Pemred Sehari Azhari, Kajati Sultra – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Metro Kendari

Pemred Sehari Azhari, Kajati Sultra

Pemred Kendari Pos Sehari, Azhari duduk di ruangannya usai memimpin rapat redaksi, kamis (7/12).

Nostalgia Jadi Wartawan

KENDARIPOS.CO.ID — Kehormatan yang luar biasa didaulat menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) Kendari Pos. Meski hanya sehari, namun menjadi pengalaman baru yang sulit saya lupakan, sampai kapanpun. Terima kasih kepada Direktur Utama (Dirut) Kendari Pos, bapak Irwan Zainuddin yang telah memberikan kepercayaan untuk menduduki posisi tidak biasa ini.

Menjadi pemred dan memimpin rapat redaksi, merupakan pengalaman baru bagi saya. Memang, tidak bisa saya pungkiri kalau pernah menjadi bagian dari media. Tepatnya 34 tahun lalu, pernah menjadi wartawan salah satu media cetak ternama di Kalimantan. Profesi ini saya jalani selama tiga tahun, walaupun akhirnya masuk pegawai negeri sipil (PNS). Saya juga biasa mengikuti rapat-rapat redaksi seperti ini. Hanya saja, memimpin rapat redaksi, apalagi dalam kapasitas pemred, sungguh pengalaman yang hebat. Sekali lagi, terima kasih Kendari Pos.

Terus terang, perjalanan karier saya sebagai PNS, khususnya di Kejaksaan hingga menjadi Kepala Kejaksaan (Kajati) Sultra sekarang, ada andil “jiwa wartawan” di dalamnya. Saya sebut begitu, karena menjadi jaksa banyak sekali tantangannya. Mulai teror atau intimidasi dari pihak-pihak yang merasa dirugikan kejaksaan hingga godaan-godaan yang lain. Walau begitu, tetap mampu melewatinya karena mental saya sudah terasah sejak jadi wartawan. Jadi, bagi saya hal-hal begitu biasa saja.

Ada sedikit cerita pengalaman ketika saya jadi wartawan. Peristiwa yang saya anggap berperan penting dan menjadi salah satu titik balik perjalanan hidup saya, terutama dalam hal pembinaan mental. Saya kurang ingat persis tahun berapa. Pastinya, saya menggeluti dunia jurnalis kurang lebih tiga tahun, mulai 1983 hingga 1986.

Dalam selang waktu tiga tahun itu, ada beberapa liputan penting yang saya lakukan. Tiga diantaranya paling berkesan dan benar-benar menguji mental dan komitmen. Pertama, saya pernah ditugaskan liputan banjir bandang. Bukan soal banjirnya yang jadi persoalan, tapi karena lokasinya sangat jauh (belasan kilometer,red) dari tempatku berada. Parahnya lagi, kejadiannya malam hari. Saya yang kala itu belum memiliki kendaraan sendiri sangat dilema.

Sebab, karakter saya tidak pernah menolak penugasan, bagaimanapun kondisinya. Tapi disisi lain, saya diperhadapkan pada kondisi yang tidak memungkinkan (tak ada kendaraan,red). Belum lagi, bahaya di tengah jalan. Maklum, waktu itu lokasi banjir bandang harus lewati beberapa kampung dan hutan yang dikenal berbahaya. Namun dengan tekad yang kuat, dan komitmen tinggi akhirnya penugasan bisa dituntaskan. Saya pikir, disitulah diuji untuk berpikir kreatif dalam kondisi serba kekurangan.

Liputan lain yang juga berkesan adalah saat menginvestigasi dugaan penyalahgunaan bantuan pemerintah pusat kepada warga transmigrasi. Kala itu, sebenarnya hanya ingin melihat kondisi warga transmigrasi. Namun, saya dapat informasi kalau bantuan yang diberikan tidak sesuai takarannya. Bantuan jaminan hidup (jadup) berupa sembilan bahan pokok (sembako) kepada warga banyak yang dikurangi. Berita yang saya buat masuk halaman utama (HL), sehingga membuat pihak yang bertanggung jawab menyalurkan bantuan kalang kabut.

Bahkan, berita tersebur viral dan sampai di pemerintah pusat. Setelah berita itu terbit, saya sering didatangi orang-orang yang mengaku dari penanggung jawab bantuan jadup tersebut. Mereka minta supaya pemberitaannya dihentikan. Mereka juga sempat “merayu” saya dengan iming-iming sejumlah uang, tapi saya menolak. Karena saya sudah berkomitmen untuk menjaga integritas, tidak mau menggadaikan idealisme hanya untuk kenikmatan sesaat. Saya hanya minta waktu itu agar bantuan yang disalurkan harus tepat sesuai porsinya. Alhamdulillah, tidak lama kemudian, pemerintah pusat juga lakukan evaluasi, akhirnya bantuan diberikan sudah sesuai. Di sini saya belajar tentang komitmen dan menjaga integritas saat menjalankan tugas.

Ketiga, saya juga pernah liputan tentang gajah. Kala itu, terkait penggiringan gajah supaya tidak masuk hutan lindung. Situasinya bagi saya waktu cukup sulit, karena lokasinya jauh dan harus bermalam, padahal istri di rumah lagi hamil empat bulan. Dengan mempertimbangkan banyak hal, salah satunya karena butuh biaya untuk persiapan kelahiran anak pertama, liputan itu saya ambil. Beritanya terbit di halaman satu, lumayan honornya cukup banyak. Tapi bukan itu yang penting, disitu saya belajar tentang pengorbanan. Tiga pengalaman ini telah membentuk karakter saya sampai menjadi Kajati seperti sekarang.

Secara umum, jujur saja saya bangga dengan Kendari Pos. Media dengan tagline Santun dan Menginspirasi ini telah menjadi bagian penting pembangunan daerah. Ikut menentukan arah perpolitikan daerah, ekonomi dan sektor-sektor lainnya. Media ini juga sulit ditebak arah pemberitaannya, sehingga menarik untuk terus dibaca.

Saya juga melihat, beritanya berimbang dan selalu mengedepankan hal-hal positif. Saya yakin, kalau terus dipertahankan pola seperti ini, maka ke depan akan semakin besar, karena tidak akan ditinggalkan pembacanya. Dan saya merasa bahagia bisa menjadi bagian penting di dalamnya, meski hanya sesaat (Pemred Sehari,red). (ing)

Kajati Sultra Azhari, SH.,MH

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top