Pariwara
Ekonomi & Bisnis

Antisipasi Inflasi Komoditas Sayuran, BI Lanjutkan Program Urban Farming

Minot Purwahono

KENDARIPOS.CO.ID — Sukses dengan program urban farming di tahun 2017, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sultra dan Pemkot Kendari kembali ingin mendulang kesuksesan yang sama. Kedua lembaga itu sepakat untuk melanjutkan program tersebut di tahun 2018 ini. Program pertanian sehat yang digalakkan untuk masyarakat perkotaan di tengah keterbatasan lahan, sukses diterapkan di dua kecamatan di Kota kendari yakni Baruga dan Poasia.

“Mei sampai Juni 2017, inflasi sayur kita tinggi sekali. Terutama di Kota Kendari dan Baubau. Di bulan itu, inflasi sampai angka 3,4 persen satu bulan. Salah satu penyebabnya, tingginya harga sayuran, seperti bayam yang asalnya dari luar kota. Penyebabnya memang cuaca, tapi kita tidak bisa salahkan. Kita diskusi bersama Pemkot terkait apa yang bisa kita lakukan. Minimal tidak tergantung dengan daerah lain. Akhirnya kita inisiasi urban farming ini,” ujar Kepala BI Perwakilan Sultra, Minot Purwahono, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, urban farming adalah sistem bercocok tanam di lahan terbatas, khususnya wilayah perkotaan. Konsep urban farming itulah yang dicetuskan untuk memanfaatkan lahan pekarangan terbatas. Tujuannya, agar masyarakat kota tidak lagi tergantung dengan daerah lain
dalam memenuhi kebutuhan sayur mayur.

Menurut Minot, setelah ada kesepakatan dengan Pemkot, BI langsung mengadakan pelatihan, terutama pada ibu-ibu yang memang sudah menjadi kelompok tani. Saat itu, kata dia, diambil dua sampel kecamatan yakni Baruga dan Poasia. Anggotanya sekitar 80 orang dari berbagai kelompok.

BI kemudian melatih para ibu tersebut, dengan menyediakan konsultan pertanian yang mengajari konsep bercocok tanam ala urban farming. Mereka dilatih cara bercocok tanam yang cepat, murah dan sehat tanpa menggunakan pupuk berbahan pestisida.

“Konsepnya apa ? Kita bercocok tanam secara organik, tidak gunakan pestisida karena lebih sehat. Kita latih selama dua hari dan setelah pelatihan, kita adakan evaluasi. Apakah yang dilatih itu, bisa diterapkan apa tidak ? Setelah kita berkunjung di Baruga, ternyata mereka sangat berminat terapkan itu. Bahkan lahan-lahan di sekitarnya itu sudah diolah. Mereka sudah mulai bercocok tanam sayuran,” jelas Minot Purwahono.

Selain diajari cara bercocok tanam, para ibu diajari membuat pupuk sendiri dengan memanfaatkan limbah yang ada, tetapi bukan anorganik. Contohnya, konsep kotoran sapi yang bisa dipakai untuk biogas.

Kotoran sapi cair dan padat, masuk di dekomposer untuk biogas. Hasil buangannya, kemudian dibuat pupuk untuk tanaman kakao. Menurut Minot, itu yang dikenal dengan integrasi peternakan dan pertanian. Dimana oleh BI dikenal dengan sebutan Sisko atau sistem sapi dan kakao. Hal itu sudah diterapkan oleh para petani di Desa Langgomea Kecamatan Konawe Selatan.

“Mudah-mudahan dengan seperti itu, minimal kebutuhan masing-masing rumah tangga tidak tergantung di pasar. Program kami, mengembangkan ke arah organik, baik itu holtikultura, perkebunan, pertanian dan perikanan. Kita concern ke arah inflasi yang tinggi di sayuran, kita cari solusinya. Penekanan BI, supaya sayuran tidak menjadi komoditas penyumbang inflasi,” tandas Minot Purwahono. (ind/b)

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

The Latest

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top