Pariwara
Muna

Geliat Ekonomi Lesu, Muna Butuh Investasi

Ari Asis

KENDARIPOS.CO.ID — Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Muna dari beberapa tahun terakhir memang bergerak lambat. Daerah ini masih bertumpu pada belanja pemerintah sebagai penggerak ekonomi di masyarakat. Sementara sektor swasta, stagnan. Perputaran uang di bank juga dinilai masih di bawah standar. Kondisi ini memaksa Muna harus merangsang sektor lain untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

Kepala Badan Pengelola Keungan dan Aset Daerah, Ari Asis, menyebutkan, satu kebiasaan masyarakat Muna yang secara tidak langsung menghambat ekonomi yakni keengganan menyimpan uang melalui bank. Akibatnya, perputaran uang daerah dengan 46 ribu kepala keluarga atau 208 ribu jiwa penduduk tersebut terbilang tak produktif. “Fakta masyarakat kita 80 persen memilih menyimpan uang di bawah bantal, bukan di bank. Padahal, bank itu butuh uang besar untuk menggerakkan ekonomi, paling tidak dengan perputaran uang dalam daerah,” jelasnya, Kamis (1/2/2017).

Satu-satunya tumpuan ekonomi di Muna, lanjutnya, adalah belanja pemerintah baik gaji pegawai maupun proyek fisik. Kondisi itu tidak ideal, sebab jika ingin pertumbuhan maka harusnya sektor swasta lebih dominan. Ia merinci, dalam satu tahun, anggaran pemerintah sangat terbatas, paling tidak diukur dari APBD yang hanya sekitar Rp 1,1 triliun. “Swasta hanya puluhan miliar rupiah setahun. Itu pun hanya dealer otomotif, kalau hotel dan restoran masih minim,” jelasnya.

Ari Asis punya ukuran sederhana melihat ekonomi masyarakat. Jika di awal bulan, perputaran uang atau geliat ekonomi di pasar cukup bergairah. Lain halnya, memasuki pertengahan hingga akhir bulan. Semua terlihat lesu. Dalam setahun juga, belanja masyarakat hanya akan meningkat di bulan Maret hingga November. Setelah itu, stagnan. “Kesimpulannya, yang belanja hanya pegawai, pedagang dapat uang hanya dari gaji PNS. Begitu pun kalau proyek tidak jalan, yakin saja, pasar pasti sepi,” paparnya.

Analisis itu, ikut dibenarkan Kepala Bank Sultra Cabang Raha, Agus. Ia mencatat, transaksi masyarakat akan meningkat di awal bulan terutama menjelang hari besar keagamaan. Dalam setahun, perputaran uang di banknya melemah pada awal dan akhir tahun. “Gaji 6.892 pegawai di Muna berkisar Rp 30 miliar per bulan dan ditransfer di bank kami,” urainya.

Lantas bagaimana rencana Pemkab Muna menggerakkan ekonomi masyarakat, dijawab langsung Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, La Mahi. Salah satu instrumennya adalah mengejar investasi. Makanya, geliat pariwisata mulai dihidupkan melalui berbagai event. “Memang yang kami kejar modal swasta masuk dulu. Paling memungkinkan, wisata digenjot,” katanya.

Tetapi bukan itu solusi jangka panjangnya. Ia menyebut, target utama Pemkab adalah menciptakan pertumbuhan industri masyarakat. Dalam perencanaanya, industri itu akan bergerak di kawasan Duruka dan Lohia. Kedua wilayah itu punya potensi perikanan dan kerajinan lokal yang potensial dikembangkan. “Wisata itu hanya membuka isolasi Muna. Ke depan, usaha kreatif dan industri rumahan yang harus jadi leading sektor ekonomi,” pungkasnya. (b/ode)

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

The Latest

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top