Pariwara
Politik

Paslon Dilarang Kampanye Berkedok Perayaan Keagamaan

Ilustrasi

KENDARIPOS.CO.ID — Untuk menarik simpati masyarakat, para kandidat melakukan berbagai cara. Tak heran, masa kampanye benar-benar dimanfaatkan pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Konawe turun ke lapangan bertemu masyarakat. Sayangnya, masih ada kandidat yang berbuat curang. Dengan memanfaatkan momen perayaan keagamaan, mereka mengajak warga memilihnya. Padahal dalam PKPU nomor 4 tahun 2017 tentang kampanye pemilihan kepala daerah, hal itu dilarang.

Anggota Panitia pengawas pemilihan Kecamatan (Panwascam) Puriala Kabupaten Konawe, Restu memperingatkan Paslon mentaati aturan kampanye. Pasalnya, Panwas menemukan adanya Paslon yang memanfaatkan hari raya keagamaan, untuk melakukan kampanye dialogis. Sayangnya, Panwas enggan menyebutkan Paslon yang dimaksud. Alasaannya, mereka masih diberi peringatan. Bila terulang, pihaknya mengancam akan melakukan tindakan.

“Ya, beberapa waktu lalu ada paslon yang mencoba memanfaatkan hari raya Isra Mi’raj untuk bersosialisasi. Sementara ini sangat bertentangan dengan pedoman kampanye sebagaimana di atur dalam undang-undang dan juga PKPU,” beber Koordinator Divisi Hukum Penindakan dan Penanganan pelanggaran Panwascam Puriala, Senin (16/4)

Dalam PKPU nomor 4 tahun 2017 jelasnya, telah diatur waktu kampanye dialogis. Mulai dari jamnya, pelarangan penggunaan fasilitas pemerintah, seperti sekolah, tempat ibadah, serta tempat lain milik pemerintah. Bila ada paslon yang memanfaatkan momen peringatan keagamaan ini, maka dianggap sudah siap menerima konsekuensi.

“Jadi yang rugi nantinya adalah paslon itu sendiri. Niat untuk mendulang dukungan yang banyak, akan berbalik menjadi pelanggaran yang bisa berujung pada pemberian sanksi yang sangat merugikan pasangan calon tersebut,” Imbuhnya

Pada prinsipnya, Panwas tidak melarang para calon untuk merayakan hari besar sesuai keyakinan mereka masing-masing, sebab itu merupakan hak mereka sebagai umat beragama. Tetapi para calon juga diminta agar tidak melakukan kampanye dan membedakan dengan urusan agama. “Kalau ingin merayakan silahkan saja, asalkan tidak mencampuradukan antara urusan keyakinan untuk mendapatkan pahala dari sang pencipta dengan urusan mengejar kekuasaan,” terangnya.

Untuk itulah, ia mengimbau agar para calon kepala daerah peserta Pilkada serentak agar tidak memanfaatkan perayaan hari besar keagamaan untuk berkampanye. Sebab hal itu sangat bertentangan dengan aturan-aturan kepemiluan yang di atur dalan undang-undang nomor 10 tahun 2016 tentang pilkada serentak.

“Kami harap, semua calon dapat menciptakan suasana Pilkada yang kondusif jauh dari kegaduhan, serta santun dalam mengsosialisasikan program ataupun janji politik mereka, agar pelaksanaan pesta demokrasi ini benar-benar bersi dari hal negatif,” pungkasnya.(b/hel)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top