Pariwara
Ekonomi & Bisnis

Potensi Ekspor Sultra Tinggi tapi Pemasukan Minim

KENDARIPOS.CO.ID — Potensi ekspor di Sultra sangat tinggi. Itu karena daerah ini dianugerahi sumber daya alam yang melimpah, mulai dari pertambangan, pertanian, perkebunan hingga perikanan. Sayangnya, pundi-pundi rupiah dari hasil ekspor produk asal Bumi Anoa, tidak memberikan dampak yang signifikan bagi daerah. Nilainya sangat kecil, bila dibandingkan dengan daerah lain, yang mengambil produk dari Sultra.

Kondisi itulah yang mendorong Balai Karantina Pertanian Klas II Kendari, menginisiasi dialog bersama dengan instansi terkait, selasa (15/5). Kegiatan yang dikemas dalam bentuk coffee morning tersebut, dihadiri Kepala Balai Karantina Pertanian Klas II Kendari, Tasrif, Kasubbid Kepatuhan Kementan RI, April Beniawan, Kepala Bea Cukai Sultra, Deny Benhard, Kepala Bandara Haluoleo, Rudi Ricardo, Kabid Luar Negeri Disperindag Sultra, Sapoan, Kepala KSOP Sultra, Capt. Andi M Sulaeman, dan sejumlah pihak terkait.

Kabid Luar Negeri Disperindag Sultra, Sapoan mengatakan, permasalahan di lapangan yang menyebabkan nilai ekspor Sultra, masih kurang yaitu karena dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) tidak diurus di SUltra, melainkan di daerah lain seperti Jawa Timur, Makassar maupun Jakarta. Akibatnya, nilai dalam bentuk rupiah yang diperoleh Sultra, tidak berbanding lurus dengan hasil ekspornya.

“Selama ini, para pelaku usaha atau eksportir hanya mengurus Surat Keterangan Asal (SKA) produk saja. Tapi pengurusan PEB itu di luar Sultra, sehingga bilai ekspor yang tercatat di kami, itu hanya dari SKA saja. Sebab, rata-rata PEB diterbitkan di daerah lain,” ungkapnya.

Situasi inilah, kata dia, yang menyebabkan nilai ekspor Sultra tidak tercatat secara keseluruhan. Akibatnya pula, penerimaan daerah tidak terlalu signifikan.

Kepala Bea Cukai Sultra, Rudy Benhard, mengakui hal itu. Dia mengatakan, ekspor Sultra secara nasional itu bagus. Tapi imbas ke daerah, kurang pas. Sebab catatan (ekspor) tersebut, tidak kelihatan bagi daerah.

“Kita hadir di sini bersama-sama, untuk mengembalikan bahwa ekspor Sultra, riil baik catatan maupun fisiknya. Untuk realisasi, makanya semua instansi hadir di sini. Media, tolong sampaikan pada pelaku usaha seperti petani atau nelayan di Sultra, mari lakukan ekspor langsung di Sultra. Bea Cukai, Karantina, Imigrasi, Bandara, KSOP semua siap. Artinya kelancaran sudah disiapkan,” ujarnya.

Bea cukai, lanjutnya, punya dokumen PEB. Sehingga eksportir tak perlu jauh-jauh untuk mengurus PEB. Karena Bea Cukai sudah mempermudah dengan menyiapkan dokumen PEB yang juga bisa diakses secara online.

“Ekspor langsung bagi Sultra, bisa dan dampaknya sangat menguntungkan bagi petani dan nelayan, juga bagi pelaku usaha. Tidak usah khawatir. Kami ingin, catatan ekspornya dari Sultra, sehingga baik itu dari pelaku usaha dari Makassar, Surabaya dan Jakarta, nda ada problem. Tapi buatlah dokumen PEB di sini, terlebih lagi bagi nelayan dan petani,” ujarnya.

Rudi pun mengatakan, jika kenyamanan yang didapatkan eksportir di Surabaya, maka Kendari atau Sultra akan menawarkan yang lebih bagus lagi. Tujuannya, agar pelaku usaha atau eksportir, mengalihkan pengurusan PEB-nya Ke Sultra. Sebab, lanjut dia, dokumen ekspor sifatnya self assesment artinya terserah dimana eksportir mau mengurus. Karenanya, kenyamanan itu yang harus ditawarkan, untuk men-direct mereka ke Bumi Anoa.

Sementara itu, Kepala KSOP Klas II Kendari, Capt. Andi M Sulaeman menjelaskan, bahwa KSOP sangat siap mendukung pelaku ekspor di Sultra. Dimana, sejak 2005 s.d 2016, Pelabuhan Bungkutoko sudah beroperasi yang panjangnya kurang lebih 188 meter dan sudah dikonsidikan dengan Pelindo. Peran serta KSOP, lanjut dia, perizinan sudah sistem online. Namun yang perlu diketahui, kapal asing untuk masuk pelabuhan, tidak mungkin mengambil 1 atau 2 kontainer saja, karena itu yang buat biaya logistik lebih mahal.

Andi pun mengingatkan, agar jangan sampai kejadian di Bitung terjadi di Sultra. Saat itu PT. Humpuss, sudah masuk ke Bitung. Namun, hanya sekali mereka mengambil 5 kontainer, setelah itu tidak ada lagi dan hanya berjalan sebulan. Otomatis, pemasukan bagi daerah berkurang. Karena tidak ada lagi kapal asing yang masuk.

“Karena biaya lebih banyak, akhirnya kembali ke Surabaya. Untungnya, kami membuat catatan, boleh saja mereka di Surabaya, tapi PEB diterbitkan di Bitung. Semua ekspor dari Bitung ke luar, akhirnya kapal asing yang akan ambil produk di Bitung, tidak masuk lagi. kecuali dalam bentuk cair. Kami dari KSOP terutama perhubungan laut, saangat mendukung untuk program peningkatan ekspor di Sultra,” tambahnya.

Kepala Bandara Haluoleo, Rudi Ricardo mengatakan, untuk mencapai ekspor Sultra yang signifikan bagi pemasukan daerah, maka semua instansi harus bersinergi dengan dengan para pelaku ekspor, baik regulator maupun operator untuk peningkatan ekspor. Hanya saja, kata dia, bicara ekspor harus ada penanggung jawab tentatif schedule, sehingga instansi yang sudah bersinergi, tahu apa yang mesti dilakukan. (Ind/b)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top