Sekolah Internasional, Rasa Tradisional – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Wakatobi

Sekolah Internasional, Rasa Tradisional

Beginilah kondisi salah satu sudut SMP Maritim Swasta Mola di Wakatobi. Sudah 10 tahun lebih beroperasi, kondisinya makin memprihatinkan. Foto: Asty Novalista/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Sudah 10 tahun lebih SMP Maritim Swasta Mola beroperasi. Ide awalnya digagas sebagai sekolah skala internasional yang siswanya dari negara-negara yang tergabung dalam lingkup segitiga karang dunia. Namun ironis, kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. SMP Maritim Swasta Mola dibangun sejak 2006. Sekolah yang berdiri di atas laut ini mulai melakukan proses belajar mengajar perdana pada tahun ajaran 2007-2008. Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Bahri sejak tahun 2006 hingga sekarang.

Sebelum fisik bangunan tuntas, proses belajar mengajar tidak dilakukan di dalam ruang kelas baru (RKB) melainkan di rumah salah seorang warga yang tingga di Mola Raya Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Hal itu dilakukan hampir dua tahun lamanya. Meski sulit namun tidak mematahkan semangat pengajar dan peserta didik di dalamnya.

Jumlah murid kala itu sebanyak tujuh orang tingkat Sekolah Dasar (SD). Tahun selanjutnya, sekolah menengah pertama lahir dengan jumlah siswa yang nyaris sama. Dua tahun bertahan dengan kondisi yang memprihatinkan, sekolah ini mengalami progres yang cukup baik. Utamanya dalam peningkatan jumlah peserta didik.

Selain siswa, kurangnya tenaga didik menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Sejak beroperasi tahun 2007 hingga 2008, kedua sekolah ini dinakhodai oleh Nurdin, S.Ag., yang menjadi Kepala SD dan SMP sekaligus. Peran Nurdin untuk memimpin dua sekolah harus dihentikan karena bertabrakan dengan aturan. Sehingga tahun 2008, Karman dipercayakan sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala SMP Maritim Swasta Mola. Ia bahkan menjadi satu-satunya guru tetap yang bersatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sekolah ini sampai sekarang. Selebihnya guru honorer dan beberapa guru sertifikasi yang mengabdi sebagai tambahan jam mengajar.

Meski telah memiliki dua rombongan belajar baik SD maupum SMP, RKB tidak memupuni. Jika harus berjalan normal, maka dipastikan tidak efektif apalagi tidak didukung dengan sarana yang ada. sehingga pihak pengajar saat itu sepakat untuk melakukan proses belajar mengajar pada pagi dan siang hari. Waktu pagi untuk SD dan siangnya untuk SMP. Dengan segala keterbatasan yang ada, semuanya bisa dilalui selama bertahun-tahun tahun.

Semua cerita tentang kondisi sekolah tersebut disampaikan Kepala SMP Swasta Mola, Karman. Kata dia, sejak dibangun sekolah ini hanya mengandalkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang merupakan bantuan hibah dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Tahun 2008, anggaran yang diterima sekolah setiap caturwulan (tiga bulan) mencapai Rp 3,5 juta yang disesuaikan dengan jumlah siswa.

Kadang lebih dari Rp 7 juta atau Rp 14 juta. Tahun lalu, BOS SMP Maritim Swasta meningkat hingga carai Rp 21 juta per caturwulan. “Untuk tahun ini menurun lagi. Sekarang mencapai Rp 18 juta saja,” jelas Karman saat ditemui, Kamis (7/12).

Tahun 2014, angin segar menghampiri sekolah ini. Bantuan gedung SD Maritim dengan penambahan dua RKB sementara untuk SMP-nya terpaksa masih meminjam rumah warga. Tidak mencukupi rombongan kelas, dua RKB dibagi menjadi empat ruangan. Masing-masing ruangan berukuran lima kali delapan meter. Satu petak untuk ruang guru dan tiga lainnya untuk RKB. Itupun tidak didukung dengan fasilitas di dalam kelas.

Dari berbagai bantuan, sekolah ini rupanya jarang diperhatikan oleh pemerintah setempat. Untuk saat ini, jangankan dibantu dengan anggaran maupun lainnya, disambangi pun belum pernah. Dengan keterbatasan yang ada, pihak sekolah utamanya siswa sangat mengarapkan bantuan dari pemda Wakatobi. Setidaknya untuk bangunan sekolah yang mulai rapuh. Berdindingkan papan tentu bangunan ini semakin mengkhawatirkan. Meski begitu,pihak sekolah yang dulu berada di tengah-tengah laut dan jauh dari pemukiman ini selalu berupaya untuk bisa bertahan dan bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya. Melihat kondisinya sekarang, tak salah kalau sekolah ini dilabeli “sekolah internasional, tapi masih rasa tradisional”.

Rencana membangun sekolah maritim bertaraf internasional digagas di masa kepemimpinan Ir Hugua. Melihat potensi maritim yang luar biasa di Wakatobi, dia ingin muncul SDM handal dari putra daerah untuk mengelolanya. “Siswanya nanti kita undang dari beberapa negara yang tergabung dalam segitiga karang dunia. Hal ini untuk mendukung pengembangan potensi maritim daerah di masa depan,” kata Hugua kala itu.

Sekolah ini nantinya berlanjut hingga ke perguruan tinggi. Gagasan Hugua disambut positif Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang memang sejak lama berencana untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang konservasi kelautan melalui Badan Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDMP KP). Di saat bersamaan, Sekolah Tinggi Perikanan Wakatobi dipilih menjadi pusat pengembangan SDM tersebut.

Tindaklanjutnya, KKP menyelenggarakan Kick Off Meeting dengan para stakeholder, di STP Kampus Konservasi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Kick off Meeting tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan the 11th Senior Official Meetings (SOM) Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI–CFF). Pemkab Wakatobi maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan tentang persoalan ini. (b/*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top