Pariwara
Ekonomi & Bisnis

Ekspor Sultra Capai Rp 4,7 Triliun

Hj. Siti Saleha

KENDARIPOS.CO.ID — Potensi Sumber Daya Alam (SDA) Sulawesi Tenggara ( Sultra) yang melimpah, telah memberikan nilai tambah bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Terbukti, tahun 2017 saja nilai ekspor mencapai US$ 344 juta. Peningkatan nilai penjualan keluar ini disumbang dari beberapa komoditi SDA yang menjadi andalan Bumi Anoa. Seperti ore nikel, aspal, rumput laut dan ikan beku. “Ekspor kita tinggi. Tahun lalu saja, bisa sampai US$ 344 juta. Tentu bukan angka yang sedikit, tapi nilai yang besar yang bisa mendongkrak pemasukan bagi daerah. Kalau untuk di 2018 ini, datanya masih sementara diolah,” kata Kadis Perindag Sultra, Hj. Siti Saleha, kamis (5/4).

Selain nilai ekspor yang meningkat, negara tujuan juga bertambah. Mantan Pj Bupati Bombana ini mengatakan, ada 7 negara tujuan utama ekspor Sultra diantaranya Tiongkok dan India, adalah negara tujuan utama dari ekspor Sultra. “Saya tidak mengetahui secara pasti nama-nama negara tersebut. Tapi dua negara yang saya sebutkan itu merupakan tujuan kita,” sambungnya.

Menurut Saleha, selain hasil SDA tersebut, ada pula komoditi asli Sultra yang sudah diekspor yaitu rotan. Sayangnya, kata dia, untuk ekspor rotan tidak menggunakan nama Sultra, tapi daerah lain. Sebab, rotan lebih banyak diantar pulaukan ke Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga Surabaya dan Jawa Timur.

Nilai ekspor untuk Sultra yang dibeber Disperindag, rupanya berbeda dengan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra. Sebab, di instansi vertikal itu, nilai ekspor Sultra yang tercatat selama Januari hingga Desember 2017, justru lebih tinggi dari yang tercatat di Disperindag Sultra, yakni US$382,96 juta. Agar tidak salah data, Siti Saleha memanggil Kasi Perdagangan luar negeri Disperindag Sultra, Yasser Tuwu. Dari Yasser Tuwu, diketahui bahwa tingginya nilai ekspor yang tercatat di BPS Sultra, disebabkan karena eksportir mengurus Pemberitahuan Ekspor barang (PEB) bukan di Disperindag, melainkan di bea cukai. Data dari bea cukai Kendari kemudian dilaporkan ke bea cukai pusat. Nah, PEB inilah yang tidak tercatat di dinas tersebut. Sebab, PEB hanya bisa diakses di Bank Indonesia (BI) dan BPS pusat.

“PEB dari bea cukai sini, baru ke bea cukai pusat dan yang bisa akses hanya BI pusat dan BPS pusat. Jadi ketika PEB tidak diterbitkan di Sultra, otomatis ekspornya tidak dicatat di Sultra. Tapi dari sisi aturan, itu tidak masalah. Kami mencatat data ekspor, berdasarkan surat keterangan asal (SKA) saja. Jadi meskipun PEB Surabaya, SKA terbitnya di Sultra, karena memang barangnya dari sini, otomatis kita catat sebagai ekspor Sultra,” jelas Yasser. Dia mencontohkan, ekspor PT. Antam yang PEB-nya Surabaya. Otomatis, kata dia, komoditi atau produk feronikel yang diekspor Antam itu, adalah milik Surabaya. Padahal produk yang diekspor adalah milik Sultra. (ind)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

The Latest

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top