Pariwara
Kolom

Habis Gelap Terbitlah Terang, Oleh: Hanna

Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Tulisan ini mencoba memberikan jawaban terhadap proses pembangunan masdjid Al Alam yang diresmikan tanggal 12 Februari 2018. Masjid ini termasuk megah walaupun dibangun dalam keterbatasan. Mungkin hanya dua di Indonesia, walaupun pembangunanya sempat mendapatkan protes dari beberapa masyarakat.

Judul ini mengingatkan kita akan sebuah cerita perjalanan seorang gadis bernama Raden Ajeng Kartini yang telah berhasil menerobos pola kehidupan yang taat pada adat kehidupan di zamannya dan terobosan itu dirasakan oleh kaumnya sampai saat ini. Berkaitan dengan peresmian masjid ini dengan topik tersebut di atas, tentu saja para pembaca banyak yang bertanya gelap dari segi apa dan terang dari segi mana. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata gelap dimaknai dengan tidak ada cahaya atau sesuatu yang belum jelas. Sedangkan kata terang bermakna keadaan yang dapat dilihat bersinar dan bersih.

Dalam sejarah awal pembangunan masjid Al Alam ini tidak sedikit yang memprotes bahkan banyak diantara kita yang menyangsikan akan terwujudnya masjid ini, karena berbagai hal. Pertama, keseriusan pemerintah daerah dalam menangani pembangunan ini. Kedua, sumber dana yang tidak jelas. Ketiga, banyak yang mendeskripiskan bahwa masjid Al-Alam itu adalah identik dengan nama Nur Alam. Keempat, jarak tempuh dengan masyarakat yang jauh. Dari keempat keraguan itu membuat kita selalu bertanya bahwa apakah masjid ini akan selesai sebagaimana janji Nur Alam Gubernur Sulawesi Tenggara?

Sultra adalah masyarakat yang heterogen dan miniature Indonesia. Artinya semua suku di Indonesia ada di Sulawesi Tenggara. Semua suku dan bahasa ada di Sultra. Oleh karena itu, memang perlu ada wadah pemersatu. Dalam suatu pembicaraan saya dengan bapak Nur Alam di awal pemerintahannya saat menerima piala Adi Bahasa, ia sempat mengatakan bahwa piala Adi Bahasa ini adalah wujud kebersamaan kita dalam membangun keberagaman dan akan membangun masjid yang menjadi the center point di Kota Kendari.

Sebenarnya apa yang ada dibenak seorang Nur Alam bukan hanya kemegahan dari sebuah masjid ini, tetapi lebih pada makna pilosofisnya sebagai daerah yang heterogen namun secara pilosopi masjid ini dibangun pada alam yang tidak memungkinkan namun itu mungkin. Dengan dana APBD yang sangat terbatas dalam pembangunan ini, banyak tantangan dan lima tahun pemerintah mempersiapkan sebagaimana yang diungkapkan oleh Pahri Yamsul, namun itu terbukti. Oleh karena itu warga Sulawesi Tenggara masjid ini tidak berarti jika masih ada rasa iri, dengki, cemburu dan apapun namanya yang tidak sesuai dengan ajaran budaya dan agama kita.

Mari kita wujudkan homogenitas kita dalam bermasyarakat akan menjadikan warga Sultra untuk bersatu dalam segala hal. Membangun bukan hanya mengadalkan uang tetapi sebuah komitmen yang telah diucapkan di hadapan masyarakat meski kita selesaikan sebagai pertanggungjawaban moril bukan hanya masyarakat tetapi kepada Allah. Melakukan inovasi yang memihak kepada rakyat secara umum sebagai objek dari pembangunan itu. Inovasi dapat diartikan sebagai proses dan/atau hasil pengembangan pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan social, dan bukti bahwa pemerintahan ini komitmen dengan janji yang ia ucapkan. (*)

 

Oleh: Hanna

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top