Pengungsi Gunung Agung Tembus 62 Ribu Jiwa – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Nasional

Pengungsi Gunung Agung Tembus 62 Ribu Jiwa

Sepekan lebih status Gunung Agung awas, jumlah pengungsi terus bertambah. Data BPBD Bali, sampai Senin (4/12), sekira 62.330 warga Karangasem mengungsi. Foto: JPNN

KENDARIPOS.CO.ID — Sepekan lebih status Gunung Agung awas, jumlah pengungsi terus bertambah. Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, sampai Senin (4/12) tidak kurang 62.330 warga Karangasem mengungsi. Namun, belum semua mendapat bantuan secara optimal. Misalnya pengungsi di UPT Pertanian Rendang. Mereka harus membangun tenda sendiri. Selain itu, kebutuhan lain seperti air bersih juga belum seluruhnya terpenuhi.

Menurut Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, sampai saat ini pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan pengungsi. ”Kami sedang menyiapkan tandon-tandon air, mobil-mobil tangki, untuk mengedrop air bersih ke tempat-tempat itu,” ungkap dia ketika diwawancarai senin (4/12). Orang nomor satu di Bali itu mengapresiasi pengungsi yang membangun tenda sendiri. Dia mengakui, tidak semua persoalan terpantau oleh pemerintah.

Namun demikian, bukan berarti Pemprov Bali lepas tanggung jawab. Pastika menegaskan bahwa distribusi bantuan tidak berhenti dialirkan. Termasuk tenda yang sempat dilaporkan kurang. Lantara hujan semakin sering mengguyur, dia juga mengibau pengungsi memanfaatkan gedung milik pemerintah atau banjar desa. ”Karena kalau di atas tanah, tenda itu potensi bocornya tinggi. Jadi, kurang sehat,” ucap mantan Kapolda Bali itu.

Menurut Pastika, gedung-gedung tersebut cukup apabila dipakai menampung pengungsi. Sebab, lebih dari 50 desa di Karangasem tidak masuk zona bahaya. ”Jadi, saya kira itu cukup,” imbuhnya. Selain menekan potensi terserang penyakit, pemanfaatan gedung pemerintah juga bisa menekan dampak abu vulkanis. Tidak hanya itu, dengan menggunakan gedung pemerintah, jumlah pengungsi yang mengandalkan tenda berkurang.

Meski hasil pemantauan visual Gunung Agung terlihat lebih tenang dari sebelumnya, namun potensi terjadi letusan lebih besar masih ada. Pastika menyampaikan itu usai mendatangi Pos Pengamatan Gunung Api Agung senin (4/12). ”Bahwa kemungkinan akan terjadi erupsi (lagi) masih cukup besar,” ungkap dia. Untuk itu, masyarakat maupun pemerintah harus siap berhadapan dengan segala kemungkinan. Termasuk di antaranya kemungkinan terburuk.

Soal masyarakat yang masih tetap bertahan berada di zona berbahaya, Pastika meminta mereka segera meninggalkan lokasi tersebut. Sebab, fatal akibatnya jika telat sedikit saja keluar dari kawasan rawan bencana (KRB). Apalagi yang tinggal di zona merah. ”Jadi, kami minta pengertiannya. Ikuti petunjuk-petunjuk yang ada,” pinta pria berperawakan tinggi itu. Salah satu petunjuk yang dia maksud adalah rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Kasubbid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana menjelaskan bahwa rekomendasi yang dikeluarkan oleh instansinya belum berubah. Zona bahaya yang mereka tetapkan masih dalam radius 8 kilometer dan perluasan sektoral 10 kilometer dari puncak Gunung Agung. ”Makanya status Gunung Agung masih level IV atau awas,” kata pria yang akrab dipanggil Devy itu. Menurut dia rekomendasi tersebut dibuat berdasar berbagai data yang dihimpun selama gunung tertinggi di Bali itu berada dalam fase erupsi.

Hasil pengukuran geokimia terakhir yang dilakukan oleh PVMBG, kandungan SO2 atau sulfur dioksida yang keluar dari puncak kawah Gunung Agung kembali meningkat. Bahkan, angkanya mencapai 1.300 ton per hari. Sebagai perbandinga, kata Devy, angka itu jauh lebih besar ketimbang kandungan sulfur dioksida yang keluar dari Gunung Sinabung. ”Kalau kami lihat, di Gunung Sinabung itu gas SO2 sekitar 300 sampai 500 ton per hari,” jelas dia.

Devy menjelaskan, kandungan sulfur dioksida yang keluar dari puncak kawah Gunung Agung mengindikasikan masih terdapat kontribusi gas magmatik yang tinggi dari dalam perut gunung tersebut. ”Karena itu, kami menyimpulkan bahwa potensi untuk terjadinya erupsi masih ada,” kata Devy. Selain indikator dari pengukuran geokimia, indikator lain tampak dari perhitungan gempa vulkanik serta citra satelit. Sampai senin (4/12), masih terjadi berbagai gempa vulaknik. (syn/jpg)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top