap ke depan, ada solusi yang bisa dibicarakan bersama. Pemerintah dan masyarakat harus lebih proaktif menjaga sungai dari pendangkalan. “Kami tidak inginkan, kejadian ini terulang lagi,” ujarnya.

Pengakuan warga ini sejalan dengan pandangan Direktur Wahana Lingkungan (Walhi) Sultra, Kisran Makati. Menurutnya, berdasarkan catatan Walhi Sultra saat beberapa kali mengunjungi Konut, aktivitas pengerukan tambang dan perusahaan perkebunan kelapa sawit merupakan penyebab terjadinya banjir bandang di Konut.

“Air berwarna kemerahan saat banjir bandang melanda. Ini salah satu bukti konkrit, kalau yang dibawa adalah material bekas galian tambang. Termasuk terjadinya pendangkalan sungai juga karena sumbangan material tersebut,” jelasnya.

Kisran dan kawan-kawan sudah beberapa kali mengunjungi lokasi pertambangan dan perkebunan sawit. Untuk perkebunan sawit karena selalu lakukan land clean (pembersihan lahan) sebelum penanaman, sehingga menimbulkan daerah resapan di area tersebut berkurang. “Karena resapan kurang, maka ketika hujan turun dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan terjadi banjir bandang. Sungai tidak mampu lagi menampung debit air. Bukan hanya kali ini saja, tapi 2013 dan 2016 lalu juga seperti itu,” terangnya.

Lalu apa solusinya? Kisran berharap, ini menjadi perhatian serius bagi Pemkab Konawe Utara dan Pemprov Sultra untuk mengevaluasi kembali izin perusahaan yang terbukti tidak ramah lingkungan. Sebab, bagaimanapun kerusakan yang ditimbulkan akibat banjir tidak sebanding dengan PAD dari perusahaan tersebut. “Kami anggap, Konut sekarang darurat ekologi. Jadi butuh perhatian serius pemerintah daerah. Kasihan masyarakat kalau dibiarkan seperti ini terus,” tegasnya. (b/min/ing)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top