Pariwara
Nasional

Jokowi Kunjungi Pengungsi Rohingnya

Joko Widodo

KENDARIPOS.CO.ID — Pengungsi dampak konflik di Rakhine State, Myanmar, menjadi salah satu fokus Presiden Joko Widodo dalam kunjungan ke lima negara di Asia selatan dan tengah. Rencananya, besok (24/1) Presiden akan memulai kunjungannya dengan bertolak ke Sri Lanka. Dilanjutkan ke India, Pakistan, Bangladesh, dan berakhir di kawasan Asia Tengah, Afghanistan.

Tidak seluruh kunjungan itu berupa kunjungan kenegaraan. Di India, Presiden akan menghadiri KTT memperingati 25 tahun kemitraan ASEAN-India. ’’Sementara, ke empat negara yang lain adalah kunjungan kenegaraan bilateral penuh,’’ terang Menlu Retno Marsudi setelah memperkenalkan kantin diplomasi di Kemlu senin (22/1).

Khusus dengan Bangladesh, isu kemanusiaan tidak bisa dihindarkan untuk dibahas antara pemimpin kedua negara. Indonesia bersama Bangladesh memang sudah lama bekerja sama dalam menangani pengungsi dari Rakhine State. ’’Nanti saat Presiden berkunjung ke sana, kita juga ada tambahan bantuan yang kita tawarkan,’’ lanjut Retno.

Seluruh bantuan yang diberikan merupakan jenis bantuan yang memang diminta oleh Bangladesh ataupun Myanmar. Tidak ada bantuan yang jenisnya ditentukan sendiri oleh Indonesia. Bantuan SDM misalnya, Indonesia sudah menempatkan sejumlah dokter di kantong-kantong pengungsi. Tidak hanya dari pemerintah, namun juga dari masyarakat dan NGO yang peduli.

Selain bertemu pemimpin Bangladesh, Jokowi berencana mengunjungi para pengungsi. ’’Kita akan ke Cox’s Bazar (Bangladesh), Insya Allah,’’ tutur diplomat 54 tahun itu. Sementara dengan Afghanistan, Indonesia akan lebih banyak membahas rencana kerja sama membangun perdamaian di negara tersebut.

Menurut Retno, Indonesia memiliki hubungan yang positif dengan seluruh negara, terutama di bidang ekonomi dan perdagangan. Indonesia juga sedang mengusulkan preferential trade agreement (PTA) dengan negara-negara tersebut. ’’Beberapa negara sudah memberi respons positif, tetapi ada beberapa negara yang mengatakan, apa tidak sebaiknya langsung FTA (free trade area),’’ tambahnya.

Juru Bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir menjelaskan, kunjungan presiden dan Menlu akan difokuskan untuk kerja sama ekonomi. Tata mengatakan, tema kunjungan ini adalah opening new opportunities. Kata dia, negara-negara yang akan dikunjungi presiden dan Menlu punya jumlah penduduk lebih dari 1 miliar. Itu artinya, negara-negara tersebut merupakan pasar potensial Indonesia. ”Ke empat negara ini adalah pasar non-tradisional yang memiliki potensi besar. Selama ini kerja sama sudah cukup baik, tapi sebenarnya masih banyak kesempatan yang belum dikembangkan,” tutur Tata.

Direktur Asia Selatan dan Tengah Kemenlu Ferdy Nico Yohannes Piay membenarkan hal tersebut. Dia mencontohkan India. Di sana, surplus Indonesia sangat besar. Indonesia juga menikmati surplus dengan Bangladesh dan Sri Lanka, meski jumlahnya masih terbilang kecil.

Ferdy mengatakan, Indonesia ingin menjalin kerja sama perdagangan yang lebih kuat dengan Pakistan, Sri Lanka, dan Bangladesh. Sebelumnya, lanjut Ferdy, saat kunjungan Perdana Menteri Bangladesh pada 2017 dan Perdana Menteri Sri Lanka ke Indonesia, kedua pemimpin menyampaikan keinginan untuk mendorong kerja sama perdagangan dengan Indonesia. ”Jadi highlight kita adalah memasuki pasar non-tradisional dan melihat peluang baru. Kunjungan Presiden ke sana adalah mendorong kerja sama di bidang itu,” ungkap Ferdy.

Selain fokus menjalin kerja sama ekonomi, Indonesia akan melakukan diplomasi perdamaian dengan mengunjungi kamp pengungsian di Bangladesh dan Afganistan. Di Bangladesh, kata Ferdy, presiden dan Menlu akan menemui para pengungsi dari Rakhine State.

“Menurut rencana kita agendakan dan jika kondisi memungkinkan karena letak kamp jauh dari Dhaka, kita agendakan untuk agar presiden bisa lakukan ke kamp pengungsi. Pemerintah Bangladesh akan fasilitasi ini,” terang Ferdy.

Terkait kunjungan ke Afghanistan, kata Ferdy, beberapa bulan belakangan, Indonesia sangat aktif memberikan dukungan proses membangun perdamaian. Setelah kunjungan presiden Ashraf Ghani April lalu. Indonesia secara spesifik diminta turut berperan dalam rekonsiliasi. (agm/jpg)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top