Pariwara
Buton

Ekonomi Buton Ditarget Tumbuh 5 Persen

KENDARIPOS.CO.ID — Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Buton ditargetkan meningkat tahun ini. Ada beberapa alasan sehingga ekonomi diprediksi melampaui tahun 2017 yang berada pada angka 4,7 persen. Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Buton, Ahmad Mulia menyebut ada empat faktor dominan yang akan memicu ekonomi bergerak positif hingga 5 persen. Faktor tersebut antara lain, perdagangan, konstruksi, pertanian dan pertambangan. Dibeberkannya, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, pertumbuhan dunia usaha di Buton cukup baik, paling tidak diukur dari jumlah izin usaha yang dikeluarkan Pemkab Buton yakni kurang lebih 400 rekomendasi.

“Tren perdagangan, bagus. Secara kasat mata saja di Pasarwajo dalam dua tahun terakhir banyak warung yang buka. Itu artinya ada pergerakan ekonomi,” jelasnya, selasa (02/01). Sektor kedua, yakni konstruksi juga dianggap berperan besar dalam menggerakkan ekonomi, bahkan berdampak secara langsung dalam meningkatkan perputaran uang di masyarakat. Tahun ini, dana alokasi khusus yang bergerak di bidang pembangunan fisik nilainya mencapai Rp 126 miliar. Itu belum lagi ditambah dengan dana desa sebesar Rp 63 miliar lebih. Apalagi, khusus DD, ada instruksi pengelolaanya 30 persen dilakukan dengan sistem padat karya. “Itu yang diketahui, belum termasuk proyek swasta atau kementerian langsung,” paparnya. Demikian pula dengan sektor pertanian, Ahmad Mulia mengaku optimis pada komoditi unggulan di Buton seperti jambu mete maupun padi. Meski tidak memiliki data jelas, namun ia yakin sektor itu bisa menggerakkan ekonomi. “Mayoritas masyarakat Buton memang masih hidup di ladang pertanian. Jadi tetap memiliki andil besar,” paparnya.

Sektor primadona bagi ekonomi daerah sebenarnya berada pada bidang pertambangan, sebab ada aspal Buton. Hanya saja, sektor ini tidak secara langsung dibawah kendali Pemkab, melainkan di provinsi melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sultra. Buton, kata Ahmad Mulia hanya mendapatkan dana bagi hasil.

Meski demikian, pertambangan tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Sebab data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Izin Terpadu Satu Pintu menyebutkan, investasi masuk untuk tahun 2017 nilainya mencapai Rp 33,850 miliar lebih. Nilai itu lebih banyak dibanding capaian setahun di 2016, sebesar Rp 24,845 miliar. “Sektor ini berdampak dimasyarakat melalui rekrutmen tenaga kerja ataupun belanja rutin perusahaan,” katanya.

Ahmad Mulia melanjutkan, meski empat faktor itu dapat menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi, namun dirinya tidak bisa mengesampingkan beberapa faktor lain yang bisa saja justru menghambat laju ekonomi itu sendiri. Sektor itu diantaranya pergerakan inflasi. “Masalahnya inflasi di Buton itu justru di picu dari Kota Baubau. Sebab tidak bisa dipungkiri sebagian besar belanja rutin baik Pemkab maupun masyarakat masih terpusat di sana, bukan di Pasarwajo. Jadi jika harga di sana naik, efeknya juga ke sini,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya tengah menyiapkan kebijakan untuk mengurangi ketergantungan itu. Salah satunya dengan membuat regulasi atau aturan yang mewajibkan belanja Pemkab untuk kebutuhan yang bisa dipenuhi di Pasarwajo, jangan lagi dibeli di Kota Baubau. “Kami optimis ekonomi bisa tumbuh hingga 5 persen, atau minimal di atas 4,7 persen,” pungkasnya. (b/m1)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top