Pemilik Lahan Desak Masalah PT Baula Dituntaskan – Kendari Pos
Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Metro Kendari

Pemilik Lahan Desak Masalah PT Baula Dituntaskan

Arsanul Lapae dan Yudi Lapae, pemilik lahan yang diduga diserobot PT Baula. Lokasinya berada di Desa Asingi, Kecamatan Tinanggea, Konawe Selatan. Foto: Dok. Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — PT Baula Petra Buana (BPB) sungguh “sakti”. Meski diterpa banyak masalah, namun tak sekalipun tersentuh hukum. Masalah dugaan penyerobotan lahan warga hingga kasus pembuatan jetty hingga kini belum ada kejelasan. Kondisi inilah yang sangat disayangkan keluarga rumpun ahli waris almarhum Lamarota dan masyarakat yang tergabung dalam Asosiasi Petani Rumpun Laut Konawe Selatan.

Mereka sangat mengharapkan agar penegak hukum, pemerintah hingga wakil rakyat memperhatian kasus ini dan membantu menyelesaikan. Sebab, kasus ini sudah berbulan-bulan tapi tidak ada juga kejelasan. “Kami minta agar kasus ini segera dituntaskan supaya tidak menghabiskan banyak energi,” ujar Yudi Lapae, perwakilan ahli waris keluarga Lamarota, akhir pekan lalu.

Yudi mengatakan lahan 117 hektar yang ada di Desa Roraya Kecamatan Tinanggea itu sudah jelas adalah milik Raja Lamarota. “Kami selaku ahli waris dari istri raja Lamarota mendapat surat wasiat yang isinya penguasaan di lahan tersebut. Semua bukti-bukti juga sudah kami sampaikan. Harusnya pemerintah dan petugas bisa mempertimbangkan itu,” katanya.

Surat-surat kepemilikan tanah lanjut dia, menguatkan bahwa memang raja Lamarota itu benar-benar ada. Bagi dia, surat itu menandakan bahwa penguasaaan lahan itu jatuh kepada ahli waris, yakni cucu dari istri Lamarota. “Ini kebenaran yang ada. Jadi, jelas raja Lamarota memberikan kuasa kepada Nurdin Lapae melalui surat wasiat itu,” bebernya.

Dia menegaskan, di Desa Roraya itu jelas, tanah yang masuk dalam tanah ulayat yang diwariskan raja Lamarota. Makanya, pihaknya sangat heran ketika lahan 45 hektar dari 117 hektar yang diakui PT BPB sudah dibebaskan. Keluarga Lamarota kata dia tidak pernah sama sekali menerima pembebasan lahan dari perusahaan. “Gugatan perdata tetap akan dilayangkan kalau mereka (managemen PT BPB) tidak punya niat baik untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Operasional PT BPB Adi menegaskan tidak akan melakukan ganti rugi lahan lagi. Pihaknya tidak akan takut kalau pemilik lahan lakukan gugatan perdata. “Kalau mereka menggugat, kami siap,” tegas Adi. Kuasa hukum PT BPB Muhamad Gazali menegaskan, kliennya sudah membayarkan ganti rugi lahan kepada keluarga Lamarota yang lain. “Bagi klien kami, masalah penyerobotan lahan itu tidak ada,” ujarnya beberapa pekan lalu.

Kata dia, pembebasan lahan sudah dilakukan sejak 2010. Nah, sebelum pembebasan lahan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten Konsel, untuk menginventarisir lahan dimaksud. Inventarisir saat itu dilakukan oleh tim 9, yang melibatkan BPN, anggota DPRD, ESDM dan Dinas terkait. “Hasil inventarisir tidak ada masalah. Pembebasan lahan juga terhitung, dan saat itu kami bayarkan Rp 25 juta perhektar kepada ahli waris dari keluarga Lamarota. Jadi, kami bingung sekarang. Kami tidak akomodir permintaan pihak mereka, karena kalau kami akomodir jangan sampai ada lagi yang mengklaim lahan tersebut. Artinya ada lagi keluarga almarhum Lamarota lainnya,” imbuhnya. (b/kam)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top