Pengadaan Bibit Fiktif, Anak Mantan Bupati Konut Diduga Terlibat – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Pengadaan Bibit Fiktif, Anak Mantan Bupati Konut Diduga Terlibat

Kompol Dolfi Kumaseh

KENDARIPOS.CO.ID — Nama anak mantan Bupati Konawe Utara (Konut), Rusmin Aswad disebut-sebut terlibat dalam pengadaan bibit diduga fiktif di Dinas Kehutanan (Dishut) Konut tahun 2015. Rusmin tak sendiri, ada pula nama mantan Kadishut Konut Nurdin Edyson. Dugaan ini muncul setelah penyidik menemukan beberapa fakta terbaru. Rusmin Aswad dan Nurdin Edyson diduga turut bersama-sama dalam proyek pengadaan bibit fiktif. Nurdin Edyson diduga ikut menandatangani surat pencairan dana 30 persen dalam proyek ini. Saat itu dia menjabat sebagai Kepala Dishut Konut, sebelum Amiruddin Supu menjabat. Keterlibatan Rusmin Aswad karena di duga menerima fee proyek itu. Hal itu diungkapkan Kasubbid PID Humas Polda Sultra, Kompol Dolfi Kumaseh, kepada Kendari Pos.

Dari proses perkembangan penyelidikan, keduanya diduga kuat terlibat. Penyidik Subdit III Ditreskrimsus menduga ini bukan tanpa alasan, sebab diketahui duit pencarian dana dalam proyek itu sebenarnya lebih dulu keluar di era Nurdin Edyson. Kompol Dolfi menuturkan kasus ini kembali dilakukan penyelidikan. Sebab, beberapa nama dan perannya masing-masing mulai terkuak berdasarkan keterangan saksi-saksi. “Fakta persidangan juga seperti itu,” ujar Kompol Dolfi Kumaseh, Selasa (2/1).

Secara umum bukan hanya Rusmin Aswad dan Nurdin Edyson namun masih ada beberapa nama lagi yang masih ditelusuri penyidik. Sayangnya, Kompol Dolfi Kumaseh belum mau berbicara banyak. Menurutnya, penyidik masih mendalami kasus ini, termasuk peran-peran oknum yang diduga terlibat. Penyidik menyebut status mereka masih sebatas saksi. “Iya, masih kami pelajari peran mereka. Karena di sini ada yang turut serta pemufakatan jahat atau turut mencairkan,” ungkap Kompol Dolfi Kumaseh.

Untuk diketahui, kasus ini telah menyeret empat 4 tersangka dan saat ini menjalani persidangan. Mereka adalah Ahmad Bin Tulangkuse (rekanan), Willy Jumarni dan Zainal sebagai pemeriksa barang, Amirudin Supu (mantan Kadishut Konut). Hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sultra menemukan kerugian negara sebesar Rp 700 juta. Modus kasus pengadaan bibit ini cukup menarik. Khusus pengadaan bibit dan penanaman jati, terjadi perbedaan besaran anggaran dalam kontrak dan daftar pagu anggaran (DPA). Dalam kontrak tertera anggaran sebesar Rp 879 juta, sementara dalam DPA berjumlah Rp 1,176 miliar.

Sehingga ditengarai, selisih anggaran dalam kontrak dan DPA diselewengkan. Lalu ada dugaan mekanisme pencairan dana tidak benar, yaitu uang telah dicairkan 100 persen sementara pekerjaan fisik belum selesai. Khusus pengadaan bibit eboni dan bayam jelas sudah diduga kuat fiktif. Pasalnya, harusnya yang diadakan eboni dan bayam masing-masing sebanyak 2.750 bibit. Namun, kenyataannya hanya diadakan bibit eboni sebanyak 2.750. Bibit bayam tidak lagi diadakan. Sementara bibit jati yang seharusnya diserahkan dan dinikmati masyarakat, malah ditanan pada 3 lahan milik pejabat Konut. (ade/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top