Mengenal Suprik La Nia, Pemuda 27 Tahun yang Mendirikan Kampung Quran di Pelosok Muna – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Muna

Mengenal Suprik La Nia, Pemuda 27 Tahun yang Mendirikan Kampung Quran di Pelosok Muna


Suprik La Nia (pakai kopiah putih), pose bersama anak didiknya. Meski usianya baru 27 tahun, namun keinginannya untuk mengenalkan kalimat Allah kepada anak-anak muda begitu besar. Puncaknya, dia mendirikan kampung quran di Desa Mantobua, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna. Foto : La Ode Alvin/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — “Bacalah Alquran, kelak pada hari kiamat, dia akan datang untuk memberi syafa’at kepada orang yang banyak membacanya (HR Muslim). Hadis itu menjadi motivasi bagi Suprik La Nia dalam menyebarkan kalimat Allah. Puncaknya, dia mendirikan kampung quran di Desa Mantobua, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna.

La Ode Alfin, Buton

Saban hari, sebelum fajar menyingsing, ia sudah memulai aktivitasnya. Menjadi imam salat subuh di Masjid Nurul Hidayah, Desa Mantobua. Usai memandu jamaah menghadap sang Khalik, puluhan anak akan segera menghampirinya. Satu per satu memberikan setoran hafalan quran yang sudah ditugaskan. Satu anak, harus menyetor 5 sampai 10 ayat dari surat-surat pendek setiap kali pertemuan. Begitu dilakoninya, hingga mentari mulai terang, penanda “ngaji subuh” harus bubar. Anak-anak harus segera bersiap ke sekolah.

Jika ufuk barat mulai memerah, jadwal ngaji sore bakal segera dimulai lagi. Kali ini, muridnya lebih banyak, ada 150 orang yang harus diajari mengeja kalam Allah tersebut. Tentu saja usai Maghrib ditunaikan, lagi-lagi ia imamnya, seperti halnya salat lima waktu lainnya. Saat acara ngaji sore, ia dibantu guru ngaji yang lebih dulu di kader sebelumnya. Jumlah tenaga pengajar 17 orang, mereka membantu mendidik anak-anak untuk mengenal hukum bacaan quran di buku Iqra.

Kegiatan itu menjadi rutinitas anak muda usia 27 tahun ini. Ia kukuh membangkitkan ghirah anak usia dini pada kitab suci Alquran, panduan hidup dunia akhirat. Semangatnya sudah dirintis sejak setahun belakangan. Kini berkat usahanya, masjid desanya menjadi makmur jamaah. Dimana untuk ukuran masjid yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan (pelosok), jamaah salat biasanya hanya 30 sampai 40-an orang. Kini, sejak aktivitas cinta quran dikampanyekan di tengah masyarakat, jamaah masjid bertambah empat kali lipat. Sekali salat, 150-an jamaah bisa menjadi makmumnya, terutama di malam hari.

Sejak awal, anak muda jebolan pesantren Daar Elwihdah, Sragen Jawa Tengah adalah membangun Kampung Quran di Desanya, yakni Desa Mantobua, Kecamatan Lohia Kabupaten Muna. Sebuah desa yang berjarak 9 km dari pusat kota Raha dengan jumlah penduduk 1.500 jiwa. Berkat dukungan keluarga dan pemuda sevisinya, akhirnya bisa merealisasikan hal itu.
Meskipun pada awalnya sempat diremehkan kemampuannya. Maklum karena usianya masih muda. Namun, kini cibiran itu berbalik menjadi pujian dari masyarakat.

Berbekal sebagai hafiz quran sejak usia 17 tahun, ia bertekad menjadikan generasi dini kampungnya tumbuh dengan akhlak quran. Usaha yang keras ditapaki, karena harus rela meninggalkan kesempatan membangun karir seperti anak muda kebanyakan. Saban hari, separuh waktunya hanya untuk mengajar anak-anak mengaji. “Tidak ada yang bisa kami banggakan sebagai seorang hafiz selain melahirkan hafiz-hafiz berikutnya,” ujar anak muda bernama lengkap Suprik La Nia ini. Meski demikian, di kampungnya ia akrab disapa Pak ustaz. Sapaan penghargaan sebagai guru yang telah mendidik banyak anak.

“Kampung quran adalah sebuah identitas. Saya harapkan, setiap anak akan tumbuh dengan panduan quran. Sekarang sudah 150 lebih anak yang aktif mengaji. Rata-rata masih di Iqra, tapi beberapa sudah bisa menghafal satu juz. Usia mereka masih belia, antara 5 sampai 15 tahun,” sambung pria yang menjadi langganan juara MTQ dan STQ Sultra. Ia kerap mewakili provinsi Sultra berlaga di tingkat nasional. Diantaranya saat STQ nasional di Jakarta 2009 dan MTQ nasional di Bengkulu tahun 2010. Selain itu, prestasi terakhirnya menjadi juara satu MTQ cabang hafalan Alquran 30 juz dan tafsir bahasa Indonesia di Sulawesi Utara, 2016 lalu.

Hafiz kelahiran 25 Agustus 1990 itu, kini fokus mengembangkan gagasan kampung qurannya. Untuk itu, ia tengah membangun komunikasi bersama Komunitas Rumah Hijau Indonesia Kabupaten Muna dan Kampoeng Pintar Jogjakarta. Pria yang malang melintang di dunia pesantren ini berharap, ide membangun kampung quran bisa didukung oleh para dermawan. “Alhamdulilah, pemerintah desa dan kecamatan sangat mendukung program ini. Selanjutnya kami harap semakin banyak yang bergabung di gerakan amal ibadah ini,” katanya. Kelak, jika kampung quran sukses, ia bermimpi membangun sebuah pesantren untuk mengajari generasi muda supaya paham dengan Islam terutama Alquran.

Dirinya ingin melahirkan bibit muda yang bisa berprestasi dan berakhlakul karimah. “Saya hanya berharap ridha Allah SWT saja. Dengan begini, kampung kami Insyaallah berkah dan tentram. Semakin banyak yang cintai quran, Allah semakin cinta juga dengan kampung tersebut,” jelasnya. Selain rutin baca Alquran berjamaah, anak didiknya juga diajari tilawah, seni membaca quran dengan berbagai teknik. “Disini kami didik anak-anak akrab dengan quran. Setiap kali ke masjid, mereka harus meneteng qurannya. Cara sederhana yang bisa menjalin kedekatan anak dengan kitab sucinya. Sebisa mungkin, kami minta mereka tidak terlalu aktif dengan handphone atau gadget,” terangnya.

Kini ia berharap, ada dermawan dan dermawati yang mau mendonasikan quran kepada anak didiknya. Sebab, di masjid tempatnya menempa Islam tumbuh dihati generasi, hanya ada 50 buah quran, itupun berkat sumbangan dari tim safari revolusi mental dari Kementerian PMK RI. “Kami sangat berharap ada yang tersentuh. Kami sangat butuh quran untuk membantu anak-anak mengaji,” imbuhnya.

Kondisi ini sebenarnya menjadi peluang bagi dermawan untuk berderma. Terutama pemerintah daerah tentunya, supaya memperhatikan kondisi warganya. tanpa disadari, sebenarnya yang dilakukan Suprik La Nia sudah membantu pemerintah, khususnya dalam hal pendidikan moral anak bangsa. Lembaga terkait, seperti Kementerian Agama harusnya peka dengan persoalan ini. Bupati Muna, Rusman Emba juga pastinya akan sangat senang dan mendukung program pembinaan keagamaan seperti itu. (b/*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top