Pariwara
Hukum & Kriminal

Mengaku Khilaf, Tapi Berulangkali Garap Anak Tiri

Rehan (tengah) dikawal ketat dua polisi penyidik menuju sel tahanan Polres Baubau usai diperiksa, Jumat (8/12). Foto: Akhirman/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Pelaku cabul, Rehan (41) berupaya membela diri di hadapan hukum. Kepada penyidik dia mengaku khilaf sehingga menyetubuhi anak tirinya. Mengaku khilaf tapi perbuatan bejat itu Rehan lakukan berulang kali hingga anak tirinya, LL (16) berbadan dua. Padahal selama sembilan tahun membina rumah tangga, kebutuhan biologis Rehan selalu dipenuhi sang istri.

Dihadapan penyidik, Rehan yang sehari-hari berdagang pulsa itu mengakui semua perbuatan bejatnya. Pelaku yang ditangkap dari pelariannya di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel) mengaku menyeyubuhi anak tirinya karena tak kuasa mengendalikan dorongan syahwatnya. “Dua kali saya berhubungan badan. Pertama pada Agustus lalu. Tapi semua itu saya lakukan karena saya khilaf,” ujar Rehan di ruang Reskrim Polres Baubau, Jumat (8/12).

Kata dia, perbuatan bejatnya dilakukan ketika rumah dalam kondisi sunyi. Karena istrinya, HY yang juga ibu kandung LL pergi ke sekolah. “Saya lakukan itu (setubuhi korban, red) di dalam rumah. Saya tidak paksa dia,” kata Rehan.

Kata dia, ia nekat lari meninggalkan kampung halamannya karena takut kelakuan bejatnya terbongkar. Pelaku juga sudah tahu kalau korban hamil. “Saya lari karena takut dihakimi massa. Karena perbuatanku sudah ditahu dan dilaporkan di polisi,” ucapnya.

Ditempat yang sama Kasat Reskrim Polres Baubau AKP Diki Kurniawan mengatakan pelaku menyetubuhi korban dengan cara memaksanya. “Korban dipaksa. Itu dilakukan pertama kali awal Agustus. Seminggu kemudian, pelaku kembali menyetubuhi korban. Saat ini, korban dalam kondisi hamil empat bulan,” ujar AKP Diki Kurniawan.

Ditempat terpisah, paman korban, Bobi mengatakan ketika pelaku mengetahui korban hamil, ia menyuruh LL merantau dan meninggalkan kampung. Tetapi, LL menolak. Pelaku juga sempat mencari laki-laki lain untuk menikahi LL agar perbuatan bejatnya tertutupi. Korban diperlakukan senonoh sejak Agustus 2017 lalu, dan itu berulang-ulang dengan cara dipaksa, ketika rumah kosong. Karena ibunya sedang kerja. “Begitu tahu anaknya hamil, pelaku menyuruhnya pergi, tapi anak ini tidak mau,” ujar paman korban, Bobi

Korban kini masih sangat trauma. Ia tidak lagi keluar rumah bahkan enggan menemui kerabat dekatnya. Ia hanya berkomunikasi dengan keluarga yang berada di dalam rumah neneknya yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah orang tuanya. “Makanya kita mengontrol orang yang datang menjenguknya. Karena kita khawatir, semakin banyak yang datang dan bertanya, maka bisa mengganggu psikologi korban,” ucap Bobi.

Bobi berharap bukan hanya keluarga yang memberikan dorongan untuk memulihkan kondisi fisik dan psikologinya tetapi juga ada instansi terkait. “Kami sangat berterima kasih jika Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Buteng dan Provinsi Sultra mau membantu pemulihan psikis LL,” harap Bobi. (ahi/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top