Pariwara
Bau-bau

Puluhan Staf DLH Baubau Mogok Kerja

AKHIRMAN/KENDARI POS
DEMONSTRASI : Sejumlah petugas kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup Kota Baubau menyuarakan aspirasi mereka untuk menuntut agar upah mereka tidak dipotong dan mendapat jaminan kesehatan saat sakit.

KENDARIPOS.CO.ID — Puluhan pegawai di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Baubau berunjuk rasa, Kamis (8/3). Mereka mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Wali Kota Baubau, menyuarakan tuntutan hak yang tidak diperoleh sepenuhnya. Mereka mengungkap soal gaji yang dipotong dan kasus kecelakaan rekan kerja mereka bernama La Saili dan tak mendapat perhatian pemerintah.

Unjuk rasa “Pasukan Kuning” tersebut dilakukan dengan cara mogok kerja dan pertama kali mendatangi Kantor DPRD Kota Baubau sekitar pukul 10.30 Wita. Mereka menumpangi mobil truk serta gerobak pengangkut sampah. Massa meminta agar DPRD dapat memperjuangkan gaji mereka agar dibayarkan sepenuhnya tanpa potongan. Termasuk rekan kerja mereka bisa mendapat bantuan biaya pengobatan di rumah sakit. “Kita tidak mau gaji kami dipotong,” teriak salah satu petugas kebersihan.

“Kami sudah menerima apa yang menjadi tuntutan mereka. Selanjutnya, kita akan menindaklanjuti dengan memanggil Kepala DLH Kota Baubau untuk mempertanyakan persoalan tersebut,” kata Anggota Komisi II DPRD Kota Baubau, Murhanto. Di kantor wali kota, aksi serupa juga dilakukan. “Alhamdulilah semua ada titik terang dari Pj Wali Kota. Bagi teman-teman yang mengalami pemotongan gaji karena sakit atau izin, nanti akan diganti. Asalkan, bisa membuktikan kalau yang bersangkutan benar-benar sakit dengan melampirkan surat keterangan dokter,” kata perwakilan massa, La Mudi usai bertemu Pj Wali Kota Baubau, Hado Hasina.

Kata dia, pemotongan gaji yang dialami beberapa petugas kebersihan di DLH baru terjadi pertama kali. Makanya, beberapa pegawai tidak terima dengan kebijakan baru tersebut. “Yang dipotong itu adalah gaji bulan Februari yang kami terima pada Maret ini. Alasan pemotongannya, karena tidak masuk kerja. Padahal teman-teman tak masuk itu karena sakit dan izin urusan keluarga yang memang sangat penting,” terangnya.

La Mudi menjelaskan, gaji yang diterima pihaknya setiap bulan tidak menentu. Tergantung jumlah jahi dalam sebulan. Karena sistem pengajian mereka dihitung perhari. “Satu hari Rp 40.000. Jadi kalau satu bulan ada 31 hari, kita terima 1.240.000. Kalau ada yang sakit dan tidak masuk kerja sehari, maka gajinya hari itu tidak dibayarkan. Makanya, kita tidak terima itu,” pendapatnya.

Tetapi setelah mendengar penegasan Pj Wali Kota yang mengatakan gaji tak boleh dipotong, mereka sangat lega. Soal kolega mereka, La Saili yang sakit akibat jatuh dari truk pengankut sampah saat sedang bekerja, La Mudi mengaku bersama tiga rekannya telah menyampaikan kondisi tersebut ke Hado Hasina. “Kondisinya saat ini lumpuh total. Biaya rumah sakit untuk berobat tidak ada, begitu pula dengan BPJS. Selama ini kita bekerja tanpa tanggungan asuransi kesehatan. Alhamdulillah, Pj Wali Kota berjanji akan menguruskan kartu BPJS pada kami dan memberikan bantuan pengobatan pada La Saili,” tutupnya. (b/ahi)

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

The Latest

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top