Pariwara
Edukasi

Peneliti Harus Tingkatkan Diplomasi Ilmu Pengetahuan

Science diplomacy: Prof Makarim Wibisono membawakan paparan dalam Workshop On Science Diplomacy LIPI di Jakarta.

KENDARIPOS.CO.ID — Peran peneliti tidak sebatas di ruang laboratorium saja. Tetapi mereka juga mengembang misi diplomasi. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI Tri Nuke Pudjiastuti mengatakan, peran peneliti untuk menjalankan diplomasi ilmu pengetahuan harus ditingkatkan.

Dalam workshop Science Diplomacy di Jakarta (12/3), Nuke mengatakan, setiap tahun ada 500 peneliti yang dikirim keluar negeri. Kebanyakan untuk mengikuti kegiatan workshop atau seminar. “Peran ini masih di level satu dalam science diplomacy. Belum di level tiga,” katanya.

Lebih jauh Nuke mengatakan, hingga kini belum banyak peneliti di LIPI yang menjalankan peran sebagai diplomat ilmu pengetahuan di level teratas. Dia mencontohkan akan menjalankan sebuah misi diplomatik berbasis ilmu pengetahuan di bidang force migration.

Dijelaskannya, dalam forum yang diinisiasi itu lebih tinggi dari sebuah seminar. Sebab dalam pertemuan melibatkan pengambil kebijakan dari pemerintah Indonesia serta Australia. “Levelnya memang belum kepala negara. Tetapi setingkat dirjen,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut hasil riset dari para peneliti lintas negara tentang persoalan migrasi penduduk bisa dijadikan landasan kebijakan pemerintah Indonesia maupun Australia. Persoalan migrasi itu meliputi penyelundupan manusia maupun perdagangan orang. Di berharap ke depan peran peneliti untuk menjalankan misi diplomasi ilmu pengetahuan bisa semakin maksimal.

Prof. Makarim Wibisono, salah satu narasumber workshop mengatakan, ilmu pengetahuan sangat bisa dibuat sebagai diplomasi. Science diplomacy bisa digunakan untuk mewujudkan tujuan sebuah bangsa. “Beda dengan perang. Perang itu diplomasi yang menggunakan senjata,” jelasnya.

Dubes Indonesia untuk PBB (2004-2007) itu mengatakan, isu global sekarang berbeda dengan masa lalu. Isu global masa lalu lebih cenderung pada keamanan atau security. “Sekarang isunya soal ilmu pengetahuan, isu lingkungan, dan isu sumber daya alam,” jelasnya.

Dengan perubahan tersebut, kata Makarim, mau tidak mau iptek terlibat dalam diplomasi. Science diplomacy harus bisa mengamankan kepentingan Merah Putih. Misalnya pada isu kekayaan maritim Indonesia, iptek harus berperan mengamankan kekayaan maritim Indonesia. (JPG)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top