Pariwara
Muna

Debit Jompi Tinggal 60 Liter Per Detik, Muna Terancam Krisis Air Bersih

KENDARIPOS.CO.ID — Mata air Jompi terancam kritis. Debit air menurun drastis dan mulai mengkhawatirkan. Data dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dharma Raha, debit air saat ini tersisa 60 liter per detik. Padahal, jika dibandingkan tahun 2008 lalu, kapasitasnya masih mencapai 250 liter per detik. Dengan demikian, kurun waktu sepuluh tahun terakhir saja debit air merosot hingga empat kali lipat. Kondisi itu diungkapkan Yusuf, Manager Teknik PDAM Tirta Darma Raha, Kamis (22/2). Ia menyebutkan, tahun 2014, debit air di mata air jompi tercatat masih sebesar 120 liter per detik. “Sekarang turun 50 persen hanya dalam empat tahun,” jelasnya saat ditemui.

Padahal, mata air Jompi saat ini menjadi sumber utama bagi 3.540 pelanggannya. Dengan kata lain, lebih kurang 45 ribu jiwa kebutuhan airnya disuplai dari mata air tersebut. “Itu jumlah pelanggan yang hanya memanfaatkan saluran pipa. Kecamatan lain, seperti Lohia, Duruka, Watoputih, Kontunaga juga mengandalkan pasokan air Jompi. Hanya distribusinya menggunakan mobil tangki,” urainya.

Penyebab pasti penurunan debit, terang Yusuf, diakibatkan endapan lumpur yang terbawa dari wilayah hutan. Praktis, selain menutup mata air, lumpur juga menimbulkan sedimentasi dan membuat keruh air sungai. “Mulai keruh itu empat tahun belakangan. Dulu masih bagus airnya,” sambung Yusuf. Kondisi tersebut mulai mengkhawatirkan untuk jangka panjang. Kendati dengan debit saat ini masih bisa melayani sampai 6.000 pelanggan, namun tidak ada jaminan mata air Jompi akan terus ada.

Mata air Jompi sendiri diketahui bersumber dari kawasan hutan lindung Warangga, selain tujuh mata air lainnya yang diantaranya dari Laende, Jini dan Matampana. “Yang dimanfaatkan PDAM hanya dua, yakni Jompi dan Laende. Itu pun, Laende juga tinggal 50 liter per detik,” tambah Yusuf. Meskipun berfungsi sebagai paru-paru Kota Raha, Hutan Warangga tetap saja dirambah. Meski dengan status kawasan yang dilindungi negara, tidak membuat hutan tersebut terhindar dari penebangan lair. “Maraknya penebangan itu sejak awal 2010 sampai 2011,” kata Unding, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Kehutanan yang berkantor di Raha.

Luasan hutan Warangga berdasarkan data UPTD merujuk pada surat keputusan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup tahun 1999 mencapai 1.217 hektare. Hanya saja, luasan itu sebagian besar sudah tidak ditumbuhi pohon lagi karena perambahan. “Sayangnya kami tidak punya data susutnya berapa hektare. Untuk menghitung berapa yang gundul perlu survei pemetaan,” argumennya. Yang bisa terdata, lanjut Unding, luasan kawasan yang beralih fungsi menjadi perkebunan warga yakni kurang lebih 500 hektare dan ditempati 140 KK. Meski ada larangan berladang di kawasan itu, hanya saja Unding tidak bisa berbuat banyak dengan pertimbangan kemanusiaan. “Sebelum pindah ke provinsi (wewenang kehutanan) bahkan ada yang kami penjarakan. Hanya saja, pada akhirnya itu terbiarkan terus,” paparnya.

Untuk mereboisasi kawasan Warangga, estimasi Unding butuh sekitar 500.000 pohon baru jenis tanaman jati. Sedang untuk jenis tanaman aren maupun produksi lain, bisa sekitar 250.000 pohon. “Rencana itu ada dalam program kami. Termasuk untuk menyelamatkan delapan mata air di Warangga,” imbuhnya. (b/ode)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top