Pariwara
Ekonomi & Bisnis

Stagnan di Bawah 100, NTP Sultra Masih Rendah

Biaya Produksi Tinggi: Petani padi menebar pupuk di sawah miliknya di Konda Kabupaten Konawe Selatan, beberapa waktu lalu. Foto: LM Syuhada/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulawesi Tenggara (Sultra) ternyata masih sangat rendah. Idealnya, petani dianggap sejahtera apabila NTP berada di atas angka seratus. Namun untuk Sultra, NTP hanya ada di range 95-an.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) dan Tanaman Pangan Sultra, H.M. Nasir Tumoro mengatakan, NTP adalah nilai yang diperoleh petani dari hasil usaha tani, itu lebih kecil dari biaya yang dia keluarkan untuk sarana produksi bahkan kebutuhan lain.

“NTP di bawah 100, berarti lebih rendah pendapatan yang diperoleh, daripada nilai yang dikeluarkan. Kalau di atas seratus berarti sudah bagus. Jadi NTP itu 100 ke atas atau 100 ke bawah. Makin jauh ke bawah, makin nda bagus. Jadi salah satu indikator tingkat kesejahteraan petani adalah NTP. di atas 100 sudah sejahtera. Tahun 2017, tanaman pangan antara 97-98. Tahun 2016, sama. Untuk tanaman pangan, belum pernah capai angka 100 sepanjang periode tanaman pangan di Sultra,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, senin (12/3).

Padi, jagung, kedele, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar adalah komoditi yang termasuk dalam tanaman pangan. Namun, komoditi tersebut, kata Nasir, hampir tidak pernah memberikan nilai lebih terhadap petani. Kendati saat ini harga gabah kering panen berada di harga Rp. 4.400 s.d Rp.4.800 per kilogram, namun harga tersebut tidak bisa menjadi ukuran kesejahteraan bagi petani. Sebab harganya hanya swaktu-waktu naik. Seandainya harga gabah kering panen selalu di angka tersebut atau di atasnya, Nasir sangat yakin, NTP di Sultra juga akan naik.

“Harga gabah naik pada saat di daerah lain ada kelangkaan dan mereka butuh. Di Sultra saja, dari 17 kabupaten/kota, yang surplus hanya lima kabupaten yakni Konawe, Konsel, Koltim, Kolaka dan Bombana. Ini berurut sesuai jumlah surplusnya. Daerah lainnya malah defisit. Surplus lima kabupaten karena potensi alam persawahan luas di lima daerah itu,” jelasnya.

Menurut Nasir, Distan dan Tanaman Pangan Sultra sudah berupaya untuk naikkan NTP Sultra. Caranya, menyiapkan sarana produksi pengadaan benih unggul, pengadaan alat dan mesin pertanian, mulai dari perapan sampai pasca panen, pupuk subsidi hingga pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) hingga, TNI. Namun semua cara itu, nyatanya tidak memberikan nilai lebih terhadap kenaikan NTP di Sultra.

“Kita lakukan pendampingan itu sampai teknologi budidaya yang dilakukan secara rutin. Karena meskipun 1 PPL harus membina satu atau dua desa, bahkan 2 s.d 3 desa dengan ratusan petani, tapi itu mutlak dilakukan. Tapi tetap tidak sebanding. Makanya NTP kita bermain di angka 90-an ke atas,” ujarnya.

Dia mengatakan, jumlah PPL di Sultra sebanyak 1.013 orang yang terdiri dari 229 PPL kabupaten/kota sebanyak dan kontrak Distan Sultra sebanyak 784 orang. Dengan jumlah PPL yang hanya 1.013 orang, otomatis tidak mampu memenuhi pendampingan terhadap semua petani.

Komoditi yang bagus di 2017, lanjut Nasir, yakni peternakan. Mengapa? Sebab peternakan, setelah petani membudidayakan sapinya, dia akan memperoleh nilai yang lebih tinggi dari cost yang dikeluarkan saat memelihara ternaknya.

“Tanaman pangan, mulai dari benih, pupuk, operasional, biaya tanam, pemeliharaan sampai panen, cukup tinggi biaya produksinya. Ada pupuk subsidi, tapi tidak semua pupuk subsidi bisa ditebus petani. Daya beli rendah. Karena tingkat kemampuan ekonomi petani dan kesadaran pentingnya pupuk dalam rangka peningkatan produksinya itu masih rendah. Ini yang menjadi penyebab utamanya”, tutupnya. (Ind/b)

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

The Latest

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top