Pariwara
Kolom

Membaca, Sebuah Alternatif, Oleh: Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Edisi kali ini, “Gadis” mengambil judul: Membaca Sebuah Alternatif. Judul ini terinspirasi dari pengalaman perjalanan saya waktu ke Paris beberapa waktu lalu. Kala itu, dalam suatu kesempatan, saya melakukan perjalanan dengan diapit dua orang. Disamping kiri seorang bule (sebutan untuk orang luar), sedangkan sebelah kanan, saya kurang tahu persis dari mana. Kedua orang ini, memiliki karakter berbeda. Di atas kendaraan yang kami tumpangi, si bule menghabiskan dua buku (untuk dibaca), sedangkan teman satunya, hanya menghabiskan beberapa cemilan yang ia bawa, selama perjalanan. Kalau disuruh memilih, tentu kebiasaan si bule merupakan hal positif. Menghabiskan waktu dengan membaca selama perjalanan tentu sesuatu yang baik.

Kalau dicermati, bisa dikatakan kalau si bule sudah “kecanduan” membaca. Sehingga, dia selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca. Dan ini tentu sesuatu yang positif. Lalu apa pelajaran yang bisa diambil? Bahwa ternyata kebiasaan si bule sangat berbeda jauh dengan budaya membaca di Indonesia. Coba lihat, berdasarkan hasil penelitian Perpusnas sebagaimana disampaikan Wakil Presiden, HM Jusuf Kalla, ternyata masyarakat Indonesia hanya mampu membaca lima buku dalam setahun.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Sebab, ukuran kualitas pendidikan suatu masyarakat, apalagi negara salah satunya dilihat dari seberapa intens mereka membaca buku. Situasi yang terjadi di Indonesia ini, kalau diibaratkan sebuah penyakit yang sudah kronis sehingga sulit disembuhkan. Masyarakat Indonesia menjadikan membaca hanya sebuah alternatif saja, bukan karena kebutuhan. “Penyakit” ini (kurangnya membaca,red) disebabkan beberapa faktor. Pertama, perkembangan teknologi yang begitu pesat, sehingga masyarakat lebih menyukai jalan pintas melalui internet, face book dan atau watss ap. Kedua, buku bacaan tidak lagi menyenangkan untuk dibaca dan terlalu banyak berpikir ekonomis. Ketiga, perilaku sosial yang senang berkumpul. Keempat, tidak dibiasakan sejak kecil. Kelima, paradigma bahwa membaca hanya bagi orang berada dan pejabat. Padahal yang perlu dipahami, membaca sangat memengaruhi kualitas suatu negara. Di negara berkembang, kemauan masyarakat begitu besar dalam membaca dibandingkan dengan negara kita.

Rendahnya minat baca masyarakat kita sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia. Sebab dengan rendahnya minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia. Di mana pada akhirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia.

Demikian juga malas membaca bisa membuat kita merugi. Sebab, ketika membaca suatu bacaan, itu artinya kita sedang memperluas wawasan, menambah pengetahuan. Kalau tak membaca, kita akan kekurangan informasi. Malas membaca buku berarti sama halnya menjerumuskan diri kita ke dalam suatu paradigma berpengetahuan sempit. Sehingga pengetahuan yang kita miliki sangat terbatas. Oleh karena itu, salah satu strategi yang perlu dilakukan untuk memotivasi diri kita dalam membaca adalah tulis apa yang Anda baca dan baca apa yang Anda tulis. (Hn)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top